Malam, Dunia. Aku Sedang Tidak Baik-Baik Saja: Tentang Lelah, Takdir, dan Kehilangan Arah
Malam, dunia.
Apa kabar kamu hari ini?
Aku?
Sudah pasti aku tidak baik-baik saja.
Entah kenapa malam ini rasanya aku ingin berbicara denganmu, dunia. Bukan karena aku berharap kamu akan menjawab. Mungkin karena aku sudah terlalu lama berbicara dengan diriku sendiri dan tidak menemukan jawaban apa pun.
Malam ini aku hanya ingin jujur.
Aku lelah.
Sangat lelah.
Dunia, terima kasih untuk semua pertarungan yang sudah kamu berikan kepadaku. Aku mengaku, kali ini aku kalah darimu.
Bukan karena aku tidak pernah mencoba melawan.
Bukan karena aku tidak pernah berusaha.
Aku hanya sudah tidak memiliki cukup energi untuk terus berdiri di medan yang sama.
Aku tidak tahu sejak kapan hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Setiap kali aku merasa sudah berjalan cukup jauh, tiba-tiba aku melihat orang lain berlari lebih cepat. Mereka sudah sampai di tempat yang bahkan masih menjadi bayangan dalam kepalaku.
Ada yang sudah memiliki pekerjaan impian.
Ada yang sudah menikah.
Ada yang sudah memiliki rumah.
Ada yang sudah membangun bisnis.
Ada yang melanjutkan pendidikan.
Ada yang pergi ke luar negeri.
Ada yang menemukan pasangan hidupnya.
Ada yang tampak begitu yakin dengan masa depannya.
Sementara aku?
Aku masih berdiri di sini.
Bertanya-tanya apakah jalan yang sedang aku tempuh benar-benar akan membawaku ke suatu tempat.
Dunia, Aku Tidak Pernah Bermaksud Menantangmu
Wahai dunia, sejujurnya aku tidak pernah bermaksud menantang kekuatanmu.
Aku hanya berusaha menjalani hidup.
Aku hanya ingin mencari kehidupanku sendiri.
Aku hanya ingin berjalan di jalanku, meskipun langkahku tidak secepat orang lain.
Aku tidak meminta jalan yang selalu mudah.
Aku tidak meminta kehidupan yang sempurna.
Aku hanya berharap perjalanan ini sesekali memberiku alasan untuk percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tetapi kenapa semuanya terasa serumit ini?
Kenapa sesuatu yang terlihat sederhana bagi orang lain terasa begitu berat bagiku?
Kenapa aku harus berulang kali mengumpulkan diriku sendiri setelah sesuatu yang kuharapkan ternyata tidak berjalan sesuai rencana?
Aku mencoba.
Sungguh.
Aku mencoba untuk tetap berpikir positif.
Aku mencoba menerima.
Aku mencoba bersabar.
Aku mencoba mengatakan kepada diriku sendiri bahwa setiap manusia memiliki waktunya masing-masing.
Bahwa tidak semua orang harus sampai di tujuan pada usia yang sama.
Bahwa hidup bukan perlombaan.
Bahwa aku tidak boleh membandingkan halaman hidupku dengan halaman hidup orang lain.
Aku tahu semua itu.
Tetapi mengetahui sesuatu tidak selalu membuat hati mampu menerimanya.
Kadang-kadang aku tahu bahwa aku seharusnya bersyukur, tetapi hatiku tetap merasa sedih.
Aku tahu bahwa aku harus bersabar, tetapi aku juga manusia yang bisa lelah menunggu.
Aku tahu bahwa setiap orang memiliki takdirnya masing-masing, tetapi tetap saja ada bagian kecil dalam diriku yang bertanya:
“Lalu, kapan giliranku?”
Apakah Aku Akan Mendapatkan Bagian yang Sama?
Dunia, bolehkah aku bertanya sesuatu?
Apakah aku akan mendapatkan bagian seperti mereka juga?
Apakah suatu hari nanti aku akan merasakan kehidupan yang selama ini hanya bisa kulihat dari kejauhan?
Apakah aku akan mendapatkan kesempatan untuk menang?
Apakah aku akan mendapatkan reward setelah semua perjalanan panjang ini?
Aku tidak meminta kehidupan orang lain.
Aku tidak ingin mengambil kebahagiaan siapa pun.
Aku hanya ingin tahu apakah dalam cerita hidupku sendiri akan ada satu bagian di mana aku akhirnya bisa berkata:
“Ternyata aku berhasil melewati semuanya.”
