I loved it, I lived it, and now I let it go.
Sebagai Gen-Z yang tidak terlalu pandai menye-menye, dan dengan darah Minang yang mengalir deras di dalam tubuh ini, aku tumbuh dengan cara yang mungkin tidak terlalu lembut untuk ukuran sebagian orang.
Aku terbiasa dengan kiasan. Terbiasa dengan sindiran. Terbiasa membaca sesuatu yang tidak dikatakan secara langsung. Terbiasa memahami maksud dari kalimat yang sengaja dibuat berputar-putar.
Tapi untuk urusan hati, ternyata aku tidak ingin menjadi orang yang pandai menebak.
Aku tidak ingin menerjemahkan sikap.
Aku tidak ingin mencari makna tersembunyi dari perubahan cara seseorang membalas pesan.
Aku tidak ingin bertanya-tanya apakah seseorang masih menginginkanku atau hanya sedang berusaha mencari cara paling halus untuk pergi.
Untuk urusan seperti ini, aku hanya membutuhkan dua jawaban:
Iya atau tidak.
Mau atau tidak.
Sesederhana itu.
Karena bagiku, perpisahan tidak membutuhkan teka-teki. Kalau memang ingin pergi, katakan pergi. Kalau memang ingin tinggal, katakan tinggal.
Jangan biarkan seseorang berdiri terlalu lama di antara pintu yang setengah terbuka dan setengah tertutup, hanya karena kita tidak cukup berani mengatakan bahwa sebenarnya pintu itu sudah lama ingin ditutup.
Aku mungkin keras dalam hal ini.
Tapi aku bukan tidak punya perasaan.
Justru karena aku punya perasaan, aku tidak ingin mempermainkannya.
Aku adalah seorang anak perempuan yang sejak lama terbiasa mandiri.
Aku terbiasa mengurus banyak hal sendiri. Terbiasa mencari jalan keluar ketika tidak ada yang datang menawarkan jalan. Terbiasa menenangkan diri sendiri ketika keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Aku tidak tumbuh sebagai seseorang yang selalu mendapatkan apa yang dia mau hanya dengan meminta.
Mungkin karena itu, aku tidak terlalu pandai menerima perlakuan manis.
Sedikit perhatian bisa terasa sangat besar bagiku.
Sedikit kepedulian bisa tinggal sangat lama di kepalaku.
Satu kalimat sederhana seperti, “Sudah makan?”
Satu pesan ketika aku sedang lelah.
Satu perhatian kecil ketika aku tidak meminta.
Satu tindakan yang membuatku merasa, “Oh, ternyata ada juga seseorang yang memperhatikanku.”
Hal-hal sederhana seperti itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain.
Tapi bagiku, tidak selalu demikian.
Karena seseorang yang terbiasa melakukan semuanya sendiri sering kali tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya.
Dia hanya ingin sesekali merasa bahwa dia tidak harus kuat sendirian.
Dan ketika akhirnya ada seseorang yang memberinya sedikit rasa hangat, terkadang ia membalasnya berkali-kali lipat.
Bukan karena bodoh.
Bukan karena tidak punya harga diri.
Tapi karena begitulah caraku mencintai.
Aku membalas apa yang aku terima.
Kebaikan dengan kebaikan.
Perhatian dengan perhatian.
Kehangatan dengan kehangatan.
Aku tidak pernah menghitung siapa memberi lebih banyak.
Setidaknya, sampai akhirnya aku sadar bahwa mungkin selama ini aku memberikan terlalu banyak kepada seseorang yang hanya memberikan sedikit.
Kalau kamu mengatakan aku bodoh karena pernah mencintai seperti itu, maka…
Yes. Aku bodoh.
Aku akui.
Aku pernah menjadi perempuan yang terlalu mudah percaya kepada perlakuan baik.
Aku pernah menutup mata terhadap kesalahan seseorang hanya karena dia pernah membuatku merasa bahagia.
Aku pernah berpikir bahwa seseorang yang pernah memperlakukanku dengan baik pasti memiliki tempat khusus yang tidak mudah digantikan oleh kesalahan-kesalahannya.
