Aku Memilih Melangkah (PART IV)

 Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi Setelah Bertahun-Tahun Bertahan 

Bab 4: Kata yang Bernama "Stuck"

Beberapa waktu lalu aku mengatakan kepada seorang teman bahwa aku merasa stuck.

Hanya satu kata.
Stuck.

Namun ternyata satu kata itu cukup untuk membuat orang memiliki banyak asumsi. 

Seolah-olah aku baru menyadarinya kemarin.
Seolah-olah selama ini aku hidup tanpa arah dan tanpa pemikiran.
Seolah-olah aku baru membuka mata setelah enam tahun berjalan di jalan yang salah. 

Bahkan ada yang mungkin menganggap bahwa enam tahun terakhir dalam hidupku adalah waktu yang terbuang sia-sia.

Padahal kenyataannya jauh lebih rumit daripada itu. Aku sudah lama menyadarinya. Sangat lama. Mungkin lebih lama daripada yang dibayangkan orang lain.

Aku tahu bahwa karier ku berjalan di tempat. Aku tahu bahwa setiap tahun yang berlalu terlihat hampir sama dengan tahun sebelumnya. Aku datang bekerja, menjalankan tugas, pulang ke rumah, lalu mengulangi rutinitas yang sama keesokan harinya. 

Aku bersyukur memiliki pekerjaan yang memberikan aku penghasilan dan pengalaman.

Namun di saat yang sama, ada bagian dari diriku yang terus bertanya apakah aku akan berada di titik yang sama lima atau sepuluh tahun lagi.

Aku tahu bahwa potensiku belum berkembang sebagaimana yang kuinginkan.

Masih banyak hal yang ingin aku pelajari. Masih banyak kemampuan yang ingin kukembangkan. Masih banyak tempat yang ingin kulihat dan pengalaman yang ingin kurasakan.

Aku tahu bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada lingkaran kecil yang selama ini kujalani. Dan aku tahu bahwa jika aku ingin melihat dunia yang lebih luas itu, maka suatu saat aku harus bergerak.

Aku juga tahu bahwa aku membutuhkan perubahan. 

Bukan karena aku membenci kehidupanku sekarang. Bukan karena aku tidak menghargai pekerjaan yang telah memberiku nafkah selama bertahun-tahun. Dan bukan pula karena aku sedang mengalami krisis sesaat.

Keinginan untuk berubah sudah hidup di dalam diriku sejak lama. Ia tumbuh perlahan, tahun demi tahun. Kadang menguat, kadang me-lemah. Namun tidak pernah benar-benar hilang.

Masalahnya, mengetahui sesuatu dan memiliki kemampuan untuk mengubahnya adalah dua hal yang berbeda.

Banyak orang berpikir bahwa kesadaran akan sebuah masalah otomatis menghasilkan solusi. Padahal tidak selalu demikian.

Kadang kita tahu persis apa yang harus dilakukan. Kita tahu jalan yang ingin ditempuh. Kita tahu tujuan yang ingin dicapai. Tetapi keadaan belum memungkinkan kita untuk melangkah. 

Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada keterbatasan biaya yang harus dipertimbangkan. Ada keluarga yang perlu dipikirkan. Ada risiko yang tidak bisa diabaikan begitu saja. 

Hidup tidak selalu memberi kita kebebasan untuk bergerak kapanpun kita mau.

Kadang kita harus menunggu. Bukan karena takut. Bukan karena malas.  Melainkan karena kita sedang mempersiapkan diri. Karena perubahan besar jarang berhasil jika dilakukan tanpa perencanaan.

Aku tidak merasa stuck karena baru menyadari kondisiku.

Aku merasa stuck karena aku sudah lama melihat garis akhir yang ingin kutuju, tetapi belum bisa berlari ke arahnya secepat yang kuinginkan.

Perasaan itu mirip seperti seseorang yang berdiri di stasiun sambil melihat kereta yang ingin dinaikinya. 

Ia tahu tujuan perjalanannya. Ia tahu ke mana ia ingin pergi. Tetapi ia masih harus menunggu waktu keberangkatan yang tepat.

Menunggu bukan berarti menyerah. Diam bukan berarti tidak memiliki mimpi. Dan bertahan bukan berarti nyaman. Kadang bertahan hanyalah bagian dari perjalanan menuju perubahan yang telah direncanakan sejak lama. Karena itulah ketika aku mengatakan bahwa aku merasa stuck, sebenarnya yang ingin kukatakan bukan bahwa aku tersesat.

Aku tahu ke mana aku ingin pergi. Aku hanya sedang berada di fase terakhir sebelum akhirnya melangkah ke arah yang selama ini telah kupersiapkan dengan sabar.

Dan aku menjawab dengan kata “Stuck” karena aku TIDAK ingin menjelaskan segala hal tentang hidupku kepada dirimu. Paham.!!

Posting Komentar

0 Komentar