Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian yang kutulis jauh sebelum hidup berjalan ke arah yang berbeda. Aku tidak mengubah isinya, karena aku ingin mengingat versi diriku yang pernah menuliskannya.
Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi Setelah Bertahun-Tahun Bertahan
Banyak orang mungkin bertanya kepadaku:
"Kenapa harus Jepang?"
Pertanyaan itu sebenarnya sangat wajar.
Terlebih ketika seseorang memutuskan meninggalkan pekerjaan yang sudah dijalani bertahun-tahun, keluar dari zona nyaman, lalu memilih memulai sesuatu yang sama sekali baru di negara lain.
Sebagian orang mengira aku memiliki obsesi khusus terhadap Jepang. Sebagian lagi mengira aku hanya tertarik karena gaji yang lebih tinggi. Ada juga yang berpikir bahwa aku sedang mengejar kehidupan yang lebih mudah. Padahal jika harus jujur, jawabannya tidak sesederhana itu.
Jawabannya jauh lebih panjang. Dan mungkin lebih personal daripada yang dibayangkan banyak orang. Karena bagiku, Jepang bukan tujuan akhir. Jepang hanyalah sebuah jembatan. Jembatan menuju versi diriku yang lebih baik.
Selama bertahun-tahun aku hidup dengan rutinitas yang hampir sama. Aku bekerja. Aku pulang. Aku menjalani hari demi hari dengan pola yang dapat ditebak. Tidak ada yang salah dengan kehidupan itu. Bahkan aku bersyukur karena memiliki pekerjaan yang stabil ketika banyak orang masih berjuang mencari kesempatan.
Pekerjaan itu memberiku pengalaman. Pekerjaan itu mengajariku tanggung jawab. Pekerjaan itu membantuku memahami arti kerja keras. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari sesuatu.
Aku tidak ingin hidup hanya dengan mengulangi hal yang sama selama puluhan tahun tanpa pernah mencoba melihat apa yang ada di luar lingkaran kehidupanku sekarang.
Di dalam diriku selalu ada rasa penasaran. Rasa penasaran tentang seberapa jauh aku bisa berkembang. Seberapa besar kemampuan yang sebenarnya kumiliki. Dan seberapa kuat diriku ketika ditempatkan dalam situasi yang benar-benar baru.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul selama bertahun-tahun. Tetapi selama ini pertanyaan itu hanya tinggal menjadi pikiran. Menjadi angan-angan. Menjadi kemungkinan. Dan aku mulai lelah hidup hanya di dalam kemungkinan.
Aku ingin mulai hidup di dalam kenyataan. Itulah salah satu alasan mengapa aku memilih Jepang. Bukan karena Jepang sempurna. Bukan karena hidup di sana pasti mudah. Justru sebaliknya.
Aku tahu Jepang memiliki tantangannya sendiri. Bahasanya tidak mudah. Budayanya berbeda. Lingkungan kerjanya terkenal disiplin. Musimnya berbeda dengan yang selama ini kukenal. Jaraknya jauh dari keluarga. Dan aku harus memulai banyak hal dari nol. Tetapi mungkin justru karena itulah aku tertarik. Karena pertumbuhan sering kali terjadi ketika seseorang keluar dari lingkungan yang terlalu nyaman.
Aku ingin belajar disiplin. Bukan disiplin yang dipaksakan oleh aturan. Melainkan disiplin yang menjadi bagian dari karakter. Selama ini aku sering membaca dan mendengar bagaimana masyarakat Jepang menghargai waktu. Bagaimana mereka menjaga komitmen. Bagaimana mereka berusaha melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin meskipun itu adalah pekerjaan sederhana.
Aku tidak berangkat dengan anggapan bahwa semua orang Jepang sempurna. Aku tahu tidak ada negara yang sempurna. Namun aku percaya selalu ada hal baik yang bisa dipelajari dari setiap tempat.
Dan disiplin adalah salah satu hal yang ingin kubawa pulang suatu hari nanti. Aku juga ingin belajar budaya kerja yang berbeda. Selama ini seluruh pengalaman kerjaku berada di lingkungan yang relatif sama.
Aku ingin melihat bagaimana sistem kerja di negara lain berjalan. Aku ingin memahami cara berpikir yang berbeda. Aku ingin belajar bagaimana orang-orang dari latar belakang yang berbeda menyelesaikan masalah, bekerja sama, dan menghadapi tekanan. Karena pengalaman seperti itu tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca buku atau menonton video.
Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami ketika kita benar-benar mengalaminya sendiri. Aku ingin merasakan pengalaman itu secara langsung.
Selain itu, aku ingin mendapatkan pengalaman hidup yang tidak bisa kudapatkan jika tetap berada di tempat yang sama.
Hidup bukan hanya tentang bekerja dan menghasilkan uang. Setidaknya bagiku.
