Aku Memilih Melangkah (PART III)

Tulisan ini ditulis sebelum kenyataan mengubah arah perjalananku. Aku memilih menerbitkannya apa adanya, sebagai kenangan tentang seseorang yang pernah begitu percaya pada mimpinya. 

 

Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi Setelah Bertahun-Tahun Bertahan

Bab 3: Mimpi yang Berkali-kali Dikubur

Sejak lama aku memiliki mimpi. Mimpi yang sebenarnya sederhana. Bukan mimpi menjadi orang paling kaya. Bukan mimpi menjadi orang paling terkenal. Bukan pula mimpi untuk hidup mewah tanpa batas. 

Mimpiku jauh lebih sederhana dari itu.

Aku ingin belajar lebih tinggi. Aku ingin melihat dunia yang lebih luas. Aku ingin bekerja di lingkungan yang berbeda. Aku ingin mengenal kehidupan yang lebih besar daripada lingkaran yang selama ini kukenal. Aku ingin membuktikan bahwa hidupku tidak berhenti di tempat yang sama. Aku ingin menjadi versi diriku yang lebih baik dari hari ini.

Dan seperti banyak mimpi lainnya, semuanya terdengar mungkin ketika masih muda.

Saat masih duduk di bangku kuliah, masa depan terasa begitu luas. Ada begitu banyak kemungkinan yang terlihat terbuka di depan mata. Aku membayangkan diriku melanjutkan pendidikan. Aku membayangkan bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang akademikku. Aku membayangkan bisa berkontribusi lebih banyak melalui ilmu yang kupelajari.

Aku membayangkan banyak hal.

Mungkin terlalu banyak.

Karena kenyataannya, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita bayangkan ketika masih muda.

Setelah lulus kuliah, dunia yang selama ini terlihat sederhana tiba-tiba menjadi jauh lebih rumit.

Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada keluarga yang harus dipikirkan. Ada tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Ada keadaan yang menuntutku untuk segera memilih jalan yang paling realistis, bukan jalan yang paling ideal.

Dan sejak saat itulah aku mulai mengenal musuh terbesar dari banyak mimpi.

Namanya Realita.

Realita tagihan. Realita kebutuhan keluarga. Realita keterbatasan biaya. Realita keadaan ekonomi. Realita tanggung jawab. Realita yang tidak peduli seberapa besar mimpimu. Karena ketika kebutuhan hari ini harus dipenuhi, mimpi tentang lima tahun ke depan sering kali menjadi prioritas kedua. Atau bahkan tidak menjadi prioritas sama sekali.

Awalnya aku berpikir semua ini hanya sementara. Aku hanya perlu bekerja beberapa tahun. Mengumpulkan uang. Membantu keluarga sampai keadaan membaik. Lalu setelah semuanya lebih stabil, aku akan kembali mengejar mimpiku. Setidaknya itulah rencana yang disusun saat itu.

Namun hidup ternyata memiliki rencana lain. Tahun pertama berlalu. Aku masih bekerja. Tahun kedua datang. Aku masih menunda. Tahun ketiga. Tahun keempat. Tahun kelima. Dan tiba-tiba aku menyadari bahwa waktu berjalan jauh lebih cepat daripada yang kukira.

Mimpi yang dulu terasa dekat perlahan mulai menjauh. Bukan karena aku berhenti menginginkannya. Tetapi karena aku terlalu lama menundanya. Aku mulai terbiasa mengatakan satu kalimat yang sangat berbahaya:

"Nanti saja."Aku ingin mengambil kursus. Nanti saja.

Aku ingin melanjutkan pendidikan. Nanti saja.

Aku ingin mencoba peluang baru. Nanti saja.

Aku ingin keluar dari zona nyaman. Nanti saja.

Aku ingin mengejar sesuatu yang benar-benar kuinginkan. Nanti saja.

Pada awalnya kata "nanti" terdengar tidak berbahaya.

Bahkan terdengar bijaksana. Karena seolah-olah aku sedang bersabar dan menunggu waktu yang tepat. Namun semakin lama aku hidup, semakin aku menyadari bahwa kata "nanti" sering kali hanyalah cara halus untuk menunda ketakutan. Karena di balik kata itu sebenarnya ada banyak hal lain. 

Takut gagal.

Takut kehilangan penghasilan.

Takut mengecewakan keluarga.

Takut memulai dari nol.

Takut mengambil risiko.

Takut menghadapi ketidakpastian.

Dan ketakutan-ketakutan itulah yang diam-diam membuat mimpi tetap terkubur.

Aku tidak pernah benar-benar melupakannya. Aku hanya menyimpannya terlalu dalam. Ada masa ketika aku hampir menerima bahwa mungkin hidupku memang akan seperti ini.

Bangun pagi.

Berangkat kerja.

