Aku Memilih Melangkah (PART VII)

Tulisan ini ditulis sebelum kenyataan mengubah arah perjalananku. Aku memilih menerbitkannya apa adanya, sebagai kenangan tentang seseorang yang pernah begitu percaya pada mimpinya.

Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi Setelah Bertahun-Tahun Bertahan 

Bab 7: Jika Aku Gagal

Mungkin aku gagal. Mungkin aku tidak berhasil mencapai apa yang kuinginkan.

Mungkin jalan yang kupilih tidak membawaku ke tempat yang selama ini kubayangkan. Mungkin setelah semua usaha, semua persiapan, semua keberanian yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, hasil akhirnya tidak sesuai dengan harapan.

Mungkin aku akan menemukan bahwa kenyataan jauh lebih rumit daripada rencana yang aku susun di atas kertas.

Mungkin aku akan mengalami hari-hari ketika semuanya terasa berat. Hari-hari ketika aku mempertanyakan keputusanku sendiri. Hari-hari ketika aku melihat orang lain melangkah lebih cepat sementara aku masih berusaha berdiri setelah jatuh.

Karena hidup memang seperti itu. Tidak ada perjalanan yang selalu berjalan mulus. Tidak ada mimpi yang datang tanpa harga. Tidak ada perubahan besar yang lahir tanpa risiko. Dan aku memahami itu.

Aku tahu bahwa keberanian bukan tiket menuju keberhasilan. Keberanian hanya memberiku kesempatan untuk mencoba. Sisanya tetap harus diperjuangkan. Tetap harus dijalani. Tetap harus diterima apapun hasilnya.

Mungkin aku tidak berhasil mencapai apa yang kuinginkan. Mungkin aku berangkat dengan begitu banyak harapan, lalu menemukan bahwa dunia tidak selalu memberikan apa yang kita minta.

Mungkin aku membayangkan diriku akan menjadi seseorang yang berbeda dalam waktu singkat, tetapi ternyata perubahan membutuhkan waktu lebih lama daripada yang kubayangkan.

Mungkin aku berharap menemukan jawaban, tetapi justru menemukan lebih banyak pertanyaan. Mungkin aku berharap menjadi lebih kuat, tetapi di tengah perjalanan aku justru menyadari betapa rapuhnya diriku.

Namun bukankah itu juga bagian dari kehidupan?

Bukankah tumbuh memang sering kali berarti menyadari bahwa kita tidak tahu segalanya?

Bukankah menjadi dewasa berarti menerima bahwa tidak semua usaha akan berakhir sesuai rencana?

Aku pikir selama ini aku terlalu sering melihat keberhasilan sebagai satu-satunya tujuan. Seolah-olah perjalanan hanya berharga jika berakhir dengan kemenangan. Seolah-olah langkah hanya berarti jika sampai di garis akhir yang sempurna.

Padahal semakin bertambah usia, semakin aku mengerti bahwa hidup tidak sesederhana itu. Kadang-kadang nilai sebuah perjalanan bukan terletak pada hasil akhirnya. Melainkan pada siapa kita menjadi selama menjalaninya. Karena ada banyak hal yang tidak bisa diukur dengan sertifikat, jabatan, uang, atau pencapaian.

Ada pelajaran yang hanya bisa dipahami setelah mengalami kegagalan.

Ada keberanian yang hanya lahir setelah menghadapi ketakutan. 

Ada kedewasaan yang hanya muncul setelah melalui kesulitan. 

Dan ada versi diri yang lebih kuat yang hanya bisa ditemukan ketika kita berani keluar dari tempat yang nyaman.

Mungkin hidupku tidak berubah sebanyak yang kubayangkan. Mungkin setelah semua perjuangan, aku tetap menjadi orang yang sederhana. Mungkin aku tidak menjadi kaya. Mungkin aku tidak menjadi terkenal.  Mungkin aku tidak mencapai semua target yang pernah kutulis. Mungkin tidak ada cerita spektakuler yang bisa kubagikan kepada orang lain.

Tetapi siapa yang mengatakan bahwa hidup harus spektakuler untuk menjadi berarti?

Bukankah terkadang perubahan terbesar justru terjadi di dalam diri seseorang?

Perubahan yang tidak terlihat oleh dunia. Perubahan yang tidak mendapatkan tepuk tangan. Perubahan yang tidak masuk media sosial.  Perubahan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. 

