Ketika bertukar kabar setiap hari ternyata belum tentu membuat dua hati merasa dekat.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang selalu punya waktu untukku. Aku hanya ingin seseorang yang, ketika aku datang membawa cerita, bersedia berhenti sebentar dan benar-benar mendengarkan.
Di usia yang sudah tidak main-main lagi, sebenarnya apa sih yang kita cari dalam sebuah romansa?
Semakin bertambah usia, pertanyaan itu rasanya semakin sulit dijawab.
Dulu mungkin kita berpikir bahwa cinta adalah tentang seseorang yang membuat jantung berdebar, seseorang yang selalu ingin kita temui, seseorang yang membuat hari-hari terasa lebih menyenangkan.
Tetapi semakin dewasa, mungkin definisi itu perlahan berubah.
Kita tidak lagi hanya mencari seseorang yang membuat kita jatuh cinta.
Kita mulai mencari seseorang yang membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri.
Seseorang yang bisa menjadi tempat bercerita.
Tempat kita meletakkan lelah.
Tempat kita membicarakan isi kepala yang bahkan terkadang tidak mampu kita pahami sendiri.
Sederhananya, mungkin kita mencari tempat pulang.
Bukan rumah dalam arti tempat secara fisik. Tetapi seseorang yang ketika kita bersamanya, kita tidak merasa harus terus-menerus menjadi versi terbaik dari diri kita.
Kita boleh berantakan.
Boleh bingung.
Boleh takut.
Boleh menangis.
Boleh punya mimpi yang belum jelas.
Dan tetap merasa diterima.
Namun di sinilah aku mulai bertanya-tanya.
Apakah komunikasi yang sering dilakukan dalam sebuah hubungan otomatis berarti kita sudah terkoneksi dengan pasangan?
Atau sebenarnya ada garis tipis antara sekadar berkomunikasi dan benar-benar terhubung secara emosional?
Ketika Komunikasi Hanya Berhenti di “Lagi Apa?”
Ada jenis komunikasi yang mungkin sangat sering kita lakukan setiap hari.
“Lagi apa?”
“Lagi ngapain?”
“Udah makan belum?”
“Lagi di mana?”
“Sama siapa?”
“Udah sampai?”
“Iya kah?”
“Okey.”
“Baiklah.”
Selesai.
Besok dilakukan lagi.
Lusa dilakukan lagi.
Setiap hari kita bertukar kabar, tetapi entah mengapa semakin lama rasanya justru semakin kosong.
Kita tahu pasangan sedang bekerja.
Kita tahu dia sudah makan.
Kita tahu dia sedang di mana.
Kita tahu kapan dia tidur.
Tetapi kita tidak benar-benar tahu apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
Apa yang sedang membuatnya khawatir?
Apa yang sedang dia perjuangkan?
Apa yang membuatnya bahagia?
Apa yang sedang dia takutkan tentang masa depan?
Apa yang sebenarnya dia inginkan dalam hidup?
Dan mungkin sebaliknya, pasangan juga tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.
Padahal kita berbicara setiap hari.
Di sinilah aku mulai memahami bahwa komunikasi tidak selalu sama dengan koneksi.
Kita bisa berbicara setiap hari tanpa benar-benar merasa didengarkan.
Kita bisa bertukar puluhan pesan tanpa pernah benar-benar membicarakan sesuatu yang bermakna.
Kita bisa mengetahui aktivitas seseorang tanpa mengenal isi hatinya.
Dan mungkin itulah salah satu hal yang paling melelahkan dalam hubungan.
Bukan karena tidak ada komunikasi.
Tetapi karena ada komunikasi tanpa kedekatan emosional.
Aku Tidak Tahu Seperti Apa Hubungan yang Dewasa
Aku jujur saja.
Aku tidak tahu seperti apa sebenarnya hubungan yang dewasa.
Apakah hubungan dewasa berarti kita tidak boleh terlalu membutuhkan pasangan?
Apakah kita harus mampu menyelesaikan semua masalah sendiri?
Apakah kita tidak boleh manja?
Tidak boleh meminta perhatian?
Tidak boleh ingin dipeluk?
Tidak boleh kecewa ketika pasangan tidak hadir?
Aku sering berpikir bahwa mungkin semua kebutuhan emosional adalah sesuatu yang harus aku urus sendiri.
Aku tahu bahwa emosiku adalah tanggung jawabku.
Aku tahu bahwa pasangan bukan tempat untuk membuang seluruh masalah hidup.
Aku tahu bahwa dia juga punya pekerjaan, keluarga, impian, masalah, kelelahan, dan kehidupan yang harus dijalani.
Aku tahu bahwa dia tidak mungkin selalu tersedia setiap saat.
Aku tahu bahwa dunia seseorang tidak boleh hanya berputar pada hubungan.
Aku tahu semua itu.