Pulang malam.

Mengulang rutinitas yang sama.

Bulan demi bulan.

Tahun demi tahun.

Tanpa perubahan yang berarti.

Aku mulai meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin inilah kehidupan yang harus kuterima. Bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mengejar mimpinya. Bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Bahwa mungkin aku harus cukup puas dengan apa yang sudah ada. Dan jujur saja, aku sempat mempercayai semua itu.

Aku sempat berpikir bahwa mengubur mimpi adalah bagian dari menjadi dewasa. Bahwa kedewasaan berarti berhenti berharap terlalu tinggi. Bahwa menjadi realistis berarti menerima keadaan apa adanya.

Namun semakin bertambah usia, semakin aku menyadari bahwa ada perbedaan besar antara menerima kenyataan dan menyerah pada keadaan. Menerima kenyataan berarti memahami kondisi yang ada sambil tetap mencari jalan. Sedangkan menyerah berarti berhenti mencari kemungkinan.

Dan tanpa kusadari, aku hampir sampai pada titik menyerah. Bukan menyerah terhadap pekerjaan. Bukan menyerah terhadap keluarga. Tetapi menyerah terhadap diriku sendiri. Menyerah terhadap mimpi-mimpi yang pernah membuatku bersemangat. Menyerah terhadap kemungkinan bahwa hidup bisa menjadi lebih luas daripada yang sedang kujalani. Menyerah terhadap harapan bahwa aku masih bisa berkembang.

Lalu suatu hari aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.

Jika aku terus hidup seperti ini, bagaimana kehidupanku lima tahun lagi?

Sepuluh tahun lagi?

Apakah aku akan bahagia?

Apakah aku akan bangga terhadap diriku sendiri?

Ataukah aku hanya akan menjadi seseorang yang terus berkata:

"Seandainya dulu aku mencoba."

Kalimat itu menghantuiku.

Karena aku sadar ada banyak orang yang hidup dalam penyesalan seperti itu.

Mereka tidak gagal karena mencoba. Mereka gagal karena tidak pernah mencoba sama sekali. Dan semakin kupikirkan, semakin aku merasa takut. Bukan takut terhadap kegagalan. Tetapi takut terhadap penyesalan. Karena kegagalan masih bisa diperbaiki. Kegagalan masih bisa menjadi pelajaran. Kegagalan masih bisa membuat seseorang tumbuh. Tetapi penyesalan karena tidak pernah mencoba sering kali tidak memiliki kesempatan kedua.

Waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Dan hidup tidak menunggu sampai kita benar-benar siap.

Saat itulah aku mulai menyadari sesuatu. Mungkin selama ini aku menunggu waktu yang sempurna. Padahal waktu yang sempurna tidak pernah benar-benar ada. Selalu ada alasan untuk menunda.

Selalu ada risiko.

Selalu ada ketidakpastian.

Selalu ada ketakutan.

Jika aku menunggu semua masalah selesai terlebih dahulu, mungkin aku tidak akan pernah melangkah.

Jika aku menunggu semua keadaan menjadi ideal, mungkin kesempatan itu sudah lama pergi.

Karena hidup bukan tentang menunggu semua lampu berubah hijau. Kadang kita harus mulai berjalan meskipun jalan di depan masih dipenuhi tanda tanya.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar yang kupahami setelah bertahun-tahun mengubur mimpi.

Mimpi tidak selalu mati karena kegagalan. Lebih sering, mimpi mati karena terlalu lama ditunda.

Mati karena terlalu banyak alasan. Mati karena terlalu banyak ketakutan. Mati karena terlalu sering berkata "nanti." 

Aku tidak ingin mimpiku berakhir seperti itu. Aku tidak ingin suatu hari nanti menoleh ke belakang dan menyadari bahwa aku sendiri yang menguburnya terlalu dalam. Karena jauh di dalam diriku, mimpi itu ternyata masih hidup.

Masih ada. Masih menunggu. Masih memanggil namaku setiap kali aku mulai merasa nyaman dengan keadaan. Masih mengingatkanku bahwa ada kehidupan yang ingin kucoba.

Ada dunia yang ingin kulihat. Ada pengalaman yang ingin kurasakan. Ada versi diriku yang belum pernah kutemui. Dan mungkin karena itulah hari ini aku memilih untuk menggali kembali mimpi yang selama ini ku kubur.

Bukan karena aku yakin akan berhasil. Bukan karena aku sudah tidak takut. Bukan karena semua keadaan sudah sempurna. Tetapi karena aku akhirnya sadar bahwa jika terus menunggu waktu yang sempurna, mungkin kesempatan itu tidak akan pernah datang. Dan aku tidak ingin menghabiskan hidupku hanya menjadi penjaga kuburan bagi mimpi-mimpiku sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar