Malam Ketika Sumbar, Riau, Sumut, dan Aceh Gelap Bersamaan


Sejujurnya aku tidak melakukan hal spesial saat listrik mati tadi malam.

Tidak ada cerita romantis menyalakan lilin sambil memandang hujan. Tidak ada juga momen duduk di teras rumah sambil menikmati langit malam seperti di film-film. Bahkan aku tidak melakukan apa-apa selain mencoba menghemat baterai handphone.

Setelah shalat Isya dan makan malam dengan sate, aku memilih langsung tidur.

Iya, sesederhana itu.

Karena di zaman sekarang, saat listrik mati lama, yang paling dijaga pertama kali bukan lagi persediaan lilin… melainkan persentase baterai.

Dan lucunya, saat semuanya tiba-tiba gelap, aku baru sadar betapa hidup kita benar-benar bergantung pada listrik.

Biasanya malam-malam seperti itu aku masih scrolling TikTok, membuka Instagram, menonton drama, atau sekadar mendengarkan musik sambil rebahan. Kadang tanpa sadar waktu berjalan cepat sampai larut malam. Tapi saat listrik mati, semua kebiasaan itu seperti dipaksa berhenti sekaligus.

Kipas angin berhenti.

Lampu padam.

Suara mesin-mesin hilang.

Dan malam mendadak terasa sangat sunyi.

Aku tinggal di lingkungan yang biasanya cukup ramai. Selalu ada suara televisi dari rumah tetangga, suara motor lewat, atau cahaya lampu yang masuk dari luar jendela. Tapi tadi malam berbeda. Semuanya terasa gelap dan lebih tenang dari biasanya.

Awalnya aku masih berharap listrik segera hidup kembali. Seperti mati lampu pada umumnya yang biasanya hanya sebentar. Tapi semakin malam berlalu, suasana mulai terasa aneh.

Orang-orang mulai keluar rumah.

Ada yang duduk di depan warung.

Ada yang menyalakan senter.

Ada yang sibuk mengecek grup WhatsApp.

Ada juga yang mulai bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Karena ternyata bukan hanya daerahku yang mati listrik.


Sumbar.

Riau.

Sumut.

Aceh.

Beberapa wilayah mengalami hal yang sama.

Dan saat tahu listrik padam cukup luas, suasananya langsung berubah. Ada rasa aneh ketika sadar bahwa bukan hanya rumah kita yang gelap, tetapi hampir satu pulau merasakan hal yang sama.

Tapi lagi-lagi, aku tidak melakukan sesuatu yang dramatis.

Aku hanya berpikir:

“lebih baik tidur saja supaya baterai hemat.”

Mungkin terdengar lucu, tapi memang itu kenyataannya.

Karena sekarang handphone sudah seperti benda paling penting saat listrik mati. Semua informasi ada di sana. Komunikasi ada di sana. Hiburan ada di sana. Bahkan rasa tenang juga kadang ikut bergantung pada benda kecil itu.

Makanya saat baterai mulai turun, rasa cemas perlahan ikut muncul.

Dan malam itu aku benar-benar menghemat baterai. Tidak membuka aplikasi yang tidak penting. Tidak scrolling terlalu lama. Tidak mendengarkan musik.

Aku bahkan tidur lebih cepat dari biasanya.

Dan jujur saja, rasanya aneh.

Karena sudah lama sekali aku tidak tidur sepagi itu.

Biasanya malam dipenuhi cahaya layar handphone. Mata masih sibuk melihat video-video pendek yang entah kenapa tidak ada habisnya. Tapi tadi malam, karena semuanya mati, tubuh seperti dipaksa kembali mengikuti ritme yang lebih sederhana.


Gelap.

Diam.

Tidur.

Mungkin terdengar biasa saja. Tapi entah kenapa suasana malam itu terasa berbeda.

Aku jadi sadar kalau listrik ternyata bukan cuma soal cahaya.

Listrik membuat hidup terasa hidup.

Tanpa listrik, dunia seperti melambat.

