Tulisan ini ditulis sebelum kenyataan mengubah arah perjalananku. Aku memilih menerbitkannya apa adanya, sebagai kenangan tentang seseorang yang pernah begitu percaya pada mimpinya.
Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi Setelah Bertahun-Tahun Bertahan
Bab 6: Ketakutan yang Tidak Pernah Kuceritakan
Jujur saja. Aku takut. Sangat takut.
Mungkin lebih takut daripada yang terlihat dari luar. Karena sering kali, ketakutan tidak muncul dalam bentuk air mata atau kepanikan. Kadang ia datang diam-diam, duduk di sudut pikiran, menemani setiap keputusan yang hendak diambil.
Aku takut gagal.
Takut melangkah sejauh ini hanya untuk menemukan bahwa aku tidak sekuat yang kubayangkan. Takut meninggalkan zona nyaman, lalu menyadari bahwa dunia di luar sana jauh lebih keras daripada yang pernah kusiapkan dalam kepalaku.
Aku takut berusaha sekuat tenaga tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.
Karena tidak ada yang bisa menjamin keberhasilan. Tidak ada kontrak yang mengatakan bahwa jika aku bekerja keras, maka semuanya pasti berjalan baik.
Hidup tidak bekerja seperti itu. Dan itulah yang membuatku takut.
Aku takut kehabisan uang. Bagi sebagian orang, uang mungkin hanya angka.
Tetapi bagi orang yang berasal dari keluarga biasa, uang sering kali menjadi batas antara mimpi dan kenyataan.
Aku tahu bagaimana rasanya menghitung pengeluaran sebelum membeli sesuatu.
Aku tahu bagaimana rasanya menunda keinginan karena ada kebutuhan yang lebih penting.
Aku tahu bagaimana rasanya melihat orang tua bekerja keras agar anak-anaknya memiliki kesempatan yang lebih baik.
Karena itu, ketika aku memutuskan untuk mengambil jalan yang tidak pasti, ada rasa khawatir yang terus mengikuti.
Bagaimana jika tabunganku tidak cukup?
Bagaimana jika ada keadaan darurat?
Bagaimana jika aku harus memulai semuanya dari nol?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul hampir setiap hari. Dan terkadang, mereka datang tepat sebelum aku tidur.
Aku juga takut mengecewakan keluarga. Mungkin ini salah satu ketakutan terbesar yang jarang aku ucapkan.
Karena keluargaku bukan orang-orang yang menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin aku baik-baik saja. Mereka hanya ingin aku hidup dengan aman. Mereka hanya ingin aku tidak terluka oleh keputusan yang salah.
Itulah mengapa ketika mereka ragu, aku mengerti. Ketika mereka khawatir, aku juga mengerti. Karena mereka melihatku dengan cinta. Dan cinta sering kali membuat seseorang ingin melindungi.
Aku takut jika suatu hari nanti mereka berkata: "Kami sudah mengingatkanmu."
Bukan karena mereka ingin benar. Tetapi karena aku benar-benar gagal. Karena jauh di dalam hati, aku ingin membuat mereka bangga. Aku ingin membuktikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia. Aku ingin menunjukkan bahwa semua doa yang mereka panjatkan selama ini berbuah sesuatu yang baik. Namun aku sadar, tidak ada jaminan bahwa jalan yang kupilih akan langsung membawa hasil.
Dan ketidakpastian itu menakutkan.
Aku takut tidak mampu beradaptasi. Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya.
Mereka melihat foto-foto orang yang berhasil. Mereka melihat cerita sukses. Mereka melihat senyum. Tetapi mereka jarang melihat proses di baliknya.
Mereka tidak melihat malam-malam ketika seseorang merasa sendirian. Mereka tidak melihat saat seseorang merindukan rumah. Mereka tidak melihat ketika seseorang harus belajar bahasa baru, budaya baru, aturan baru, dan cara hidup yang sama sekali berbeda.
Aku tahu jika aku pergi, akan ada hari-hari yang berat. Hari ketika aku merindukan makanan rumah. Hari ketika aku ingin berbicara dengan keluarga tetapi terhalang jarak dan waktu. Hari ketika aku merasa asing di tempat yang belum pernah kukenal sebelumnya. Dan aku takut pada hari-hari itu.
Aku takut tidak cukup kuat untuk menghadapinya. Aku takut merasa sendirian. Aku takut kehilangan arah. Aku takut tidak menemukan tempatku. Aku takut membuat kesalahan. Aku takut tidak bisa mengikuti ritme kehidupan yang berbeda. Karena memulai hidup baru bukanlah sesuatu yang mudah.
Tidak peduli seberapa siap seseorang terlihat dari luar. Di dalam dirinya selalu ada ketakutan yang tidak terlihat. Aku juga takut menyesali keputusan ini.
Bagaimana jika semua pengorbanan ini ternyata sia-sia?
