Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian yang kutulis jauh sebelum hidup berjalan ke arah yang berbeda. Aku tidak mengubah isinya, karena aku ingin mengingat versi diriku yang pernah menuliskannya.
Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi Setelah Bertahun-Tahun Bertahan
Bab 2: Menjadi Anak Pertama
Ada hal yang sulit dijelaskan kepada orang lain.
Terutama kepada mereka yang tidak pernah berada di posisi yang sama.
Menjadi anak pertama bukan sekadar urutan kelahiran yang tertulis di kartu keluarga. Bukan hanya tentang siapa yang lahir lebih dulu dibanding saudara-saudaranya. Seiring bertambahnya usia, aku menyadari bahwa menjadi anak pertama sering kali berarti memikul tanggung jawab yang tidak pernah secara resmi diberikan, tetapi perlahan-lahan melekat dengan sendirinya.
Tidak ada yang pernah menunjuk dan berkata, "Mulai hari ini kamu bertanggung jawab atas keluarga."
Tidak ada upacara khusus yang menandai momen itu.
Tidak ada surat keputusan yang menyatakan bahwa aku harus menjadi lebih kuat daripada yang lain.
Tetapi entah bagaimana, peran itu tumbuh dengan sendirinya.
Pelan-pelan.
Tanpa kusadari.
Menjadi anak pertama sering kali berarti menjadi orang yang harus kuat lebih dulu.
Menjadi orang yang harus mengalah lebih dulu.
Menjadi orang yang harus memahami keadaan lebih dulu.
Menjadi orang yang harus memikirkan banyak hal bahkan sebelum orang lain menyadarinya.
Aku tidak mengatakan bahwa hidupku paling berat.
Aku juga tidak ingin membandingkan beban ku dengan beban orang lain.
Karena setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing.
Setiap keluarga memiliki ceritanya sendiri.
Dan setiap anak memiliki luka yang mungkin tidak pernah terlihat.
Tetapi aku hanya ingin jujur tentang apa yang kurasakan selama ini.
Ada banyak malam ketika aku duduk sendirian memikirkan angka-angka.
Bukan angka nilai ujian.
Bukan angka pencapaian.
Melainkan angka pengeluaran.
Angka kebutuhan rumah.
Angka tagihan.
Angka yang menentukan apakah bulan depan akan berjalan dengan aman atau tidak.
Saat teman-teman seusiaku sibuk memikirkan rencana liburan, kendaraan impian, atau tempat nongkrong baru, aku sering kali sibuk menghitung kebutuhan keluarga.
Aku belajar memahami bahwa hidup tidak selalu memberi kita kesempatan untuk memikirkan diri sendiri terlebih dahulu.
Kadang kita harus memikirkan orang lain lebih dulu.
Dan dalam banyak kesempatan, itulah yang kulakukan.
Ada banyak keinginan yang kutunda.
Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kulakukan.
Ada banyak tempat yang ingin kukunjungi.
Ada banyak keterampilan yang ingin aku pelajari.
Ada banyak mimpi yang ingin kukejar.
Namun berkali-kali aku harus mengatakan kepada diriku sendiri:
"Nanti saja."
Kalimat sederhana itu menjadi sangat akrab dalam hidupku.
Aku ingin melanjutkan pendidikan.
Nanti saja.
Aku ingin mengambil pelatihan tertentu.
Nanti saja.
Aku ingin mencoba peluang baru.
Nanti saja.
Aku ingin membeli sesuatu yang kusukai.
Nanti saja.
Aku ingin memikirkan diriku sendiri.
Nanti saja.
Awalnya aku berpikir penundaan itu hanya sementara.
Hanya beberapa bulan.
Hanya satu atau dua tahun.
Tetapi tanpa terasa, tahun demi tahun berlalu.
Dan kata "nanti" terus mengikuti hidupku.
Sampai suatu hari aku menyadari bahwa sebagian besar mimpiku telah berubah menjadi sesuatu yang hanya kusimpan diam-diam.
Aku tidak berhenti memimpikannya.
Aku hanya berhenti membicarakannya.
Karena rasanya lebih mudah begitu.
Lebih mudah memendam daripada menjelaskan.
Lebih mudah diam daripada harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali.
"Memangnya yakin bisa?"
"Memangnya masih mungkin?"
"Memangnya tidak terlambat?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu perlahan membuat seseorang memilih untuk menyimpan mimpinya sendirian.
Bukan karena mimpi itu hilang. Tetapi karena ia lelah menjelaskannya.
Ada satu hal yang sering tidak terlihat dari menjadi anak pertama.
Orang-orang melihat kita sebagai sosok yang kuat. Mereka melihat kita sebagai orang yang bisa diandalkan. Mereka melihat kita sebagai orang yang selalu punya solusi. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Sering kali kami juga bingung.
Sering kali kami juga takut.
Sering kali kami juga ingin menyerah.
Tetapi kami tidak tahu kepada siapa harus menunjukkannya.
Karena ketika semua orang mengandalkanmu, menunjukkan kelemahan terkadang terasa seperti kemewahan yang tidak bisa dimiliki.