Mungkin aku tetap hidup sederhana. Tetapi aku menjadi lebih berani.

Mungkin aku tidak mendapatkan semua yang kuinginkan. Tetapi aku belajar bertanggung jawab atas pilihanku.

Mungkin aku tidak mencapai semua impianku. Tetapi aku belajar menghadapi dunia tanpa terus bersembunyi di balik ketakutan.

Dan bagiku, itu sudah merupakan perubahan yang besar. Karena ada banyak orang yang hidup bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar mengenal dirinya sendiri.

Mereka menjalani hidup yang aman. Mereka mengikuti jalan yang sudah ditentukan. Mereka menghindari risiko. Mereka menghindari kegagalan. Tetapi mereka juga menghindari kemungkinan.

Menghindari pertumbuhan. Menghindari kesempatan untuk menemukan siapa diri mereka sebenarnya. 

Aku tidak ingin hidup seperti itu.

Aku tidak ingin menghabiskan hidup hanya dengan menjaga agar semuanya tetap aman. Karena hidup yang terlalu aman terkadang menjadi penjara yang tidak terlihat.

Kita merasa nyaman. Tetapi diam-diam kita berhenti berkembang. Kita merasa terlindungi. Tetapi diam-diam kita kehilangan keberanian. Kita merasa tenang. Tetapi diam-diam kita mulai menerima kehidupan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kita inginkan.

Aku tidak ingin suatu hari nanti menyadari bahwa ketakutanku telah mengambil terlalu banyak hal dariku.

Bahwa karena takut gagal, aku tidak mencoba. Bahwa karena takut ditolak, aku tidak melangkah. Bahwa karena takut kehilangan, aku tidak pernah mencari.

Bahwa karena takut jatuh, aku memilih tidak berjalan sama sekali. Karena jika dipikir-pikir, ketakutan memiliki cara yang sangat halus untuk mencuri masa depan seseorang.

Ia tidak selalu menghentikan kita secara paksa.

Ia hanya membisikkan alasan-alasan yang terdengar masuk akal.

"Nanti saja."

"Tunggu sampai lebih siap."

"Tunggu sampai uangmu cukup."

"Tunggu sampai semuanya pasti."

"Tunggu sampai tidak ada risiko."

Dan tanpa sadar, tahun demi tahun berlalu.

Kesempatan datang lalu pergi. Usia terus bertambah. Sementara kita masih menunggu waktu yang sempurna. Padahal waktu yang sempurna mungkin tidak pernah ada. Karena hidup selalu mengandung ketidakpastian.

Selalu ada risiko.

Selalu ada kemungkinan gagal.

Selalu ada kemungkinan kecewa.

Jika aku menunggu sampai tidak ada rasa takut, mungkin aku tidak akan pernah bergerak. Jika aku menunggu sampai semuanya pasti, mungkin aku tidak akan pernah memulai. Karena itu aku mulai memahami bahwa keberanian bukan berarti merasa siap. 

Keberanian adalah bergerak meskipun belum sepenuhnya siap. Keberanian adalah melangkah sambil membawa keraguan. Keberanian adalah menerima kemungkinan gagal tetapi tetap memilih berjalan. Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar gagal, setidaknya aku tahu bahwa kegagalan itu lahir dari usaha.

Bukan dari ketakutan. Bukan dari menyerah sebelum mencoba. Bukan dari memilih diam.

Aku lebih rela menghadapi kegagalan yang nyata daripada hidup dengan penyesalan yang terus menghantui. Karena kegagalan memiliki akhir.

Suatu hari kita bisa berdamai dengannya. Suatu hari kita bisa bangkit kembali. Suatu hari kita bisa mengambil pelajaran darinya. Tetapi penyesalan seringkali bertahan jauh lebih lama.

Ia muncul di waktu-waktu yang tidak terduga. Ia datang ketika kita melihat orang lain berhasil melakukan sesuatu yang dulu ingin kita lakukan. Ia datang ketika kita mengenang kesempatan yang pernah ada.  Ia datang ketika kita sadar bahwa alasan kita berhenti bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak berani. Dan itulah yang paling menyakitkan.

Aku membayangkan diriku beberapa puluh tahun dari sekarang.  Rambutku mungkin sudah mulai memutih. Wajahku mungkin sudah dipenuhi tanda-tanda waktu.

