Sejujurnya aku sudah tidak ingin mengenang semuanya lagi. Bahkan kalau dipikir-pikir, aku juga tidak sedang galau. Hari-hariku berjalan biasa saja. Aku tetap bangun pagi, tetap bekerja, tetap tertawa saat ada hal lucu, tetap menjalani hidup seperti orang-orang pada umumnya. Tidak ada malam panjang yang kuhabiskan untuk menangis. Tidak ada lagu sedih yang sengaja kuputar untuk mengingatmu. Tidak ada juga keinginan untuk kembali menghubungimu.
Hanya saja, kadang ada satu dua momen kecil yang tiba-tiba membuat namamu lewat begitu saja di kepala.
Dan malam ini, entah kenapa, kalimat itu muncul lagi.
Seandainya malam itu aku dan kamu, atau mungkin kita, bisa sedikit menekan ego masing-masing… mungkin saat ini kita masih saling berbicara.
Sesederhana itu.
Bukan tentang kembali bersama.
Bukan tentang berharap semuanya terulang lagi.
Bukan juga tentang ingin mengulang hubungan yang pernah ada.
Aku hanya berpikir… mungkin kita masih bisa menjadi dua orang yang sesekali saling bertanya kabar tanpa rasa asing.
Dan khususnya aku.
Kalau saja malam itu aku tidak se-impulsif itu. Kalau saja aku tidak langsung menghapus semua kontak kamu, memblokir semuanya, menghilangkan setiap kemungkinan untuk saling menemukan kembali, mungkin sekarang setidaknya aku masih bisa melihat story-mu.
Walaupun mungkin story itu bukan ditujukan untukku.
Walaupun mungkin di hidupmu sekarang aku sudah tidak punya peran apa-apa.
Aku tahu itu.
Aku hanya berandai-andai.
Kadang lucu juga ya, bagaimana seseorang yang dulu begitu dekat sekarang bahkan tidak bisa kita cari lagi. Seolah-olah benar-benar hilang dari kehidupan kita. Padahal dulu rasanya dunia kita penuh oleh satu sama lain.
Dulu aku tahu jam tidurmu.
Aku tahu makanan favoritmu.
Aku tahu nada suaramu ketika sedang kesal.
Aku tahu bagaimana caramu diam saat ada masalah.
Aku bahkan hafal kebiasaan kecilmu yang mungkin orang lain tidak sadar.
Tapi sekarang?
Sekarang bahkan untuk sekedar tahu apakah kamu baik-baik saja pun aku tidak punya akses lagi.
Dan semua itu bukan karena kamu menghilang.
Tapi karena aku sendiri yang menutup pintunya.
Kadang aku berpikir, kenapa waktu itu aku begitu marah?
Kenapa aku memilih pergi dengan cara yang paling ekstrem?
Mungkin karena saat itu aku terlalu penuh emosi. Aku merasa kalau tetap melihatmu, tetap membaca namamu, tetap mengetahui aktivitasmu, aku tidak akan pernah benar-benar bisa tenang.
Jadi aku memilih cara tercepat untuk menyelamatkan diri:
menghapus,
memblokir,
dan berpura-pura semuanya selesai.
Padahal kenyataannya, sesuatu tidak benar-benar selesai hanya karena aksesnya hilang.
Karena kenangan tidak tinggal di chat.
Kenangan tinggal di kepala.
Dan sayangnya, kepala manusia tidak punya tombol delete.
Ada masa di mana aku merasa keputusan itu benar. Aku berhasil melewati hari-hari tanpa harus melihatmu. Tidak ada lagi rasa penasaran apakah kamu online atau tidak. Tidak ada lagi kebiasaan membuka profilmu diam-diam. Tidak ada lagi rasa sakit saat melihatmu baik-baik saja tanpa aku.
Aku pikir itu adalah bentuk kedewasaan.
Tapi ternyata, semakin waktu berjalan, yang tersisa bukan lagi marah.
Yang tersisa justru rasa kosong kecil yang aneh.
Bukan kehilangan yang besar.
