Tentang Kebahagiaan yang Tidak Berani Aku Miliki
Some beautiful things are only meant to be admired, not owned.
Semua orang pasti tahu pelangi, kan?
Sejak kecil kita sering mendengar kalimat, “Setelah hujan ada pelangi.”
Sebuah kalimat sederhana yang terdengar seperti janji. Bahwa setelah langit mendung, setelah hujan turun, setelah semuanya terasa dingin dan gelap, akan selalu ada sesuatu yang indah datang.
Tapi semakin dewasa, aku menyadari satu hal.
Pelangi memang datang setelah hujan, tetapi ia tidak pernah tinggal terlalu lama.
Ia hanya muncul sebentar.
Tidak bisa disentuh.
Tidak bisa digenggam.
Tidak bisa disimpan untuk dilihat kembali ketika kita merindukannya.
Kita hanya bisa memandangnya dari kejauhan, mengagumi warnanya, lalu menerima kenyataan bahwa suatu saat ia akan menghilang.
Mungkin seperti itulah kamu.
Atau mungkin, seperti itulah perasaan ini.
Aku tidak pernah merencanakan kehadiranmu. Bahkan jika boleh jujur, aku tidak pernah benar-benar membuka pintu untuk seseorang datang ke dalam hidupku. Aku sudah cukup nyaman dengan duniaku sendiri. Dengan hari-hari yang berjalan biasa saja, dengan kesibukan yang terkadang melelahkan, dan dengan hidup yang mungkin tidak sempurna tetapi setidaknya bisa aku kendalikan.
Lalu kamu datang.
Tidak dengan cara yang luar biasa. Tidak ada pertemuan dramatis seperti dalam film. Tidak ada tatapan pertama yang membuat dunia berhenti berputar.
Bahkan lucunya, aku belum pernah melihatmu berdiri di hadapanku.
Aku hanya mengenalmu melalui kata-kata.
Melalui percakapan-percakapan sederhana.
Melalui caramu bertanya bagaimana hariku.
Melalui perhatian kecil yang mungkin sebenarnya tidak berarti apa-apa.
Tapi entah kenapa, semua itu cukup untuk membuatku merasa hangat.
Dan mungkin di situlah kebodohanku dimulai.
Aku tahu kata-kata bisa berbohong.
Aku tahu seseorang bisa terlihat baik hanya melalui layar.
Aku tahu perhatian tidak selalu berarti ketulusan.
Bisa saja semua yang kamu katakan hanyalah rangkaian kata manis untuk membuatku percaya. Bisa saja aku hanya salah satu dari banyak orang yang pernah menerima perlakuan yang sama.
Aku tahu semua kemungkinan itu.
Tapi untuk saat ini, entah kenapa aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Bukan karena aku tidak sadar.
Justru karena aku terlalu sadar.
Aku tahu ada banyak hal yang tidak mungkin di antara kita. Terlalu banyak perbedaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan rasa nyaman. Jalan hidup kita sudah berjalan terlalu jauh ke arah yang berbeda.
Aku tahu kenyataan tidak selalu seindah imajinasi.
Dan mungkin, sejak awal aku sudah tahu bahwa cerita ini tidak memiliki akhir yang bisa aku perjuangkan.
Ironisnya, dalam imajinasiku, kamu adalah sosok yang selama ini aku cari.
Kamu memiliki beberapa hal yang mungkin selama ini aku butuhkan. Kehangatan. Perhatian. Seseorang untuk berbagi cerita setelah hari yang panjang.
Tapi kemudian aku menyadari sesuatu yang cukup menyakitkan.
“Mungkin kamu adalah seseorang yang aku butuhkan, tetapi bukan kamu yang aku inginkan.”
Aku tahu aku harus berhenti.
Mungkin sekarang.
Sebelum semuanya berubah menjadi terlalu dalam.
Sebelum rasa nyaman berubah menjadi ketergantungan.
Sebelum percakapan sederhana berubah menjadi harapan.
Sebelum salah satu dari kami mulai membayangkan masa depan yang sebenarnya tidak pernah bisa kami jalani bersama.
Aku tahu aku seharusnya pergi sebelum terlambat.
Tapi saat ini, kami masih baik-baik saja.
Tidak ada yang terluka.
Tidak ada janji yang harus ditepati.
Tidak ada hubungan yang harus diberi nama.
Dan mungkin karena itulah aku belum ingin merusaknya.
Untuk kali ini saja, izinkan aku menjadi sedikit egois.
Izinkan aku menutup mata dan telinga dari semua kemungkinan buruk yang mungkin datang setelah ini.
Aku tidak ingin bertanya kita akan menjadi apa.
Aku tidak ingin tahu kapan semuanya akan berakhir.
Aku tidak ingin menghitung seberapa besar kemungkinan aku akan terluka.
Aku hanya ingin menikmati pelangi ini sebentar.
Karena mungkin, kebahagiaan tidak selalu harus dimiliki.
Ada beberapa hal yang cukup dinikmati ketika ia masih ada.
Dan mungkin, suatu hari nanti, semua ini memang akan berakhir dengan sebuah perpisahan.
Dua orang yang bertemu di waktu yang salah.
Dengan kehidupan yang sudah berjalan ke arah berbeda.
Dengan terlalu banyak kenyataan yang tidak bisa dikalahkan oleh perasaan.
Mungkin nanti aku akan menertawakan kebodohan ini.
Mungkin nanti aku akan menangis karena pernah membiarkan diriku berharap.
Atau mungkin nanti, aku hanya akan mengingatmu sebagai seseorang yang pernah datang membawa sedikit warna ke dalam hari-hariku.
Tapi jika memang akhirnya harus seperti itu, aku ingin mengingat satu hal.
Bahwa setidaknya, aku pernah melihat pelangi.
Walaupun hanya sebentar.
Walaupun aku tahu aku tidak bisa menggenggamnya.
Walaupun sejak awal aku tahu ia tidak akan tinggal.
Jadi, sebelum langit kembali berubah dan warna-warna itu perlahan menghilang, izinkan aku menikmatinya sedikit lebih lama.
Tanpa bertanya kapan ia akan pergi.
Tanpa memohon agar ia tinggal.
Tanpa berusaha untuk memilikinya.
Karena aku tahu, beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk menjadi milik kita.
Namun bukan berarti kehadirannya tidak pernah berarti.
Dan entah kapan nanti, ketika langitku kembali mendung dan hujan kembali turun, mungkin aku akan mengingat bahwa aku pernah melihat sesuatu yang indah.
Aku pernah melihat pelangi.
Dan meskipun hanya sesaat, aku bersyukur pernah menikmatinya.
Karena aku tidak tahu...
kapan lagi pelangi akan datang untukku.
And maybe, that's enough

0 Komentar