Tetapi apakah memahami semua itu berarti aku tidak boleh membutuhkan kehadirannya?
Apakah salah jika sesekali aku ingin berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja. Boleh dengarkan aku sebentar?”
Apakah terlalu egois jika aku ingin dia diam sejenak dari kesibukannya dan mendengarkan cerita yang mungkin sebenarnya tidak terlalu penting?
Cerita tentang hari ini.
"Tentang pekerjaan."
"Tentang seseorang yang membuatku kesal."
"Tentang sesuatu yang tiba-tiba membuatku takut."
"Tentang ide kecil yang muncul di kepala."
"Tentang mimpi yang belum tentu terwujud."
"Tentang sesuatu yang bahkan sulit untuk aku jelaskan."
Aku tidak selalu membutuhkan solusi.
Kadang aku hanya ingin didengarkan.
Aku Hanya Ingin Memiliki Tempat untuk Bercerita
Mungkin ini terdengar sederhana.
Tetapi bagiku, kemampuan untuk bercerita kepada seseorang adalah bentuk keintiman yang sangat besar.
Karena ketika kita bercerita, sebenarnya kita sedang memberikan sebagian kecil dari diri kita kepada orang lain.
Kita sedang berkata,
“Ini isi kepalaku.”
“Ini yang aku takutkan.”
“Ini yang aku inginkan.”
“Ini bagian dari diriku yang mungkin tidak semua orang tahu.”
Dan aku ingin memiliki seseorang yang dengan senang hati mendengarkan semua itu.
Bahkan ketika ceritanya tidak menarik.
Bahkan ketika aku mengulang cerita yang sama.
Bahkan ketika aku terlalu emosional.
Bahkan ketika aku tidak tahu sebenarnya aku sedang ingin apa.
Aku ingin seseorang yang tidak selalu terburu-buru memperbaiki perasaanku.
Seseorang yang terkadang cukup berkata,
“Aku dengar.”
“Ceritakan saja.”
“Aku ada di sini.”
Mungkin kalimat itu terlihat kecil.
Tetapi bagi seseorang yang sedang lelah, rasanya bisa menjadi sangat besar.
Karena terkadang kita tidak membutuhkan seseorang untuk menyelesaikan masalah.
Kita hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersama kita ketika masalah itu terasa terlalu berat.
Apakah Aku Terlalu Manja?
Lalu muncul pertanyaan yang paling mengganggu.
Apakah aku terlalu manja?
Apakah aku terlalu banyak meminta?
Apakah aku terlalu banyak berharap?
Apakah aku terlalu egois dalam sebuah hubungan?
Aku ingin waktunya.
Aku ingin perhatiannya.
Aku ingin kehadirannya.
Aku ingin sesekali dipeluk ketika sedang rapuh.
Aku ingin merasa bahwa di antara begitu banyak hal yang harus dia kerjakan, aku tetap memiliki tempat dalam hidupnya.
Tetapi kemudian aku kembali mengingat bahwa setiap orang memiliki prioritas.
Aku juga punya kehidupanku sendiri.
Dia punya kehidupannya sendiri.
Kami tidak mungkin selalu berada dalam ruang emosional yang sama.
Mungkin di situlah hubungan dewasa membutuhkan keseimbangan.
Aku tidak harus menjadi seluruh dunianya.
Dan dia juga tidak harus menjadi seluruh duniaku.
Tetapi bukankah kita tetap boleh saling menjadi tempat untuk pulang?
Mungkin yang perlu dibedakan adalah antara ketergantungan dan kebutuhan akan koneksi emosional.
Aku tidak ingin dia menyelesaikan seluruh hidupku.
Aku hanya ingin dia bersedia hadir ketika aku membutuhkan teman untuk melewati satu bagian kecil dari hidupku.
Aku masih bisa berdiri sendiri.
Tetapi sesekali aku ingin seseorang menggenggam tanganku. Bukan karena aku tidak mampu berjalan. Tetapi karena perjalanan terasa lebih hangat ketika tidak selalu dilakukan sendirian.
Bukankah Hubungan Bertahan Karena Komunikasi?
Kita sering mendengar bahwa komunikasi adalah salah satu fondasi penting dalam hubungan.
Dan aku percaya itu.
Tetapi mungkin komunikasi yang dibutuhkan dalam hubungan bukan sekadar seberapa sering kita berbicara.
Melainkan seberapa dalam kita mampu saling memahami.
Membicarakan masa depan.
Membicarakan value.
Membicarakan keluarga.
Membicarakan uang.
Membicarakan karier.
Membicarakan pernikahan.
Membicarakan anak.
Membicarakan batasan.
Membicarakan ketakutan.
Membicarakan luka.
Membicarakan bagaimana masing-masing dari kita ingin dicintai.