Aku duduk suatu sore, melihat perjalanan hidup yang telah kulalui. Pada saat itu, aku tidak akan terlalu peduli berapa banyak uang yang kumiliki.  Aku tidak akan terlalu peduli berapa banyak orang yang mengenalku. Aku tidak akan terlalu peduli berapa banyak pencapaian yang pernah ku torehkan.

Yang mungkin akan kupikirkan adalah hal yang jauh lebih sederhana.

Apakah aku hidup sesuai dengan keberanianku?

Apakah aku memberi diriku kesempatan untuk mencoba?

Apakah aku menghormati mimpi-mimpi yang pernah tumbuh di dalam diriku?

Atau justru aku membiarkan semuanya mati karena rasa takut?

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang hasil. Hidup juga tentang kesempatan. Tentang pilihan. Tentang keberanian untuk berkata, "Aku akan mencoba."

Bahkan ketika tidak ada jaminan. Bahkan ketika jalan di depan terlihat kabur. Bahkan ketika banyak orang meragukan. Bahkan ketika diri sendiri masih dipenuhi ketakutan. Dan jika suatu hari nanti aku melihat ke belakang, aku ingin bisa berkata:


"Aku sudah melakukan yang terbaik."

Bukan:

"Aku berharap dulu aku mencoba."


Aku ingin mengingat hidupku sebagai kumpulan langkah yang pernah kuambil. Bukan kumpulan alasan yang membuatku berhenti. 

Aku ingin mengingat diriku sebagai seseorang yang berani mengambil risiko. Bukan seseorang yang terus bersembunyi di balik kenyamanan.

Aku ingin mengingat bahwa ketika kesempatan datang, aku menyambutnya. 

Bahwa ketika jalan baru terbuka, aku berani melangkah.

Bahwa ketika mimpi memanggil, aku setidaknya mencoba menjawab.

Karena tidak semua orang diberi keberhasilan. Tetapi setiap orang diberi pilihan.

Pilihan untuk mencoba atau menyerah sebelum memulai.

Pilihan untuk melangkah atau tetap diam.

Pilihan untuk hidup dengan pengalaman atau hidup dengan penyesalan. 

Dan jika aku harus memilih, aku akan memilih pengalaman. Aku akan memilih perjalanan. Aku akan memilih segala pelajaran, kesulitan, dan ketidakpastian yang datang bersama keberanian. Karena semua itu masih lebih ringan daripada membawa satu pertanyaan yang sama sepanjang hidup.

Pertanyaan yang terus muncul setiap kali aku melihat ke belakang.

Pertanyaan yang tidak pernah memiliki jawaban karena aku tidak pernah memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk mencari tahu.

Pertanyaan yang sederhana, tetapi mampu menghantui seseorang selama bertahun-tahun:

"Bagaimana kalau dulu aku berani?"

Dan itulah mengapa, meskipun aku takut, meskipun aku ragu, meskipun aku tidak tahu apa yang menungguku di depan sana, aku tetap ingin melangkah. Bukan karena aku yakin akan berhasil. Tetapi karena aku tidak ingin hidup selamanya dengan membayangkan kehidupan yang mungkin bisa terjadi.

Aku ingin mengetahuinya sendiri.

Aku ingin mengalaminya sendiri.

Aku ingin melihat sejauh apa aku bisa pergi.

Dan jika akhirnya aku gagal, jika akhirnya aku harus memulai lagi dari nol, jika akhirnya hidupku tidak berubah sebanyak yang kuharapkan, maka setidaknya aku akan memiliki satu hal yang tidak bisa diambil oleh siapa pun: Keyakinan bahwa aku pernah berani mencoba.

Dan bagiku, itu jauh lebih berharga daripada hidup yang aman tetapi dipenuhi penyesalan.

Jauh lebih berharga daripada kenyamanan yang dibayar dengan mimpi yang tidak pernah diperjuangkan. Jauh lebih berharga daripada menghabiskan sisa hidup bertanya:

"Bagaimana kalau dulu aku berani?"


Aku Hanya Sedang Berjalan

Aku tidak meminta orang lain memahami seluruh alasanku.

