Sebelum Tujuh Tulisan Itu Terbit

 Bukittinggi, 21 Juli 2026


"Tulisan tidak selalu lahir untuk merayakan keberhasilan. Kadang ia hanya bertugas mengabadikan seseorang yang pernah berani bermimpi."

Hello, semuanya.

Sudah cukup lama aku memikirkan apakah tulisan ini perlu diterbitkan atau tidak. Berkali-kali aku membuka halaman kosong, lalu menutupnya kembali. Rasanya selalu ada keraguan yang menahan jemariku untuk mulai mengetik.


Biasanya, sebelum membagikan sebuah cerita, orang-orang akan menulis side story, cerita di balik layar tentang bagaimana sebuah perjalanan akhirnya berhasil mereka lalui. Namun kali ini, aku ingin menulis sesuatu yang berbeda. Bukan tentang keberhasilan, melainkan tentang sebuah rencana yang gagal terwujud.


Ada satu judul tulisan yang telah lama kusimpan. Bukan hanya satu artikel, tetapi tujuh draft yang saling berhubungan. Di dalamnya tersimpan begitu banyak mimpi, rencana yang kususun dengan hati-hati, harapan yang kupelihara setiap hari, serta doa-doa yang diam-diam kupanjatkan dalam setiap sujud.


Ironisnya, sebelum satu pun dari ketujuh tulisan itu sempat terbit, kehidupan lebih dahulu mengubah jalan ceritanya.


Mimpi yang kutuliskan di dalamnya belum sempat menjadi kenyataan. Ia justru dipaksa berhenti, mundur, bahkan harus ku kubur sedalam-dalamnya.


Itulah alasan mengapa selama ini aku tidak pernah berani menekan tombol "Publikasikan."


Sejujurnya, aku takut.


Bayangkan saja, satu judul dengan tujuh draft yang sudah selesai ditulis, tetapi semuanya hanya tersimpan rapi sebagai konsep. Mereka seperti barang yang sudah lama berada di keranjang belanja sebuah toko daring—sudah dipilih dengan penuh keyakinan, sudah dibayangkan akan dimiliki, tetapi entah mengapa tak pernah benar-benar dibayar. Hari demi hari berlalu, dan akhirnya hanya menjadi daftar keinginan yang terus menunggu tanpa kepastian.


Setengah dari hatiku ingin sekali menerbitkan semua tulisan itu. Aku ingin mengabadikan versi diriku yang pernah memiliki keberanian untuk bermimpi sebesar itu. Aku ingin mengenang seseorang yang pernah begitu yakin bahwa semua rencananya akan menemukan jalannya.


Namun, setengah hatiku yang lain dipenuhi ketakutan.


Aku takut orang-orang menganggap tulisanku hanyalah omong kosong. Aku takut dianggap terlalu percaya diri, terlalu banyak bicara, atau sekadar pandai menyusun kata-kata tanpa mampu mewujudkannya. Aku membayangkan berbagai penilaian yang mungkin muncul, bahkan sebelum ada satu orang pun yang benar-benar membacanya.


Yang paling sulit sebenarnya bukanlah menghadapi penilaian orang lain.


Yang paling sulit adalah menerima kenyataan bahwa aku sendiri belum mampu menerima kegagalan ini.


Setelah semua perjuangan yang kulalui, semua kesabaran yang kupelihara, dan semua usaha yang kulakukan untuk membawa mimpi itu semakin dekat, ternyata hidup tetap memiliki cerita yang berbeda dari apa yang sudah kutuliskan.


Mungkin inilah pertama kalinya aku menyadari bahwa tidak semua tulisan lahir setelah sebuah mimpi berhasil diwujudkan. Ada juga tulisan yang lahir justru karena mimpinya harus berhenti di tengah jalan.


Dan mungkin, itulah alasan mengapa hari ini aku memilih menulis pengantar ini terlebih dahulu.


Bukan untuk mencari belas kasihan, bukan pula untuk meminta pembenaran. Melainkan agar ketika tujuh draft itu akhirnya kubagikan satu per satu, orang-orang tidak sedang membaca kisah tentang seseorang yang berhasil menggapai mimpinya.


Mereka sedang membaca jejak seseorang yang pernah begitu percaya pada mimpinya, meskipun pada akhirnya kehidupan memilih arah yang berbeda. Karena pada akhirnya, mimpi itu memang tidak berhasil aku wujudkan.


Namun aku tetap ingin menyimpan kenangan tentang seseorang yang pernah berani memperjuangkannya.


Pengantar ini aku persembahkan kepada tulisanku yang berjudul “Aku Memilih Melangkah”


Maka izinkan aku membagikan tujuh tulisan ini sebagaimana adanya. Bukan sebagai catatan keberhasilan, melainkan sebagai arsip dari mimpi yang pernah hidup—dan seseorang yang pernah percaya bahwa ia bisa meraihnya.

Posting Komentar

0 Komentar