Dan mungkin itulah kelemahanku.
Ketika seseorang baik kepadaku, aku mengingat kebaikannya terlalu lama.
Bahkan ketika dia mulai menyakitiku, bagian dari diriku masih sibuk mengingat versi dirinya yang pernah membuatku merasa aman.
Aku bisa memaafkan banyak hal.
Aku bisa memahami banyak alasan.
Aku bisa memberikan kesempatan kedua.
Bahkan mungkin kesempatan ketiga.
Karena aku bukan orang yang suka menyimpan dendam.
Aku tidak pandai membenci.
Kalau seseorang yang pernah baik kepadaku datang meminta maaf, kemungkinan besar hatiku akan luluh.
Bahkan jika dia pernah membuatku kecewa.
Bahkan jika dia pernah meninggalkanku dalam keadaan sulit.
Bahkan jika dia datang terlambat.
Aku mungkin tetap akan mendengarkan.
Karena aku tidak ingin menjadi orang jahat hanya karena pernah diperlakukan dengan buruk.
Begitu juga sebaliknya.
Untuk seseorang yang pernah menyakitiku, aku tidak akan menghabiskan hidup untuk membalasnya.
Aku tidak akan mengejarnya.
Aku tidak akan menghancurkan hidupnya.
Aku tidak akan menyusun rencana balas dendam.
Aku hanya akan pergi.
Karena bagiku, pergi adalah bentuk penghormatan terakhir kepada diri sendiri.
Ada satu prinsip yang mungkin terdengar sederhana, bahkan mungkin kekanak-kanakan:
Mirroring.
Aku memberikan apa yang aku terima.
Bukan untuk menghukum.
Bukan untuk memainkan permainan psikologis.
Tapi karena aku percaya hubungan seharusnya memiliki keseimbangan.
Jika kamu hadir, aku hadir.
Jika kamu peduli, aku peduli.
Jika kamu berusaha, aku juga akan berusaha.
Jika kamu menjauh, aku tidak akan berlari mengejarmu.
Jika kamu diam, aku akan belajar diam.
Jika kamu berhenti memilihku, aku tidak akan memaksamu untuk tetap memilihku.
Karena aku percaya cinta tidak seharusnya menjadi pekerjaan satu orang.
Aku bisa memperjuangkan seseorang.
Tetapi aku tidak akan memperjuangkan seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak memperjuangkanku.
Dan mungkin di situlah orang sering salah memahami ketidaktegaanku.
Mereka mengira aku terlalu lembut.
Padahal sebenarnya aku hanya membutuhkan alasan yang cukup untuk berhenti.
Begitu aku benar-benar yakin bahwa aku tidak lagi diinginkan, aku bisa menjadi sangat tenang.
Tidak ada drama.
Tidak ada adegan panjang.
Tidak ada kalimat, “Tolong jangan pergi.”
Aku mungkin menangis setelah pintunya tertutup.
Aku mungkin hancur ketika sudah sendirian.
Aku mungkin memutar ulang percakapan kita berkali-kali di kepala.
Aku mungkin bertanya kepada diriku sendiri apa yang salah.
Tapi aku tidak akan mengetuk pintu yang sudah jelas-jelas ditutup.
Karena aku tahu kapan harus berhenti.
Atau setidaknya, aku sedang belajar mengetahuinya.
Aku juga belajar bahwa tidak semua orang yang datang membawa kehangatan ditakdirkan untuk tinggal.
Ada orang yang hadir hanya untuk mengajarkan kita bahwa ternyata hati kita masih bisa merasa.
Ada orang yang datang ketika hidup kita sedang sepi, lalu pergi ketika kita sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Ada orang yang awalnya terasa seperti rumah, tetapi pada akhirnya justru menjadi tempat yang harus kita tinggalkan.
Dan itu menyakitkan.
Sangat menyakitkan.
Karena kehilangan bukan hanya tentang kehilangan seseorang.
Kadang kita kehilangan rutinitas.
Kehilangan kebiasaan.
Kehilangan pesan-pesan kecil.
Kehilangan seseorang untuk bercerita tentang hari yang melelahkan.