Membicarakan bagaimana kita ingin menyelesaikan konflik ketika suatu hari hubungan ini tidak lagi terasa mudah.
Karena kalau memang seseorang akan menjadi teman hidup kita, bukankah ada begitu banyak hal yang harus dibicarakan?
Bukankah pada akhirnya kehidupan rumah tangga juga dipenuhi percakapan-percakapan sederhana? seperti,
“Besok mau masak apa?”
“Tagihan bulan ini sudah dibayar?”
“Anak kita nanti sekolah di mana?”
“Bulan depan kita mau menabung untuk apa?”
“Hari ini kamu kelihatan capek, ada apa?”
Bahkan mungkin ada hari ketika percakapannya hanya,
“Capek?”
“Banget.”
“Sini.”
Lalu pelukan.
Mungkin sesederhana itu.
Karena dalam hubungan jangka panjang, kita bukan hanya membutuhkan seseorang yang bisa mencintai kita.
Kita membutuhkan seseorang yang bisa hidup bersama kita.
Dan hidup bersama berarti berbicara.
Banyak sekali berbicara.
Allah yang Memunculkan Rasa Ini, Lalu Mengapa Rasanya Begitu Melelahkan?
Ada bagian lain yang semakin membuatku bingung.
Bukankah Allah yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya?
Bukankah Allah yang menciptakan rasa kasih dan sayang?
Bukankah perasaan mencintai juga merupakan bagian dari fitrah manusia?
Lalu kenapa sesuatu yang seharusnya terasa indah terkadang justru terasa begitu melelahkan?
Kenapa rasa sayang bisa membuat kita takut?
Kenapa cinta bisa membuat kita terlalu banyak berpikir?
Kenapa ingin memiliki seseorang justru membuat kita takut kehilangan?
Kenapa ketika kita ingin dekat dengan seseorang, kita juga sekaligus takut menjadi terlalu bergantung kepadanya?
Dan kenapa rasa kasih yang awalnya terasa hangat, perlahan bisa berubah menjadi sesuatu yang membuat kita bertanya-tanya,
“Apakah aku sedang dicintai, atau aku hanya sedang berharap terlalu banyak?”
Aku tidak punya jawaban yang pasti.
Mungkin karena cinta memang bukan hanya tentang rasa bahagia.
Mencintai seseorang berarti memberikan ruang bagi kemungkinan untuk terluka.
Ketika kita membuka hati, kita juga membuka kemungkinan untuk kecewa.
Ketika kita berharap, kita juga membuka kemungkinan bahwa kenyataan tidak akan sesuai dengan harapan.
Dan mungkin itu sebabnya cinta membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perasaan.
Ia membutuhkan kesadaran.
Kesadaran bahwa orang yang kita cintai tetap manusia.
Kesadaran bahwa kita juga manusia.
Bahwa tidak ada pasangan yang akan selalu memahami kita.
Tidak ada seseorang yang selalu memiliki energi untuk mendengarkan.
Tidak ada hubungan yang setiap harinya terasa seperti adegan romantis dalam cerita fiksi.
Dan mungkin tidak apa-apa.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Keberanian untuk Mencintai
Yang paling aku takutkan bukan hanya kehilangan seseorang.
Aku takut suatu hari nanti aku kehilangan keberanian untuk mencintai.
Karena terlalu sering kecewa, kita bisa mulai menganggap bahwa berharap adalah sebuah kesalahan.
Kita mulai berkata,
“Lebih baik tidak berharap.”
“Lebih baik tidak terlalu membutuhkan.”
“Lebih baik jangan terlalu sayang.”
“Lebih baik jangan terlalu terbuka.”
“Lebih baik aku urus semuanya sendiri.”
Sampai akhirnya kita menjadi sangat pandai melindungi diri sendiri, tetapi lupa bagaimana rasanya membiarkan seseorang masuk.
Padahal mungkin tujuan mencintai bukan untuk memastikan bahwa kita tidak akan pernah terluka.
Tidak ada jaminan seperti itu.
Mungkin mencintai adalah tentang belajar membuka hati sambil tetap memiliki batas.
Belajar membutuhkan seseorang tanpa kehilangan diri sendiri.
Belajar memberikan perhatian tanpa mengabaikan kebutuhan pribadi.
Belajar mengatakan apa yang kita butuhkan tanpa menjadikan pasangan sebagai terdakwa.
Belajar mendengarkan tanpa selalu memberikan solusi.
Belajar memahami bahwa seseorang bisa mencintai kita dengan cara yang berbeda dari cara kita ingin dicintai.
Dan belajar berkomunikasi tentang perbedaan itu.
Mungkin Aku Tidak Mencari Hubungan yang Sempurna
Pada akhirnya, mungkin aku tidak sedang mencari hubungan yang sempurna.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang selalu tersedia.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang selalu tahu apa yang harus dikatakan.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang selalu mampu memahami isi kepalaku.