Karena selama ini aku lebih sering merasa menjadi orang yang bertahan daripada orang yang menang.
Aku belajar bagaimana caranya tetap berjalan ketika tidak tahu arah.
Aku belajar tersenyum ketika hati sedang berantakan.
Aku belajar mengatakan “aku baik-baik saja” ketika sebenarnya tidak.
Aku belajar menjadi kuat karena keadaan memaksaku untuk kuat.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar kupelajari:
Bagaimana rasanya hidup tanpa harus terus-menerus bertahan.
Mungkin itu sebabnya aku begitu lelah.
Aku bukan hanya lelah dengan hari ini.
Aku lelah dengan semua hari yang pernah kulewati sambil membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.
As Long As I Remember, yang Aku Punya Hanyalah Trauma
As long as I remember, yang aku punya hanyalah trauma.
Kenangan tentang hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapan.
Tentang kehilangan.
Tentang kegagalan.
Tentang keputusan yang salah.
Tentang kesempatan yang datang terlambat.
Tentang sesuatu yang kuinginkan tetapi tidak pernah benar-benar menjadi milikku.
Tentang diriku yang berkali-kali mengatakan, “Tidak apa-apa,” padahal sebenarnya tidak.
Mungkin karena terlalu lama menyimpan semuanya, aku akhirnya tidak tahu lagi bagaimana cara mengeluarkannya.
Ada begitu banyak keluhan yang berputar-putar di dalam kepala. Seperti angin puting beliung.
Berisik.
Kacau.
Tidak beraturan.
Tetapi ketika aku mencoba menuliskannya, semuanya tiba-tiba menghilang.
Aku tahu ada sesuatu yang ingin kukatakan.
Aku tahu ada sesuatu yang ingin kutangiskan.
Aku tahu ada sesuatu yang ingin kulepaskan.
Tetapi aku tidak tahu bagaimana mengubah kekacauan di kepalaku menjadi kata-kata yang jelas.
Maka malam ini, jemariku hanya menulis apa pun yang mampu mereka tuliskan.
Tidak rapi.
Tidak terstruktur.
Tidak indah.
Hanya jujur.
Aku Tidak Tahu Lagi Di Mana Jiwaku
Dunia, aku ingin bertanya lagi.
Di mana jiwaku?
Di mana mimpiku?
Di mana semangat yang dulu membuatku percaya bahwa suatu hari nanti aku akan memiliki kehidupan yang kuinginkan?
Di mana keberanianku?
Di mana ruang untukku?
Dan di mana titik tujuanku?
Aku seperti berjalan tanpa peta.
Aku terus bergerak karena berhenti terasa menakutkan.
Tetapi semakin lama aku berjalan, semakin aku tidak yakin sedang menuju ke mana.
Dulu aku punya banyak mimpi.
Aku bisa membayangkan masa depan dengan begitu jelas.
Aku punya banyak hal yang ingin kulakukan.
Banyak tempat yang ingin kudatangi.
Banyak hal yang ingin kupelajari.
Banyak versi diriku yang ingin kubangun.
Tetapi hidup ternyata tidak selalu berjalan mengikuti daftar keinginan yang kita tulis.
Ada mimpi yang harus ditunda.
Ada rencana yang harus dibatalkan.
Ada pintu yang tertutup sebelum kita sempat masuk.
Ada jalan yang tiba-tiba berubah arah.
Dan ada masa ketika kita akhirnya hanya bisa duduk diam sambil bertanya: “Sebenarnya aku sedang menuju ke mana?”
Semuanya yang Abu Berubah Menjadi Kelabu
Dulu hidupku terasa abu-abu.
Sekarang bahkan abu-abunya terasa semakin gelap.
Semua yang semula abu berubah menjadi kelabu, lalu perlahan menjadi hitam.
Aku mencari pelangi. Tetapi aku tidak menemukannya.
Aku mencoba mencari satu alasan kecil untuk merasa optimis.
Tetapi bahkan harapan terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk kugapai.
Aku melihat orang lain bercerita tentang pencapaian mereka.
Aku ikut bahagia.
Sungguh.
Aku tidak membenci mereka.
Aku tidak iri terhadap kebahagiaan mereka.
Tetapi setelah layar ponsel kututup, terkadang aku kembali menatap kehidupanku sendiri dan bertanya: “Kapan hidupku akan berubah?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi jawabannya tidak pernah datang.
Dan semakin lama tidak ada jawaban, semakin aku takut bahwa mungkin memang tidak akan ada perubahan.
