YANG TERJADI, BIARLAH TERJADI

Ku tutup Mei dengan rasa ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya. Yang terjadi, biarlah terjadi. Terima kasih, dan maaf.

Bulan ini mengajarkanku banyak hal yang mungkin tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Ada hari-hari yang berjalan begitu cepat hingga aku lupa menikmati waktu, ada pula hari-hari yang terasa begitu panjang hingga aku hanya ingin segera melewatinya. Mei datang membawa cerita, pelajaran, pertemuan, perpisahan, harapan, dan juga kekecewaan yang semuanya menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Tidak semua yang kuinginkan berjalan sesuai rencana. Ada harapan yang tumbuh tinggi lalu harus belajar menerima kenyataan. Ada usaha yang sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Ada kata-kata yang mungkin terucap tanpa sengaja dan meninggalkan luka. Ada juga diam yang ternyata lebih menyakitkan daripada ribuan kata. Namun hari ini aku memilih untuk menerima semuanya sebagai bagian dari proses yang harus dilalui.

Aku tidak ingin lagi membawa beban yang seharusnya sudah selesai. Tidak ingin terus memikirkan hal-hal yang berada di luar kendaliku. Tidak ingin menyalahkan keadaan, orang lain, ataupun diriku sendiri atas sesuatu yang memang tidak bisa diubah. Karena pada akhirnya, hidup terus berjalan meski aku memilih berhenti sejenak untuk memahami apa yang telah terjadi.

Terima kasih kepada setiap orang yang hadir selama bulan ini. Kepada mereka yang memberikan dukungan, perhatian, dan kebaikan, sekecil apa pun itu. Terima kasih kepada mereka yang membuatku tersenyum di saat lelah, yang menemani dalam diam, yang mengajarkan arti ketulusan, dan yang menjadi bagian dari cerita yang akan selalu kuingat.

Dan untuk siapa pun yang pernah tersakiti oleh perkataan, sikap, atau keputusan yang kubuat, aku meminta maaf dengan tulus. Aku hanyalah manusia yang masih belajar memahami diri sendiri dan orang lain. Tidak semua langkahku benar, tidak semua keputusan yang kuambil sempurna. Jika ada luka yang tercipta, semoga waktu memberikan ruang untuk menyembuhkannya.

Malam ini, aku memilih melepaskan. Melepaskan kecewa yang belum sempat terucap, melepaskan harapan yang tidak menemukan jalannya, melepaskan segala hal yang hanya membuat hati terasa berat. Aku percaya bahwa setiap yang datang membawa pelajaran, dan setiap yang pergi membawa alasan.

Ku tutup Mei dengan hati yang lebih tenang. Dengan rasa syukur atas segala yang telah terjadi. Dengan rasa ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya. Yang terjadi, biarlah terjadi. Yang pergi, biarlah pergi. Yang masih tinggal, akan kujaga sebaik mungkin.

Terima kasih, Mei. Terima kasih untuk semua cerita. Dan maaf untuk segala kekurangan yang ada. Selamat datang, Juni.

Posting Komentar

0 Komentar