Bukan luka yang dalam.
Hanya rasa seperti:
“oh… ternyata semuanya benar-benar selesai ya.”
Dan anehnya, perasaan itu muncul di waktu-waktu yang tidak terduga.
Kadang saat melihat pasangan bercanda di jalan.
Kadang saat mendengar lagu lama.
Kadang saat melihat seseorang memakai pakaian yang mengingatkanku padamu.
Kadang bahkan hanya karena aroma tertentu yang tiba-tiba terasa familiar.
Lalu tanpa sadar aku mulai berpikir:
kalau waktu itu aku tidak sekeras itu pergi, mungkin semuanya tidak akan seasing ini.
Aku tahu setiap hubungan pasti punya masalah. Dan mungkin hubungan kita juga memang tidak akan bertahan selamanya. Mungkin cepat atau lambat kita tetap akan berakhir.
Tapi setidaknya… mungkin kita tidak akan berakhir dengan cara saling menghilangkan.
Karena jujur saja, ada perbedaan antara “berpisah” dan “menjadi asing.”
Berpisah itu menyakitkan.
Tapi menjadi asing dengan seseorang yang pernah begitu dekat rasanya lebih aneh lagi.
Kadang aku ingin tertawa kalau mengingat diriku sendiri waktu itu. Betapa impulsifnya aku. Betapa emosionalnya aku sampai merasa semua harus diakhiri saat itu juga.
Aku tidak memberi ruang untuk tenang.
Tidak memberi ruang untuk berpikir.
Tidak memberi ruang untuk kemungkinan lain selain pergi.
Padahal mungkin kalau malam itu aku tidur dulu, menangis dulu, menenangkan diri dulu, semuanya tidak akan seburuk itu.
Mungkin kita masih berteman.
Mungkin kita masih follow-follow-an.
Mungkin kita masih saling melihat hidup masing-masing dari jauh.
Atau minimal, kita tidak benar-benar hilang.
Tapi ya… hidup memang tidak berjalan dengan “seandainya.”
Dan aku sadar itu.
Karena seberapa panjang pun aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain, kenyataannya tidak akan berubah.
Kamu tetap tidak ada di hidupku sekarang. Dan aku tetap menjadi seseorang yang pernah mengenalmu, lalu kehilangan akses untuk mengetahui apapun tentangmu.
Kadang aku penasaran.
Apakah kamu pernah berpikir tentang semua ini juga?
Apakah kamu pernah tiba-tiba mengingatku di tengah malam?
Apakah kamu pernah membuka kontak lama lalu sadar namaku sudah hilang?
Apakah kamu pernah ingin menghubungi, tapi tidak bisa?
Atau mungkin… kamu sudah benar-benar melanjutkan hidup tanpa pernah melihat ke belakang lagi.
Aku tidak tahu.
Dan mungkin aku memang tidak perlu tahu.
Karena ada beberapa jawaban yang justru lebih baik dibiarkan tidak diketahui.
Aku juga sadar, rasa ini bukan berarti aku masih ingin kembali.
Tidak.
Kalau dipikir-pikir, aku bahkan tidak tahu apakah versi dirimu yang sekarang masih cocok dengan versi diriku yang sekarang. Kita sudah melewati banyak hal setelah semua berakhir. Mungkin kita sudah berubah jauh.
Mungkin kalau dipertemukan lagi pun rasanya sudah berbeda.
Aku hanya sedang merindukan satu bagian kecil dari masa lalu.
Bukan hubungan itu sepenuhnya.
Aku merindukan perasaan punya seseorang yang bisa dihubungi kapan saja.
Aku merindukan kebiasaan kecil yang dulu terasa biasa.
Aku merindukan masa ketika semuanya belum serumit itu.
Dan mungkin yang paling ku rindukan adalah diriku sendiri di masa itu.
Versi diriku yang masih percaya bahwa beberapa orang akan tinggal lebih lama. Karena setelah semuanya selesai, aku jadi lebih hati-hati terhadap orang lain.
Aku jadi lebih cepat menjaga jarak.