Kehilangan seseorang yang biasanya kita cari ketika bangun tidur.
Kehilangan seseorang yang namanya secara otomatis muncul di kepala ketika sesuatu terjadi.
Dan yang paling menyakitkan adalah kehilangan masa depan yang sempat kita bayangkan.
Mungkin kita tidak pernah benar-benar memiliki masa depan itu. Tetapi kita pernah membayangkannya.
Dan ketika semuanya berakhir, kita bukan hanya sedang melepaskan seseorang.
Kita juga sedang menguburkan kemungkinan-kemungkinan yang pernah kita pikir akan terjadi.
Aku tidak akan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tidak.
Aku patah hati.
Aku kecewa.
Aku sedih.
Aku pernah berharap.
Aku pernah percaya.
Dan sekarang aku harus menerima bahwa tidak semua harapan akan menjadi kenyataan.
Aku tidak akan memaksa diriku untuk terlihat kuat setiap saat hanya karena aku terbiasa mandiri.
Aku boleh menangis.
Aku boleh merasa kehilangan.
Aku boleh merindukan seseorang yang sudah tidak seharusnya aku rindukan.
Aku boleh bertanya-tanya mengapa semuanya harus berakhir seperti ini.
Tetapi setelah semua perasaan itu selesai, aku tetap harus kembali kepada diriku sendiri.
Karena pada akhirnya, orang yang paling lama tinggal bersamaku adalah diriku sendiri.
Dan aku tidak ingin kehilangan diriku hanya karena terlalu sibuk mempertahankan seseorang.
Mungkin aku pernah berpikir bahwa cinta berarti bertahan.
Semakin lama aku belajar, semakin aku sadar bahwa cinta juga bisa berarti melepaskan.
Bukan karena tidak sayang.
Justru karena pernah sayang, aku tidak ingin mengubah perasaan itu menjadi kebencian.
Aku ingin mengingatmu sebagai seseorang yang pernah memberikan warna dalam hidupku. Bukan sebagai seseorang yang harus aku benci hanya karena akhirnya kita tidak bisa bersama.
Aku tidak ingin menghapus semua hal baik hanya karena akhirnya menyakitkan.
Bukankah sesuatu yang pernah indah tetap pernah indah meskipun akhirnya tidak bertahan?
Pelangi tidak menjadi kurang indah hanya karena ia tidak tinggal selamanya.
Ia muncul.
Ia membuat langit terlihat berbeda.
Lalu perlahan menghilang.
Dan mungkin hubungan kita juga seperti itu.
Sebuah pelangi.
Indah ketika muncul.
Membuat hari-hari yang sebelumnya biasa saja menjadi sedikit lebih berwarna.
Tetapi sekarang pelangi itu sudah pergi.
Dan aku tidak akan berlari mengejar langit hanya untuk memintanya muncul kembali.
Jadi kalau memang ini akhirnya…
Mari kita akhiri dengan elegan.
Tidak perlu saling menyalahkan.
Tidak perlu mencari siapa yang paling salah.
Tidak perlu membuat satu sama lain menjadi penjahat hanya agar perpisahan terasa lebih mudah.
Aku tidak ingin membencimu.
Aku juga tidak ingin kamu membenciku.
Aku hanya ingin kita menerima bahwa mungkin ada hal-hal yang memang tidak bisa dipaksakan.
Kalau kamu memilih pergi, pergilah dengan tenang.
Aku akan belajar menerima.
Kalau aku memilih pergi, jangan panggil aku kembali hanya karena kamu tiba-tiba merasa kehilangan.
Karena kehilangan seseorang setelah terbiasa dengannya adalah hal yang wajar.
Tetapi kehilangan seseorang tidak selalu berarti kita harus mendapatkannya kembali.
Ada orang yang boleh kita rindukan tanpa harus kita miliki lagi.
Ada kenangan yang boleh kita simpan tanpa harus kita ulangi.
Ada seseorang yang pernah kita cintai tanpa harus kita cintai selamanya.
Dan ada hubungan yang harus selesai bukan karena tidak pernah berarti, tetapi karena memang sudah selesai waktunya.