Dan saat semuanya mendadak berhenti, kita jadi bingung harus melakukan apa.

Lucunya lagi, mati lampu membuat kita sadar betapa sedikitnya aktivitas yang bisa dilakukan tanpa teknologi. Bahkan banyak orang sekarang tidak tahu harus melakukan apa saat handphone lowbat dan listrik mati bersamaan.

Aku termasuk salah satunya.

Tidak ada WiFi.

Tidak ada kipas.

Tidak ada hiburan.

Tidak ada charger.

Dan malam terasa jauh lebih panjang.

Aku sempat mendengar suara orang-orang di luar rumah. Ada yang tertawa, ada yang ngobrol, ada juga yang terdengar kesal karena listrik tidak kunjung hidup. Tapi aku memilih tetap di dalam kamar.

Bukan karena takut atau kenapa.

Aku hanya terlalu malas untuk melakukan apa pun.

Setelah makan sate dan shalat Isya, energiku memang sudah habis. Ditambah suasana gelap membuat tubuh semakin ingin cepat tidur.

Dan mungkin itu pertama kalinya setelah sekian lama aku benar-benar tidur tanpa distraksi apa pun.

Tidak ada suara notifikasi.

Tidak ada video TikTok terakhir sebelum tidur.

Tidak ada lagu pengantar tidur.

Hanya gelap dan suasana malam.


Aku bangun saat subuh, dan hal pertama yang kusadari adalah listrik ternyata belum hidup juga.

Ruangan masih gelap.

Kipas masih diam.

Dan suasana pagi terasa lebih dingin dari biasanya.

Aku mengambil handphone dan langsung melihat baterai. Rasanya lega saat melihat persentasenya masih cukup untuk dipakai sampai pagi.

Lucu ya.

Dulu orang bangun tidur mungkin langsung mengecek jam. Sekarang yang dicek pertama kali justru baterai.

Setelah itu aku bersiap seperti biasa untuk pergi kerja.

Dan disinilah bagian paling relatenya.

Aku mandi jam enam pagi dalam keadaan masih gelap.

Tidak ada lampu kamar mandi.

Tidak ada pengering rambut.

Tidak ada setrika.

Semuanya dilakukan seadanya.

Aku bahkan pergi kerja memakai baju yang belum disetrika.

Dan jujur, awalnya aku sempat kesal.

Karena sebagai pekerja, kita terbiasa ingin tampil rapi. Tapi saat listrik mati, ada banyak hal kecil yang ternyata tidak bisa kita lakukan.

Dan saat melihat diriku sendiri pagi itu, aku cuma bisa pasrah.

Ya sudahlah.

Mau bagaimana lagi.

Untungnya aku sadar satu hal:

ternyata banyak orang pagi itu juga mengalami hal yang sama.

Mungkin ada yang pergi kerja dengan rambut setengah kering.

Ada yang tidak sempat sarapan.

Ada yang tidak bisa mandi air hangat.

Ada yang buru-buru mencari tempat charge HP.

Ada juga yang mungkin kesiangan karena alarm handphone mati.


Dan anehnya, saat banyak orang mengalami kesulitan yang sama, semuanya terasa sedikit lebih ringan.

Karena kita sadar kita tidak sendirian.

Di perjalanan menuju kerja, aku melihat suasana yang berbeda dari biasanya.

Beberapa minimarket ramai.

SPBU dipenuhi orang.

Warung-warung jadi tempat orang berkumpul dan membahas listrik yang belum juga normal.

Dan topik utama semua orang pagi itu sama:

“Listrik sudah hidup belum?”

Sesederhana itu.

Kadang memang dibutuhkan kejadian kecil seperti ini untuk membuat kita sadar bahwa ada banyak hal yang selama ini kita anggap biasa ternyata sangat penting.

Kita terlalu terbiasa hidup nyaman sampai lupa bagaimana rasanya ketika semua kenyamanan itu tiba-tiba hilang.

Listrik membuat kita lupa cara menikmati sunyi.