Mungkin beginilah hidupku.
Mungkin aku memang ditakdirkan untuk terus berjalan dengan cara seperti ini.
Mungkin aku terlalu berharap.
Mungkin aku terlalu banyak bermimpi.
Atau mungkin aku hanya sedang berada di satu bab kehidupan yang belum selesai.
Aku tidak tahu.
Apakah Semua Ini Sudah Ditulis Sebelum Aku Lahir?
Ada satu pertanyaan yang sering muncul ketika aku sedang berada di titik paling lelah.
Apakah semua ini memang sudah menjadi bagian dari perjalanan yang telah ditulis untukku?
Apakah sebelum aku lahir, aku sudah menyepakati perjalanan ini dengan Tuhanku?
Apakah segala kehilangan, kegagalan, penundaan, pertemuan, perpisahan, dan rasa sakit ini memang bagian dari sesuatu yang belum mampu kupahami?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin memang tidak semua hal harus kupahami sekarang.
Mungkin ada bagian dari takdir yang baru akan masuk akal setelah kita berhasil melewatinya.
Tetapi ketika sedang berada di tengah badai, kita tidak selalu mampu melihat alasan mengapa hujan harus turun.
Kita hanya tahu bahwa kita sedang basah.
Kita hanya tahu bahwa kita kedinginan.
Kita hanya tahu bahwa kita ingin segera sampai di rumah.
Mungkin begitu juga dengan hidup.
Aku sedang berada di tengah perjalanan yang belum bisa kupahami.
Dan malam ini, aku hanya sedang lelah.
Aku Takut untuk Beristirahat
Wahai dunia, aku lelah.
Dan aku takut.
Aku takut berhenti.
Aku takut menepi sebentar.
Aku takut beristirahat karena rasanya semua orang terus bergerak.
Bagaimana jika aku berhenti sementara mereka terus berlari?
Bagaimana jika aku semakin tertinggal?
Bagaimana jika ketika aku kembali berdiri, dunia sudah terlalu jauh meninggalkanku?
Tetapi mungkin aku lupa satu hal.
Beristirahat bukan berarti menyerah.
Menepi bukan berarti kalah.
Berhenti sejenak bukan berarti perjalanan telah selesai.
Mungkin aku hanya membutuhkan waktu untuk menarik napas.
Untuk mengusap wajah.
Untuk meletakkan semua beban yang selama ini kupanggul sendirian.
Untuk mengatakan:
“Aku tidak sanggup hari ini.”
Tanpa merasa bersalah.
Tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun.
Karena aku manusia.
Dan manusia memiliki batas.
Malam Ini Aku Hanya Ingin Mengakui Bahwa Aku Lelah
Kepalaku terasa berat.
Mataku terasa panas.
Anehnya, aku tidak menangis.
Aku juga tidak berteriak.
Aku hanya diam.
Duduk bersama pikiranku sendiri.
Kemudian jemariku mulai menulis semua kekacauan yang tidak mampu keluar dari mulutku.
Mungkin ini bukan tulisan yang indah.
Mungkin terlalu banyak keluhan.
Mungkin terlalu gelap.
Mungkin seseorang akan membacanya dan mengatakan bahwa aku terlalu banyak mengeluh.
Tidak apa-apa.
Malam ini aku tidak ingin menjadi seseorang yang terlihat kuat.
Aku hanya ingin menjadi seseorang yang jujur.
Jujur bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Jujur bahwa aku lelah.
Jujur bahwa aku takut.
Jujur bahwa terkadang aku iri melihat orang lain menemukan jalannya lebih cepat.
Jujur bahwa aku juga ingin merasakan kemenangan.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya mendapatkan sesuatu setelah berjuang begitu lama.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya bangun di pagi hari dan merasa yakin terhadap kehidupan sendiri.
Aku ingin kembali memiliki mimpi yang membuatku bersemangat.
Aku ingin menemukan diriku yang dulu.
Atau mungkin...
Aku tidak perlu menemukan diriku yang dulu.
Mungkin aku hanya perlu bertemu dengan diriku yang baru.
Mungkin Aku Tidak Kalah
Dunia, setelah menulis semua ini, ada satu hal yang tiba-tiba ingin kukatakan kepadamu.
Mungkin sebenarnya aku belum kalah.
Mungkin aku hanya kelelahan.
Ada perbedaan besar antara kalah dan kehabisan tenaga.