Hidup juga tentang pengalaman. Tentang cerita. Tentang pelajaran yang diperoleh dari perjalanan. Aku ingin tahu bagaimana rasanya hidup di negara dengan bahasa yang berbeda.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya harus berkomunikasi dengan kemampuan bahasa yang masih terbatas. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menyelesaikan masalah sendirian tanpa bisa langsung meminta bantuan keluarga.
Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orang asing di negeri orang. Semua pengalaman itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Tetapi bagiku, itu adalah pengalaman yang sangat berharga. Karena pengalaman seperti itu akan mengubah cara seseorang melihat dunia.
Aku percaya bahwa perjalanan bukan hanya mengubah tempat yang kita tinggali. Perjalanan juga mengubah cara kita berpikir. Mengubah cara kita memahami orang lain. Mengubah cara kita memahami diri sendiri. Dan mungkin itulah yang sebenarnya sedang kucari.
Bukan sekadar negara baru. Melainkan perspektif baru.
Aku juga ingin melihat apakah aku mampu bertahan di lingkungan yang benar-benar baru. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi pertanyaan ini sudah lama ada di dalam pikiranku.
Bagaimana jika aku harus memulai hidup dari awal?
Bagaimana jika aku berada jauh dari semua hal yang familiar?
Bagaimana jika aku tidak memiliki kenyamanan yang selama ini kuanggap biasa?
Apakah aku akan mampu bertahan?
Apakah aku akan mampu beradaptasi?
Apakah aku cukup kuat?
Aku tidak tahu jawabannya.
Dan satu-satunya cara untuk mengetahui jawabannya adalah dengan mencobanya sendiri.
Kadang dalam hidup ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh teori. Tidak bisa dijawab oleh perkiraan. Tidak bisa dijawab oleh imajinasi.
Pertanyaan seperti itu hanya bisa dijawab oleh pengalaman. Karena itu aku ingin mengujinya. Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Melainkan untuk membuktikan sesuatu kepada diriku sendiri.
Aku ingin tahu sejauh mana kemampuanku. Aku ingin tahu seberapa besar keberanianku. Aku ingin tahu apakah aku mampu tumbuh ketika berada jauh dari semua yang selama ini kukenal. Namun dari semua alasan yang ada, mungkin alasan yang paling penting adalah satu hal sederhana:
Aku ingin mencoba.
Sesederhana itu.
Aku ingin mencoba.Karena selama ini terlalu banyak keputusan dalam hidup yang kutunda. Terlalu banyak mimpi yang hanya kusimpan di dalam kepala. Terlalu banyak rencana yang hanya berhenti sebagai wacana. Aku tidak ingin menghabiskan hidup dengan terus bertanya:
"Bagaimana kalau dulu aku mencoba?"
Aku tidak ingin hidup dengan penyesalan yang lahir dari kesempatan yang tidak pernah kuambil. Aku lebih siap menghadapi kegagalan daripada harus hidup dengan rasa penasaran seumur hidup.
Jika suatu hari nanti aku pergi ke Jepang dan ternyata perjalanan itu tidak berjalan sesuai harapan, setidaknya aku akan tahu bahwa aku pernah berusaha. Aku pernah melangkah. Aku pernah mencoba. Dan bagiku, itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Karena kegagalan masih bisa menjadi pelajaran. Tetapi kesempatan yang tidak pernah dicoba hanya akan menjadi tanda tanya.
Aku tidak berangkat ke Jepang karena menganggap hidupku akan langsung berubah menjadi sempurna. Aku tidak berangkat karena percaya semua masalah akan hilang begitu pesawat mendarat. Aku tidak membawa ilusi seperti itu. Aku tahu akan ada hari-hari sulit. Aku tahu akan ada rasa rindu. Aku tahu akan ada kesalahan. Aku tahu akan ada saat-saat ketika aku ingin menyerah. Tetapi aku juga tahu bahwa setiap langkah yang kuambil akan memberiku sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Yaitu pengalaman.
Dan pengalaman adalah investasi yang nilainya sering kali baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Jadi ketika seseorang bertanya kepadaku,
"Kenapa harus Jepang?"
Jawabanku tetap sama.
“Karena Jepang bukan tujuan akhir. Jepang hanyalah jembatan.”
Jembatan menuju kehidupan yang selama ini ingin kucoba. Jembatan menuju pengalaman yang selama ini ingin kurasakan. Jembatan menuju keberanian yang selama ini ingin kubuktikan. Dan mungkin, yang paling penting, Jepang adalah jembatan menuju versi diriku yang belum pernah kutemui sebelumnya.
Versi diriku yang lebih mandiri. Lebih berani. Lebih disiplin. Lebih matang dalam memandang hidup.
Aku tidak tahu seperti apa diriku lima tahun dari sekarang. Tetapi aku tahu satu hal. Aku tidak ingin masa depan itu dibangun hanya dari angan-angan dan kemungkinan.
Aku ingin membangunnya dari langkah nyata yang kuambil hari ini. Karena selama ini aku terlalu lama hidup dalam kemungkinan. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, aku memilih untuk hidup dalam kenyataan.

0 Komentar