Karena biasanya saat suasana mulai terlalu hening, kita langsung mencari hiburan:

membuka handphone,

menonton video,

memutar musik,

atau chatting dengan seseorang.

Tapi tadi malam, pilihan itu terbatas.

Dan mau tidak mau kita dipaksa diam lebih lama dari biasanya.

Aku bahkan jadi berpikir, mungkin orang-orang zaman dulu lebih dekat dengan dirinya sendiri karena mereka tidak selalu terdistraksi layar setiap malam.

Sedangkan kita sekarang hampir tidak pernah benar-benar diam.

Setiap ada jeda sedikit, tangan langsung mencari handphone.

Dan mati lampu tadi malam seperti memaksa semuanya berhenti sejenak.

Tidak ada yang benar-benar bisa dilakukan selain menunggu.


Menunggu listrik hidup.

Menunggu baterai tidak cepat habis.

Menunggu pagi datang.

Dan di tengah semua itu, aku justru merasa malam tadi cukup tenang.

Walaupun gelap.

Walaupun gerah.

Walaupun sedikit merepotkan.

Ada suasana yang jarang dirasakan di hari-hari biasa.

Suasana ketika dunia terasa melambat.

Aku juga jadi sadar kalau manusia sebenarnya bisa hidup lebih sederhana dari yang dibayangkan.

Karena pada akhirnya tadi malam aku tetap baik-baik saja walaupun:

tidak ada internet,

tidak ada hiburan,

tidak ada listrik.


Aku makan.

Aku salat.

Aku tidur.

Selesai.

Dan hidup tetap berjalan.

Mungkin yang paling menarik dari mati lampu bukan soal gelapnya, tapi bagaimana kejadian itu mengubah kebiasaan banyak orang secara bersamaan.

Biasanya jam segitu jalanan masih ramai.

Orang-orang masih aktif di media sosial.

Anak-anak masih menonton TV.

Warung masih terang.

Tapi tadi malam semuanya berubah.

Banyak orang tidur lebih cepat.

Banyak rumah lebih sunyi.

Banyak aktivitas mendadak berhenti.


Dan entah kenapa suasana itu terasa seperti dunia sedang menarik napas panjang bersama-sama.

Aku tahu sebagian orang mungkin merasa sangat terganggu dengan mati lampu tadi malam. Apalagi yang punya pekerjaan penting, usaha, atau aktivitas yang benar-benar bergantung pada listrik.

Dan jujur saja, aku juga merasa repot.

Apalagi saat pagi harus bersiap kerja dalam keadaan gelap dan memakai baju yang tidak disetrika.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kejadian tadi malam juga memberiku satu hal yang jarang kudapat akhir-akhir ini:

waktu untuk berhenti sebentar.

Karena biasanya hidup terasa terlalu cepat.

Bangun pagi.

Kerja.

Pulang.

Main HP.

Tidur.

Ulang lagi.

Dan tanpa sadar hari terus berjalan.

Tapi tadi malam semuanya seperti dipause sebentar oleh gelap.

Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima keadaan.

Dan mungkin itu kenapa suasana tadi malam terasa begitu membekas walaupun sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa.

Aku hanya tidur lebih cepat.

Bangun dalam gelap.

Lalu pergi kerja dengan baju yang belum disetrika.

Sesederhana itu.

Tapi kadang memang cerita yang paling membekas bukan tentang hal besar.

Melainkan tentang malam biasa yang tiba-tiba terasa berbeda.

Tentang bagaimana satu malam tanpa listrik bisa membuat banyak orang menyadari betapa hidup modern sangat bergantung pada sesuatu yang selama ini dianggap biasa.


Dan tentang bagaimana kita semua, mau tidak mau, akhirnya belajar beradaptasi dengan gelap.

Terkadang kita sebagai manusia baru sadar pentingnya terang setelah merasa gelap. Dan mungkin, tidak semua "Mati Lampu" datang untuk menyulistkan - Sebagian datang untuk mengingatkan. 

Posting Komentar

0 Komentar