Aku menyadari bahwa tidak semua keputusan dalam hidup dapat dijelaskan dengan mudah. Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh orang yang benar-benar menjalaninya. Ada pergulatan yang terlalu sunyi untuk diceritakan, terlalu rumit untuk dirangkum dalam beberapa kalimat, dan terlalu pribadi untuk sepenuhnya dimengerti oleh orang lain. Karena itulah, aku tidak lagi berusaha menjelaskan semuanya. Aku tidak meminta semua orang mendukung keputusanku.

Aku tahu bahwa setiap orang memandang hidup dari sudut pandangnya masing-masing. Mereka memiliki pengalaman, ketakutan, harapan, dan nilai-nilai yang berbeda. Apa yang menurutku adalah sebuah kesempatan, mungkin bagi orang lain terlihat sebagai sebuah risiko. Apa yang bagiku adalah keberanian, mungkin bagi mereka tampak seperti kecerobohan.

Aku memahami itu. Aku juga tidak meminta semua orang setuju. 

Sebab aku sadar, persetujuan orang lain bukanlah syarat mutlak agar aku dapat melangkah. Jika aku terus menunggu semua orang memahami, mendukung, dan menyetujui setiap langkahku, mungkin aku tidak akan pernah benar-benar bergerak.

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya demi memenuhi harapan orang lain.

Aku hanya ingin mereka mengetahui satu hal. Aku tidak sedang lari.

Aku tidak sedang melarikan diri dari tanggung jawab. Aku tidak sedang meninggalkan semuanya karena merasa lelah. Aku tidak sedang mencari jalan pintas agar hidup menjadi lebih mudah.

Justru sebaliknya.

Aku memilih jalan ini karena aku sadar bahwa jalan di depanku mungkin akan jauh lebih sulit. Aku tahu akan ada ketidakpastian. Akan ada rasa takut. Akan ada malam-malam panjang yang dipenuhi keraguan.

Tetapi aku tetap memilih berjalan. Karena terkadang, bertahan di tempat yang sama justru jauh lebih menyakitkan daripada menghadapi ketidakpastian.

Aku juga tidak sedang menyerah.

Banyak orang menganggap perubahan sebagai bentuk kekalahan. Seolah-olah meninggalkan sesuatu berarti gagal mempertahankannya.

Namun bagiku, menyerah bukanlah tentang berpindah jalan. Menyerah adalah ketika seseorang berhenti bermimpi. Menyerah adalah ketika seseorang membiarkan ketakutan menguasai seluruh hidupnya. Menyerah adalah ketika seseorang memilih tinggal di tempat yang membuatnya tidak lagi bertumbuh hanya karena takut menghadapi hal baru.

Dan aku belum sampai di titik itu.

Aku masih memiliki mimpi.
Aku masih memiliki harapan.
Aku masih memiliki keinginan untuk menjadi versi diriku yang lebih baik.

Karena itu, aku memilih melangkah. 

Aku juga tidak sedang bertindak impulsif. Keputusan ini bukanlah keputusan yang lahir dalam semalam. Ini bukan keputusan yang dibuat karena emosi sesaat. Bukan pula keputusan yang muncul karena satu kejadian buruk. 

Keputusan ini lahir dari perjalanan yang panjang. Dari hari-hari yang dipenuhi pertanyaan. Dari malam-malam ketika aku sulit tidur karena terus memikirkan masa depan.

Dari rasa takut yang datang berulang kali. Dari keraguan yang berkali-kali memintaku untuk tetap tinggal. Dari pertimbangan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Aku telah memikirkannya berkali-kali. Aku telah mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Aku telah mencoba bertahan selama yang aku mampu. Dan setelah semua proses itu, aku sampai pada satu kesimpulan: Aku harus mencoba.

Karena ada sesuatu dalam diriku yang terus memanggil. Sebuah suara kecil yang tidak pernah benar-benar hilang. 

Suara yang terus berkata bahwa hidup ini memiliki kemungkinan yang lebih luas daripada apa yang selama ini aku jalani. Suara yang terus mengingatkanku bahwa aku masih memiliki banyak hal untuk dipelajari, banyak tempat untuk dijelajahi, dan banyak pengalaman yang belum pernah kurasakan.

Mungkin suara itu adalah mimpi. Mungkin itu adalah harapan. Atau mungkin, itu adalah diriku sendiri yang selama ini terlalu lama menunggu untuk didengarkan.
 
Aku hanya sedang berjalan. Berjalan menuju kemungkinan yang selama ini kupendam. 

Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan berbagai pertanyaan.

