Aku Memilih Melangkah (PART 1)

 Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi Setelah Bertahun-Tahun Bertahan



Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian yang kutulis jauh sebelum hidup berjalan ke arah yang berbeda. Aku tidak mengubah isinya, karena aku ingin mengingat versi diriku yang pernah menuliskannya.

AKU TIDAK BUTUH DIPAHAMI

Prolog: Tentang Sepatu yang Tidak Dipakai Orang Lain

Aku pernah membaca sebuah kalimat sederhana: 
"Jangan menilai seseorang sebelum berjalan satu mil dengan sepatunya."

Kalimat itu terdengar klise. Terlalu sering diulang hingga perlahan kehilangan daya pukau. Ia muncul di media sosial, buku motivasi, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Saking seringnya didengar, banyak orang mungkin menganggapnya sebagai kalimat biasa yang tidak lagi memiliki makna khusus.

Namun semakin bertambah usia, semakin aku memahami bahwa kalimat itu menyimpan kebenaran yang tidak sederhana.

Setiap orang memang berjalan dengan sepatunya masing-masing.

Sepasang sepatu yang mungkin terlihat biasa dari luar, tetapi menyimpan jejak perjalanan yang tidak diketahui siapa pun.

Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi orang lain.

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang dipikirkan seseorang saat ia tersenyum di tengah keramaian.

Tidak ada yang tahu berapa banyak kekhawatiran yang mengganggu tidurnya setiap malam.

Tidak ada yang tahu berapa banyak tangisan yang ia sembunyikan di balik pintu kamar.

Tidak ada yang tahu berapa kali ia harus berpura-pura kuat hanya agar orang-orang yang bergantung kepadanya tidak ikut merasa khawatir.

Dan tidak ada yang tahu berapa banyak hal yang sedang ia sembunyikan di balik kalimat sederhana: "Aku baik-baik saja."

Semakin dewasa, aku menyadari bahwa sebagian besar manusia hidup dengan cerita yang tidak pernah selesai diceritakan.

Kita hanya melihat potongan-potongan kecil kehidupan orang lain. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak melihat kesedihannya. Kita melihat hasilnya, tetapi tidak melihat proses panjang yang mengantarkannya ke sana. Kita melihat keputusannya hari ini, tetapi tidak pernah benar-benar mengetahui pergulatan yang membuat keputusan itu lahir. Sayangnya, manusia sering kali terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Kita melihat seseorang berhenti bekerja lalu menganggapnya menyerah.
Kita melihat seseorang memulai dari nol lalu menganggapnya gagal.
Kita melihat seseorang mengambil jalan berbeda lalu menganggapnya sedang tersesat.

Padahal mungkin kita hanya melihat satu halaman dari buku yang memiliki ratusan halaman lainnya. Karena itulah aku tidak pernah terlalu berharap untuk dipahami.

Harapan itu terlalu berat. 
Terlalu sulit.

Dan mungkin memang tidak realistis.

Aku hanya berharap orang-orang tidak terburu-buru menghakimi sesuatu yang tidak mereka jalani sendiri. Karena tidak semua keputusan bisa dijelaskan dalam lima menit percakapan.

Tidak semua luka bisa dirangkum dalam satu paragraf.
Tidak semua perjuangan terlihat oleh mata.

Ada perjuangan yang tidak menghasilkan sertifikat.
Ada perjuangan yang tidak mendapat tepuk tangan.
Ada perjuangan yang tidak pernah diunggah ke media sosial.
Ada perjuangan yang berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun tanpa diketahui siapa pun.

Dan sering kali, justru perjuangan seperti itulah yang paling melelahkan.

Beberapa waktu terakhir, aku mulai menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak pernah benar-benar kuceritakan kepada siapa pun. 

Bukan karena aku ingin terlihat misterius.
Bukan karena aku merasa paling menderita.
Tetapi karena terkadang ada hal-hal yang terlalu rumit untuk dijelaskan.

Ada keputusan yang lahir dari bertahun-tahun pertimbangan.
Ada mimpi yang berkali-kali dikubur lalu digali kembali.
Ada ketakutan yang terus hidup berdampingan dengan harapan.

Dan ada pertarungan panjang yang berlangsung begitu lama di dalam kepala hingga akhirnya menjadi bagian dari keseharian.