Maka kami belajar menyembunyikannya.
Kami tersenyum.
Kami berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Kami mengatakan bahwa kami sanggup.
Padahal dalam hati, kami juga sedang mencari jawaban.
Aku masih ingat masa-masa ketika aku mulai bekerja.
Saat itu aku memiliki banyak harapan.
Aku berpikir bahwa beberapa tahun bekerja akan memberiku kesempatan untuk mengejar hal-hal yang kuinginkan.
Aku berpikir bahwa setelah keadaan keluarga membaik, aku bisa mulai fokus pada diriku sendiri.
Tetapi hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Selalu ada kebutuhan baru.
Selalu ada keadaan tak terduga.
Selalu ada prioritas yang berubah.
Dan setiap kali harus memilih antara diriku sendiri atau kebutuhan keluarga, aku hampir selalu memilih yang kedua.
Bukan karena terpaksa. Tetapi karena aku mencintai mereka. Karena aku tahu seperti apa rasanya hidup dalam keterbatasan. Karena aku tahu bahwa jika aku masih mampu membantu, maka aku ingin membantu.
Dan jujur saja, aku tidak pernah menyesali itu.
Jika waktu bisa diputar kembali, mungkin aku akan tetap mengambil keputusan yang sama.
Aku akan tetap bekerja keras.
Aku akan tetap membantu semampuku.
Aku akan tetap berusaha menjadi seseorang yang bisa diandalkan.
Karena keluarga adalah alasan terbesar mengapa aku mampu bertahan selama ini.
Namun ada satu kenyataan yang mulai kusadari ketika usia terus bertambah.
Aku tidak bisa terus-menerus menunda hidupku sendiri.
Aku tidak bisa terus-menerus mengubur semua keinginanku hanya karena merasa bersalah jika memikirkannya.
Aku tidak bisa terus hidup hanya sebagai penyelesai masalah tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya kuinginkan.
Karena pada akhirnya, aku juga manusia.
Aku juga memiliki mimpi.
Aku juga memiliki ketakutan.
Aku juga memiliki harapan.
Dan harapan itu layak diperjuangkan.
Mungkin inilah yang paling sulit dijelaskan kepada orang lain.
Ketika aku memutuskan untuk mengambil jalan baru, sebagian orang mungkin melihatnya sebagai tindakan egois.
Mereka mungkin berpikir aku terlalu memikirkan diri sendiri.
Mereka mungkin berpikir aku sedang mengejar sesuatu yang tidak pasti.
Mereka mungkin bertanya mengapa aku meninggalkan sesuatu yang sudah stabil.
Padahal yang mereka lihat hanyalah satu keputusan di permukaan.
Mereka tidak melihat tahun-tahun panjang yang mendahuluinya.
Mereka tidak melihat berapa banyak mimpi yang sudah kutunda.
Mereka tidak melihat berapa banyak kesempatan yang kulepaskan.
Mereka tidak melihat berapa banyak malam yang kulewati dengan memikirkan kebutuhan orang lain sebelum memikirkan diriku sendiri.
Karena itulah, ketika akhirnya aku memutuskan untuk mengejar sesuatu yang kuinginkan, itu bukanlah keputusan yang lahir dari ego.
Justru sebaliknya.
Keputusan itu lahir setelah bertahun-tahun mengalah.
Setelah bertahun-tahun menunggu.
Setelah bertahun-tahun meyakinkan diriku bahwa waktuku akan datang.
Dan mungkin sekarang adalah waktunya.
Bukan untuk meninggalkan keluarga.
Bukan untuk berhenti peduli kepada mereka.
Bukan untuk lari dari tanggung jawab.
Tetapi untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik.
Untuk menjadi versi diriku yang lebih berkembang.
Untuk membuka kemungkinan yang selama ini hanya ada dalam bayangan.
Karena aku percaya satu hal.
Jika aku terus menjadi versi diriku yang sekarang, mungkin aku bisa bertahan.
Tetapi jika aku berani berkembang, mungkin aku bisa memberi lebih banyak kepada keluargaku di masa depan.
Mungkin aku bisa membantu dengan cara yang lebih besar.
Mungkin aku bisa membuka jalan yang lebih baik.
Mungkin aku bisa membawa perubahan yang selama ini hanya menjadi harapan.
Dan itulah alasan mengapa aku memilih melangkah.
Bukan karena aku lelah mencintai keluargaku.
Justru karena aku mencintai mereka.
Dan juga karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku ingin memberikan sedikit ruang untuk diriku sendiri.
Aku ingin mencoba mendengarkan suara kecil yang selama bertahun-tahun terus berkata:
"Bagaimana jika kali ini kamu memperjuangkan mimpimu?"
Pertanyaan itu terus tinggal di kepalaku.
Dan semakin hari, aku semakin sulit mengabaikannya.
Karena setelah bertahun-tahun hidup untuk kebutuhan banyak orang, aku mulai bertanya kepada diriku sendiri:
"Kapan giliran aku memperjuangkan diriku sendiri?"
Dan mungkin, setelah semua perjalanan panjang ini, jawabannya adalah:
Sekarang.

0 Komentar