Aku hanya ingin seseorang yang mau mencoba
Mau mendengarkan.
Mau berbicara.
Mau menjelaskan.
Mau bertanya.
Mau memahami.
Mau hadir.
Karena bagiku, hubungan yang sehat bukan tentang dua manusia yang tidak pernah memiliki masalah.
Tetapi dua manusia yang ketika masalah datang, masih memilih untuk duduk dan membicarakannya.
Bukan dua manusia yang tidak pernah saling mengecewakan.
Tetapi dua manusia yang mau belajar meminta maaf dan memperbaiki.
Bukan dua manusia yang selalu memiliki kebutuhan yang sama.
Tetapi dua manusia yang mau mencari jalan tengah.
Dan mungkin, bukan dua manusia yang saling menjadi seluruh dunia.
Tetapi dua manusia yang memiliki dunia masing-masing dan tetap memilih untuk menyediakan ruang bagi satu sama lain.
Mungkin itulah garis tipis antara komunikasi dan terkoneksi.
Komunikasi membuat kita tahu bahwa seseorang sedang ada.
Tetapi koneksi membuat kita merasakan kehadirannya.
Komunikasi membuat kita tahu apa yang dia lakukan.
Koneksi membuat kita memahami apa yang dia rasakan.
Komunikasi bertanya,
“Sudah makan?”
Koneksi mungkin bertanya,
“Bagaimana harimu hari ini?”
Komunikasi berkata,
“Jangan lupa istirahat.”
Koneksi berkata,
“Aku merasa kamu sedang banyak pikiran. Mau cerita?”
Dan mungkin, di usia yang sudah tidak main-main lagi, itulah yang sebenarnya kita cari.
Bukan sekadar seseorang untuk berstatus sebagai pasangan.
Bukan seseorang untuk mengisi kekosongan.
Bukan seseorang untuk menyelamatkan kita.
Tetapi seseorang yang bersedia menjadi teman dalam perjalanan hidup.
Seseorang yang membuat kita merasa aman untuk berkata,
“Aku punya cerita.”
Dan kita tahu dia tidak akan langsung merasa terganggu.
Seseorang yang ketika kita sedang rapuh, tidak membuat kita malu karena memiliki perasaan.
Seseorang yang ketika kita sedang takut, tidak menertawakan ketakutan kita.
Seseorang yang ketika kita punya mimpi, mau mendengarkannya meskipun mimpi itu masih terlihat jauh.
Dan seseorang yang ketika kita tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan sendiri, bersedia duduk sebentar dan mencoba memahami.
Mungkin cinta tidak selalu datang dalam bentuk kata-kata romantis.
Mungkin cinta terkadang datang dalam bentuk seseorang yang mau mendengarkan cerita kita yang panjang dan tidak penting.
Dalam bentuk seseorang yang tetap bertanya,
“Kamu sebenarnya kenapa?”
ketika kita mengatakan,
“Aku nggak apa-apa.”
Dalam bentuk seseorang yang berkata,
“Sini, cerita sama aku.”
Dan mungkin, setelah semua kebingungan tentang cinta, hubungan dewasa, komunikasi, ekspektasi, dan rasa takut kehilangan itu…
Aku akhirnya hanya ingin percaya pada satu hal:
Bahwa mencintai seseorang tidak seharusnya membuat kita kehilangan diri sendiri.
Dan membutuhkan seseorang juga tidak selalu berarti kita lemah.
Kita tetap boleh mandiri.
Tetap boleh punya kehidupan sendiri.
Tetap boleh memiliki mimpi sendiri.
Tetap harus belajar mengelola emosi sendiri.
Tetapi kita juga tetap manusia.
Kita tetap membutuhkan koneksi.
Kita tetap membutuhkan pelukan.
Kita tetap membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita yang bahkan mungkin tidak penting.
Dan mungkin tidak ada yang salah dengan itu.
Karena mungkin, pada akhirnya, kita semua hanya ingin memiliki seseorang yang membuat kita bisa berkata,
“Aku tahu aku bisa menghadapi hidupku sendiri. Tapi aku senang, kali ini aku tidak harus melewatinya sendirian.”
Mungkin itulah cinta yang sedang kucari.
Bukan cinta yang sempurna.
Bukan cinta seperti dalam cerita fiksi.
Tetapi cinta yang terasa seperti rumah.
Tempat untuk pulang.
Tempat untuk bercerita.
Tempat untuk menjadi manusia.
Dan tempat di mana dua orang sama-sama belajar bahwa dicintai bukan berarti selalu dipahami, tetapi selalu ada kemauan untuk saling memahami.
Semoga suatu hari nanti, kita menemukan seseorang yang bukan hanya menjadi tempat untuk mencintai, tetapi juga tempat di mana hati merasa aman untuk pulang.

0 Komentar