Bagaimana jika aku mencoba?
Bagaimana jika aku berani melangkah?
Bagaimana jika aku keluar dari zona nyaman?
Bagaimana jika ternyata aku mampu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus ada di dalam pikiranku. Dan sekarang, aku tidak ingin lagi hidup hanya dengan "bagaimana jika".

Aku ingin mencari jawabannya.
Aku ingin melihat sendiri sejauh mana aku bisa melangkah.
Aku ingin mengetahui kemampuan diriku yang sebenarnya. 
Aku ingin memberi kesempatan kepada diriku sendiri.
 
Karena setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba. Aku juga sedang berjalan menuju mimpi yang terlalu lama kutunggu. Mimpi itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Tetapi bagiku, mimpi itu sangat berarti.

Sebab mimpi itu bukan hanya tentang pekerjaan, gelar, atau pencapaian. Mimpi itu adalah tentang pertumbuhan. Tentang menjadi pribadi yang lebih mandiri. Tentang membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku mampu bertahan dalam situasi yang baru. Tentang belajar menghadapi dunia dengan keberanian yang lebih besar. Tentang menemukan versi diriku yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Aku tidak tahu apakah perjalanan ini akan mudah. Kemungkinan besar tidak. Akan ada hari ketika aku merasa sangat lelah. Akan ada hari ketika aku meragukan keputusan ini. Akan ada saat ketika aku merasa ingin kembali ke kehidupan lama yang terasa lebih aman dan familiar.

Tetapi aku percaya, setiap perjalanan besar memang selalu disertai rasa takut. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada. Aku juga sedang berjalan menuju kehidupan yang semoga lebih baik. Aku tidak memiliki jaminan apa pun. 

Tidak ada kepastian bahwa semua akan berjalan sesuai rencana.
Tidak ada kepastian bahwa aku akan berhasil.
Tidak ada kepastian bahwa aku tidak akan mengalami kegagalan.
Tetapi hidup memang tidak pernah menawarkan kepastian.

Yang bisa kulakukan hanyalah mempersiapkan diri sebaik mungkin, bekerja sekeras mungkin, dan menerima apapun hasil akhirnya dengan lapang dada.  Karena pada akhirnya, tidak mencoba juga merupakan sebuah risiko. Dan bagiku, risiko terbesar adalah hidup dengan penyesalan.

Penyesalan karena tidak pernah berani memulai.
Penyesalan karena terlalu takut untuk mencoba.
Penyesalan karena membiarkan kesempatan berlalu begitu saja.

Aku tidak ingin menjalani hidup dengan terus bertanya: "Bagaimana jika dulu aku berani?"

Aku ingin suatu hari nanti dapat melihat kembali perjalanan ini dan berkata:
"Aku sudah melakukan yang terbaik."

Dan jika suatu hari nanti aku berhasil, aku akan bersyukur. Aku akan mengingat semua rasa takut yang pernah kurasakan. Aku akan mengingat semua air mata, kecemasan, dan keraguan yang pernah menyertaiku. Aku akan mengingat semua orang yang mendukungku. Aku akan mengingat semua proses panjang yang membawaku sampai ke titik itu. Karena keberhasilan tidak pernah datang secara instan. Ia lahir dari keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus bertahan.

Namun jika suatu hari aku gagal, aku akan belajar. Aku akan menerima bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan. Aku akan menjadikannya pelajaran, bukan akhir dari segalanya. Sebab gagal bukan berarti aku tidak berharga.

Gagal hanya berarti ada hal-hal yang masih perlu dipelajari. Dan selama aku masih mau bangkit, selama aku masih mau mencoba lagi, maka tidak ada kegagalan yang benar-benar sia-sia. Pada akhirnya, apa pun hasil dari perjalanan ini, aku ingin selalu mengingat satu hal: Aku pernah cukup berani untuk mencoba.
Di saat banyak ketakutan berusaha menahanku, aku tetap melangkah. Di saat keraguan terus datang, aku tetap berjalan. Di saat masa depan terlihat begitu samar, aku tetap memilih berharap. Dan mungkin, pada akhirnya, keberanian itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Karena hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah. Tetapi juga tentang apakah kita berani mengambil langkah pertama. Dan hari ini, aku memilih untuk melangkah. 

Aku hanya sedang berjalan.

Posting Komentar

0 Komentar