Orang yang kalah mungkin memilih berhenti selamanya. Tetapi orang yang lelah hanya membutuhkan waktu untuk mengembalikan tenaganya.
Mungkin malam ini aku memang tidak mampu berlari.
Tidak apa-apa.
Aku bisa berjalan.
Kalau berjalan pun terasa terlalu berat, aku bisa duduk.
Dan kalau aku harus duduk lebih lama dari orang lain, mungkin itu juga tidak apa-apa.
Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Hidup juga bukan tentang siapa yang lebih dulu mendapatkan pekerjaan, pasangan, rumah, uang, gelar, atau pencapaian.
Mungkin hidup adalah tentang tetap menjadi manusia di tengah semua hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Tentang belajar menerima bahwa beberapa hal membutuhkan waktu.
Tentang belajar bahwa perjalanan kita tidak harus terlihat seperti perjalanan orang lain.
Dan tentang percaya bahwa terlambat bukan berarti tidak akan pernah sampai.
Untuk Diriku yang Sedang Kehilangan Arah
Kalau suatu hari nanti aku membaca tulisan ini kembali, aku ingin mengingat malam ini.
Aku ingin mengingat bahwa pernah ada satu malam ketika aku merasa begitu lelah sampai tidak tahu lagi harus berkata apa.
Tetapi aku tetap menulis.
Aku tetap mencoba mengeluarkan isi kepala.
Aku tetap mencari cara untuk memahami diriku sendiri.
Dan mungkin itu adalah bentuk kecil dari bertahan.
Aku mungkin belum menemukan tujuan.
Aku mungkin belum tahu kapan semuanya akan berubah.
Aku mungkin belum mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi kepalaku.
Tetapi setidaknya malam ini aku masih di sini.
Masih bernapas.
Masih menulis.
Masih berharap meskipun harapanku sangat kecil.
Dan mungkin untuk malam ini, itu sudah cukup.
Tidak semua malam harus diakhiri dengan jawaban.
Ada malam yang cukup dilewati dengan bertahan.
Ada hari yang cukup dijalani tanpa harus menghasilkan sesuatu.
Ada masa ketika kita hanya perlu memberikan izin kepada diri sendiri untuk merasa lelah.
Karena kita tidak harus selalu kuat.
Kita tidak harus selalu produktif.
Kita tidak harus selalu tahu arah.
Dan kita tidak harus selalu memiliki jawaban.
Mungkin Pelanginya Belum Datang
Dunia, aku masih tidak tahu bagaimana akhir cerita ini.
Aku tidak tahu kapan hidupku akan menjadi lebih baik.
Aku tidak tahu apakah semua perjuangan ini akan membawa sesuatu yang indah.
Aku bahkan tidak tahu apakah aku akan mendapatkan “jatah menang” yang selama ini diam-diam kuharapkan.
Tetapi mungkin aku tidak perlu mengetahui semuanya malam ini. Mungkin tugasku malam ini hanya beristirahat.
Besok, kalau masih diberi kesempatan, aku bisa mencoba lagi.
Pelan-pelan.
Tidak perlu berlari.
Tidak perlu mengejar kehidupan orang lain.
Tidak perlu membuktikan bahwa aku lebih baik daripada siapa pun.
Aku hanya perlu kembali berjalan di jalanku sendiri.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Sampai suatu hari nanti, mungkin aku akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ternyata aku sudah berjalan cukup jauh.
Mungkin pelanginya memang belum terlihat. Tetapi bukan berarti pelangi itu tidak ada.
Mungkin langitku sedang terlalu gelap untuk melihatnya.
Dan mungkin...
aku hanya perlu bertahan sedikit lebih lama.
Malam, dunia.
Terima kasih sudah mendengarkan.
Aku masih lelah.
Aku masih takut.
Aku masih belum tahu ke mana hidup ini akan membawaku.
Tetapi malam ini, setidaknya aku sudah mengatakan apa yang selama ini sulit kukatakan.
Aku tidak baik-baik saja.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin meminta maaf karena mengakuinya.
Besok mungkin aku akan mencoba lagi.
Bukan karena aku sudah kuat.
Tetapi karena mungkin, di dalam diriku yang begitu lelah ini, masih ada sedikit bagian yang percaya bahwa cerita hidupku belum selesai.
Dan selama ceritaku belum selesai...
Mungkin masih ada halaman indah yang belum sempat kubaca.
Mungkin aku bukan kalah, aku hanya terlalu lelah untuk terus melawan sesuatu yang bahkan tidak pernah ingin kulawan.
0 Komentar