Hari ini aku ingin menuliskan salah satu bagian dari perjalanan itu.

Sebuah keputusan yang mungkin terlihat aneh bagi sebagian orang.
Sebuah keputusan yang mungkin dianggap terlambat.
Bahkan mungkin dianggap nekat.

Keputusan untuk meninggalkan pekerjaan yang telah memberiku penghidupan selama enam tahun.
Keputusan untuk meninggalkan rutinitas yang selama ini memberiku rasa aman.
Keputusan untuk melepaskan kenyamanan yang susah payah kubangun.
Keputusan untuk kembali menjadi murid di usia yang tidak lagi muda.
Keputusan untuk belajar lagi ketika banyak orang seusiaku sedang sibuk membangun kehidupan yang lebih mapan.
Keputusan untuk mengambil risiko besar demi sesuatu yang belum tentu berhasil.
Keputusan untuk mencoba mengejar Jepang.

Bagi sebagian orang, mungkin ini terlihat seperti langkah mundur.

Meninggalkan pekerjaan tetap demi ketidakpastian. Menukar kenyamanan dengan risiko. Menukar kepastian gaji bulanan dengan kemungkinan yang belum jelas ujungnya. Dan jujur saja, aku memahami jika ada yang berpikir demikian. Karena dari luar, memang itulah yang terlihat.

Tetapi hidup tidak pernah sesederhana apa yang terlihat dari luar.

Orang-orang melihat keputusanku hari ini, tetapi tidak melihat lima tahun pertimbangan yang mendahuluinya. 

Mereka melihat keberangkatanku nanti, tetapi tidak melihat berapa kali aku mengurungkan niat karena keadaan. 

Mereka melihat langkahku sekarang, tetapi tidak melihat berapa lama aku berdiri di persimpangan sambil bertanya kepada diriku sendiri jalan mana yang harus kupilih.

Keputusan ini bukan lahir dalam satu malam. Bukan pula hasil dari emosi sesaat.

Ia lahir dari tahun-tahun panjang yang dipenuhi keraguan, ketakutan, harapan, dan pertanyaan yang terus berulang. Dan mungkin, lebih dari apa pun, keputusan ini lahir dari kesadaran bahwa waktu tidak pernah berhenti berjalan.

Usiaku terus bertambah.
Kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Dan mimpi yang terlalu lama ditunda perlahan bisa berubah menjadi penyesalan.

Bukan karena aku membenci kehidupanku sekarang.
Bukan karena pekerjaanku buruk.
Bukan karena aku tidak bersyukur atas semua yang telah kumiliki.
Justru sebaliknya. Aku sangat bersyukur.

Pekerjaan ini telah memberiku penghidupan.
Pekerjaan ini telah mengajarkanku banyak hal.
Pekerjaan ini telah membentukku menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dibanding enam tahun yang lalu.

Namun rasa syukur dan keinginan untuk bertumbuh bisa hidup berdampingan. Mencintai tempat kita berada tidak berarti kita harus berhenti melangkah.

Bersyukur atas apa yang dimiliki tidak berarti kita harus mengubur semua mimpi yang belum tercapai.

Dan mungkin itulah alasan sebenarnya mengapa aku menulis tulisan ini. Karena ada mimpi yang terlalu lama ku kubur.

Mimpi yang berkali-kali kutinggalkan demi kebutuhan yang lebih mendesak.
Mimpi yang selama bertahun-tahun hanya kupandangi dari kejauhan.
Mimpi yang selalu ditunda dengan alasan "nanti".

Sampai akhirnya aku sadar bahwa kata "nanti" bisa berubah menjadi "tidak pernah" tanpa kita sadari.

Dan aku takut.

Aku takut jika terus menguburnya, suatu hari nanti aku akan lupa bagaimana rasanya berharap.

Aku takut menjadi seseorang yang hidup hanya untuk bertahan tanpa lagi memiliki sesuatu yang diperjuangkan.

Aku takut kehilangan keberanian untuk mencoba. 

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya hidup dari apa yang berhasil ia capai.

Manusia juga hidup dari harapan-harapan yang membuatnya tetap melangkah.

Maka tulisan ini bukan tentang keberanian yang sempurna. 

Bukan tentang keyakinan bahwa semuanya akan berhasil. 