Bagaimana jika setelah bertahun-tahun berjuang, aku menyadari bahwa jalan ini bukan untukku?
Bagaimana jika aku kehilangan banyak hal selama perjalanan?
Bagaimana jika aku terlalu jauh meninggalkan kehidupan yang kukenal?
Pertanyaan itu pernah muncul berkali-kali. Dan setiap kali muncul, aku tidak selalu memiliki jawaban. Karena masa depan memang tidak pernah memberi petunjuk lengkap.
Ia hanya memberi pilihan.
Lalu meminta kita melangkah. Tanpa peta yang sempurna. Tanpa kepastian. Tanpa jaminan. Hanya dengan harapan. Namun setelah memikirkan semua ketakutan itu, aku menyadari sesuatu.
Ada satu ketakutan yang lebih besar. Jauh lebih besar daripada takut gagal. Jauh lebih besar daripada takut miskin. Jauh lebih besar daripada takut ditolak. Jauh lebih besar daripada takut tersesat.
Aku takut tidak pernah mencoba. Aku takut hidup dalam kemungkinan yang tidak pernah dijalani. Aku takut terus bertanya-tanya: "Bagaimana kalau waktu itu aku berani?"
Karena aku percaya ada dua jenis rasa sakit dalam hidup.
Yang pertama adalah rasa sakit karena mencoba dan gagal.
Yang kedua adalah rasa sakit karena tidak pernah mencoba sama sekali.
Dan dari semua cerita yang pernah kudengar, rasa sakit yang kedua seringkali bertahan lebih lama.
Kegagalan mungkin menyakitkan. Tetapi setidaknya ia memberi jawaban. Setidaknya ia mengajarkan sesuatu. Setidaknya ia membuat kita tahu bahwa kita pernah berusaha.
Sedangkan penyesalan tidak memberi apa-apa selain pertanyaan yang terus berulang. Pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban. Pertanyaan yang menghantui bertahun-tahun kemudian.
Aku membayangkan diriku di usia empat puluh tahun. Duduk sendirian suatu sore. Melihat ke belakang. Mengingat masa ketika aku masih memiliki kesempatan. Masih memiliki tenaga. Masih memiliki waktu. Masih memiliki keberanian untuk bermimpi. Lalu aku berkata:
"Dulu aku hampir berangkat."
Kata "hampir" terdengar sederhana. Hanya satu kata. Tetapi di dalamnya tersimpan begitu banyak hal.
Ada mimpi yang tidak jadi diwujudkan. Ada langkah yang tidak jadi diambil. Ada keberanian yang kalah oleh ketakutan. Ada kesempatan yang dibiarkan lewat begitu saja. Ada versi diri yang tidak pernah lahir. Dan itulah yang membuat kata itu begitu menyakitkan.
Karena kegagalan masih bisa diperbaiki. Kita bisa bangkit lagi. Kita bisa mencoba lagi. Kita bisa belajar lagi. Tetapi kesempatan yang tidak pernah dicoba sering kali tidak kembali.
Waktu tidak berjalan mundur. Usia tidak bisa diulang. Kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Karena itu, meskipun aku takut, aku ingin tetap melangkah. Bukan karena aku yakin akan berhasil. Bukan karena aku merasa hebat. Bukan karena aku tidak memiliki keraguan. Justru sebaliknya.
Aku melangkah sambil membawa semua ketakutan itu. Aku melangkah meskipun tanganku gemetar. Aku melangkah meskipun hatiku tidak selalu tenang. Aku melangkah karena keberanian bukanlah tidak adanya rasa takut. Keberanian adalah memilih bergerak meskipun rasa takut masih ada.
Mungkin aku akan gagal. Mungkin aku akan jatuh. Mungkin aku akan menangis. Mungkin aku akan menghadapi hari-hari yang sangat berat.
Tetapi jika semua itu terjadi, setidaknya aku akan tahu satu hal.
Aku pernah mencoba.
Aku pernah memberi diriku kesempatan. Aku pernah memperjuangkan sesuatu yang penting bagiku. Dan suatu hari nanti, ketika aku melihat ke belakang, aku tidak ingin mengingat hidupku sebagai kumpulan mimpi yang hanya tinggal rencana.
Aku ingin mengingatnya sebagai perjalanan yang benar-benar kujalani. Dengan segala ketakutan. Dengan segala keraguan. Dengan segala risiko. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa sempurna rencana kita.
Hidup adalah tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama. Dan jika suatu hari nanti aku berhasil, aku akan bersyukur. Jika aku gagal, aku akan belajar. Tetapi jika aku tidak pernah mencoba, aku hanya akan menyimpan penyesalan. Dan dari semua kemungkinan yang ada, itulah yang paling aku takuti.
Bukan kegagalan. Bukan kesulitan. Bukan ketidakpastian. Melainkan hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab: "Apa yang akan terjadi jika waktu itu aku berani melangkah?"

0 Komentar