Aku tidak tahu berapa lama aku akan membutuhkan waktu untuk benar-benar baik-baik saja.
Mungkin beberapa hari.
Mungkin beberapa minggu.
Mungkin lebih lama.
Aku tidak akan memaksakan proses itu.
Aku akan menangis kalau ingin menangis.
Aku akan diam kalau ingin diam.
Aku akan menulis kalau kata-kata terlalu penuh di kepala.
Aku akan kembali melakukan hal-hal kecil yang membuatku merasa menjadi diriku sendiri.
Pelan-pelan.
Satu hari demi satu hari.
Sampai suatu pagi aku bangun dan namamu tidak lagi menjadi hal pertama yang muncul di pikiranku.
Sampai suatu hari aku mendengar lagu yang pernah mengingatkanku kepadamu dan aku tidak lagi merasa sesak.
Sampai akhirnya aku bisa mengingat semuanya tanpa ingin kembali.
Bukan karena aku lupa.
Tetapi karena aku sudah selesai.
Dan mungkin, inilah kalimat terakhir yang ingin aku katakan:
Aku tidak menyesal pernah menyayangimu.
Aku tidak menyesal pernah memberikan lebih.
Aku tidak menyesal pernah membuka pintu yang selama ini selalu kujaga.
Karena semua itu adalah bagian dari diriku.
Aku mencintai dengan caraku.
Aku memberikan dengan caraku.
Aku bertahan dengan caraku.
Dan sekarang…
aku melepaskan dengan caraku.
Tidak dengan kebencian.
Tidak dengan dendam.
Tidak dengan memohon.
Hanya dengan menerima.
Bahwa tidak semua yang kita inginkan akan tinggal.
Tidak semua yang kita sayangi akan memilih kita.
Dan tidak semua cerita yang indah harus memiliki akhir yang bahagia.
Ada cerita yang memang hanya ditulis untuk menemani satu bagian perjalanan.
Setelah itu, halaman harus dibalik.
Bukan karena halaman sebelumnya buruk.
Tetapi karena cerita tidak akan selesai jika kita terus membaca halaman yang sama.
Jadi…
game over.
Permainannya selesai.
Pelangi itu sudah pergi.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak akan mengejarnya.
Aku akan berdiri di sini.
Mengumpulkan kembali bagian-bagian diriku yang sempat tercecer.
Merapikan hati yang berantakan.
Menarik napas panjang.
Lalu berjalan pulang kepada diriku sendiri.
Karena mungkin selama ini aku sibuk mencari seseorang yang mau tinggal.
Padahal yang paling perlu aku pastikan untuk tetap tinggal…
adalah diriku sendiri.
Selamat tinggal.
Tidak perlu ada kalimat panjang setelah ini.
Tidak perlu ada janji untuk kembali.
Tidak perlu ada “mungkin suatu hari nanti.”
Cukup sampai di sini.
Kita pernah menjadi sesuatu.
Pernah tertawa.
Pernah saling menghangatkan.
Pernah berharap.
Dan pernah saling berarti.
Biarkan semua itu tetap menjadi bagian yang baik dari masa lalu.
Aku akan membawa pelajarannya.
Bukan lukanya.
Dan jika suatu hari nanti kita bertemu lagi sebagai dua orang yang sudah berbeda, aku berharap kita bisa tersenyum tanpa rasa sakit. Karena pada akhirnya, aku tidak ingin mengingatmu sebagai seseorang yang menghancurkan hatiku. Aku ingin mengingatmu sebagai seseorang yang pernah hadir…
dan pernah membuat satu bagian dari hidupku menjadi lebih berwarna.
Setelah itu, cukup.
Aku pamit.
Dengan seluruh harga diri yang masih kupunya.
Dengan seluruh cinta yang pernah kuberikan.
Dan dengan hati yang mungkin belum sepenuhnya sembuh, tetapi sudah cukup berani untuk berkata:
“Aku memilih diriku sendiri kali ini.”
Game over.
Pelangi itu sudah pergi.
Dan aku…
akan baik-baik saja.
The rainbow may be gone, but the sky is still beautiful.

0 Komentar