Tulisan ini adalah tentang seseorang yang masih takut, masih ragu, masih penuh pertanyaan, tetapi memutuskan untuk melangkah juga. 

Dan mungkin, untuk saat ini, itu sudah cukup.



Bab 1: Enam Tahun yang Mengubahku

Ketika pertama kali bekerja enam tahun yang lalu, aku adalah orang yang berbeda.

Aku masih penakut.
Aku masih mudah menangis.
Aku masih sering meragukan diriku sendiri.
Aku tidak pandai berbicara.
Aku tidak terlalu percaya diri.
Aku bahkan tidak benar-benar yakin akan menjadi seperti apa masa depanku.

Saat itu aku hanyalah seorang anak perempuan yang berusaha mencari tempatnya di dunia. Seseorang yang masih bingung dengan hidupnya sendiri, tetapi pada saat yang sama dituntut untuk terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.

Aku tidak memiliki banyak pilihan.

Seperti kebanyakan orang, aku hanya ingin bekerja dengan baik, mendapatkan penghasilan yang cukup, dan membantu keluargaku semampuku.
Sesederhana itu.

Namun hidup ternyata tidak pernah sesederhana yang kita bayangkan ketika masih muda.

Hari demi hari berlalu.
Minggu berubah menjadi bulan.
Bulan berubah menjadi tahun.
Dan tanpa kusadari, aku mulai menjalani rutinitas yang sama berulang kali.

Bangun pagi.
Berangkat bekerja.
Menghadapi berbagai persoalan.
Pulang dalam keadaan lelah.
Tidur.

Lalu mengulang semuanya kembali keesokan harinya.

Pada awalnya aku berpikir pekerjaan hanya tentang mencari uang.

Tetapi semakin lama aku bekerja, semakin aku menyadari bahwa pekerjaan juga sedang membentuk diriku secara perlahan.

Setiap masalah mengajarkan sesuatu.
Setiap kesalahan memberikan pelajaran.
Setiap tekanan memaksaku bertumbuh.
Sedikit demi sedikit aku berubah.

Bukan karena aku ingin berubah.

Tetapi karena keadaan memaksaku berubah.
Hidup seolah berkata bahwa jika aku ingin bertahan, maka aku harus belajar.

Dan aku belajar.

Aku belajar menyelesaikan masalah yang sebelumnya membuatku panik.
Aku belajar mengambil keputusan ketika tidak ada orang lain yang bisa dimintai bantuan.
Aku belajar menghadapi pelanggan yang marah.
Aku belajar menghadapi komplain.
Aku belajar menghadapi target.
Aku belajar menghadapi tekanan yang datang hampir setiap hari.

Aku belajar menghadapi konflik dengan rekan kerja.
Aku belajar menghadapi orang-orang yang tidak menyukaiku tanpa alasan yang jelas.
Aku belajar menghadapi orang-orang yang meremehkanku.

Aku belajar menghadapi kegagalan.
Aku belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua usaha akan dihargai sebagaimana mestinya.
Aku belajar bahwa dunia kerja tidak selalu adil.

Dan yang paling penting, aku belajar bertahan. 

Karena ternyata bertahan adalah salah satu kemampuan yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Tidak ada mata pelajaran tentang bagaimana tetap tersenyum ketika hatimu sedang kacau.
Tidak ada mata pelajaran tentang bagaimana tetap bekerja ketika pikiranmu dipenuhi masalah keluarga.
Tidak ada mata pelajaran tentang bagaimana menjadi kuat ketika sebenarnya kamu ingin menyerah.

Semua itu diajarkan langsung oleh kehidupan.

Dan biaya sekolahnya tidak murah.
Dibayar dengan tenaga.
Dibayar dengan waktu.
Dibayar dengan air mata.
Dibayar dengan banyak hal yang tidak pernah diketahui orang lain.

Ada hari-hari ketika aku pulang dengan tubuh yang sangat lelah.
Ada hari-hari ketika aku merasa ingin menyerah.
Ada hari-hari ketika aku mempertanyakan apakah semua ini memang layak diperjuangkan.
Namun keesokan paginya aku tetap bangun dan kembali bekerja.

Bukan karena aku hebat.

Tetapi karena aku tidak punya pilihan lain.

Ada orang-orang yang bergantung pada penghasilanku.
Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada tagihan yang harus dibayar.
Ada masa depan keluarga yang ikut menjadi tanggung jawabku.
Dan ketika seseorang memiliki tanggung jawab, ia sering kali tidak diberi kemewahan untuk menyerah.

Maka aku terus berjalan.
Pelan.
Tertatih.
Kadang penuh semangat.
Kadang penuh keraguan.
Tetapi tetap berjalan.

Dalam enam tahun itu, aku melihat banyak hal berubah.

Aku melihat rekan kerja datang dan pergi.
Aku melihat orang-orang mengundurkan diri untuk mengejar impian mereka.
Aku melihat orang-orang menikah, memiliki keluarga, dan memulai kehidupan baru.
Aku melihat dunia berubah.
Aku melihat diriku sendiri berubah.

Kadang ketika melihat foto-foto lamaku, aku hampir tidak mengenali orang yang ada di sana.

Wajahnya mungkin sama.
Namanya masih sama.
Tetapi isi kepalanya sudah berbeda.
Hatinya sudah berbeda.
Cara memandang hidupnya sudah berbeda.

Enam tahun yang lalu aku adalah seseorang yang takut menghadapi dunia.
Hari ini aku adalah seseorang yang sudah terlalu sering berhadapan dengan kenyataan.

Dan meskipun aku bersyukur atas semua pelajaran itu, ada satu hal yang kadang membuatku sedih.

Dalam proses menjadi kuat, ada bagian diriku yang terasa hilang.

Aku menjadi lebih berani.

Tetapi aku juga menjadi lebih keras.

Aku menjadi lebih tegas.

Tetapi aku juga menjadi lebih mudah marah.

Aku menjadi lebih tahan banting.

Tetapi aku juga menjadi lebih lelah.

Aku belajar untuk tidak terlalu banyak mengeluh.

Namun akibatnya, aku juga semakin terbiasa menyimpan semuanya sendirian.

Aku memendam kekhawatiran.
Aku memendam kesedihan.
Aku memendam rasa takut.
Aku memendam banyak hal sampai akhirnya semua itu terasa normal.

Padahal tidak.

Tidak semua hal harus ditanggung sendirian.

Namun entah sejak kapan aku terbiasa melakukan itu.

Mungkin karena aku merasa harus kuat.
Mungkin karena aku tidak ingin merepotkan orang lain.
Atau mungkin karena aku tahu bahwa pada akhirnya tetap aku sendiri yang harus menghadapi semuanya.

Kadang aku merindukan diriku yang dulu.

Bukan karena aku ingin kembali menjadi penakut.
Bukan karena aku ingin kembali menjadi lemah.

Tetapi karena dulu aku masih memiliki keberanian untuk bermimpi tanpa terlalu banyak perhitungan.

Aku masih percaya bahwa segala sesuatu mungkin terjadi.

Aku masih memiliki antusiasme yang sederhana terhadap masa depan.

Sedangkan sekarang, setelah enam tahun menghadapi kenyataan, aku menjadi lebih realistis.

Terlalu realistis bahkan.

Sampai-sampai aku sering membunuh harapanku sendiri sebelum sempat tumbuh.

Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa mimpi itu terlalu jauh.

Bahwa usiaku sudah tidak muda lagi.
Bahwa kondisi keluargaku tidak memungkinkan.
Bahwa aku harus bersyukur dengan apa yang ada.
Bahwa mungkin ini memang jalanku.

Dan tanpa kusadari, aku mulai hidup hanya untuk bertahan.

Bukan untuk berkembang.
Bukan untuk mengejar sesuatu.
Hanya Bertahan.

Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu.

Enam tahun ini memang mengubahku menjadi lebih kuat.
Tetapi aku tidak ingin kekuatan itu hanya digunakan untuk bertahan hidup.

Aku ingin kekuatan itu juga digunakan untuk memperjuangkan sesuatu yang selama ini terus kutunda.

Karena jika enam tahun ini telah mengajarkanku apa pun, pelajaran terbesarnya adalah : Waktu berjalan jauh lebih cepat daripada yang kita kira. Dan suatu hari nanti, kita akan menyesal bukan karena gagal. Melainkan karena terlalu lama takut untuk mencoba.

Posting Komentar

0 Komentar