Lebih sulit percaya.
Lebih sering berpikir dua kali sebelum terlalu dekat.
Bukan karena trauma besar.
Tapi karena aku tahu rasanya kehilangan seseorang yang dulu terasa seperti rumah.
Dan anehnya, setelah seseorang pergi, hidup tetap berjalan.
Matahari tetap terbit.
Orang-orang tetap bekerja.
Dunia tetap ramai.
Tidak ada yang benar-benar berhenti hanya karena hati kita pernah patah.
Awalnya aku tidak suka kenyataan itu.
Aku merasa dunia terlalu cepat melanjutkan semuanya, sementara aku masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi sekarang aku mengerti.
Mungkin memang begitu cara hidup bekerja.
Kita dipaksa terus berjalan bahkan saat hati belum sepenuhnya siap.
Dan perlahan-lahan, tanpa sadar, kita memang sembuh.
Bukan sembuh karena lupa. Tapi karena terbiasa.
Terbiasa tidak mendengar kabarnya.
Terbiasa tidak mengirim pesan.
Terbiasa menjalani hari tanpa kehadirannya.
Sampai suatu hari, nama itu hanya terasa seperti bagian dari cerita lama.
Tidak lagi menyakitkan.
Hanya sedikit hangat ketika diingat.
Aku rasa itu yang sedang terjadi padaku sekarang.
Aku tidak menangis saat mengingatmu.
Aku juga tidak berharap kamu kembali.
Aku hanya sesekali berpikir:
“ya… kita pernah sedekat itu ya.”
Dan setelah itu hidup kembali berjalan seperti biasa.
Mungkin ini memang fase paling aneh setelah kehilangan seseorang.
Bukan saat menangisnya.
Bukan saat marahnya.
Tapi saat kita sudah tenang, namun masih sesekali mengenang dengan diam-diam.
Karena ternyata melupakan seseorang bukan tentang menghapus semua kenangan. Melainkan belajar menerima bahwa kenangan itu tetap ada tanpa harus mengganggu hidup kita lagi. Dan aku sedang ada di fase itu sekarang.
Fase di mana aku sudah bisa menyebut namamu di kepala tanpa merasa hancur.
Fase di mana aku sudah bisa mengingatmu tanpa ingin kembali.
Fase di mana aku akhirnya menerima bahwa tidak semua orang yang pernah dekat akan tetap tinggal.
Ada orang-orang yang hadir hanya untuk menjadi bagian dari cerita hidup kita.
Mengajarkan sesuatu.
Memberi rasa bahagia.
Memberi luka.
Lalu pergi.
Dan kita tidak bisa memaksa semua orang untuk tetap ada.
Kadang aku juga berpikir, mungkin cara kita berakhir memang mencerminkan siapa kita waktu itu.
Sama-sama keras kepala.
Sama-sama gengsi.
Sama-sama menunggu satu sama lain mengalah lebih dulu.
Padahal mungkin sebenarnya kita sama-sama masih ingin bertahan.
Tapi ego memang aneh.
Ia bisa membuat dua orang yang saling peduli memilih diam sampai akhirnya benar-benar kehilangan.
Dan setelah semuanya selesai, yang tersisa hanyalah kalimat-kalimat kecil seperti ini:
“Seandainya malam itu kita sedikit lebih tenang…”
Tapi ya sudahlah.
Apa yang sudah terjadi memang tidak bisa diubah.
Aku juga tidak ingin terus hidup di dalam kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terjadi. Karena semakin dipikirkan, semakin melelahkan.
Sekarang aku hanya ingin menjalani hidup dengan lebih ringan.
Kalau suatu hari nanti tanpa sengaja kita bertemu lagi, mungkin aku tidak akan lagi merasa marah atau sedih.
Mungkin aku hanya akan tersenyum kecil dalam hati dan berpikir:
“ternyata dulu aku pernah menyayangimu sebesar itu ya.”
Lalu setelah itu berjalan lagi.
Karena pada akhirnya, hidup memang tentang belajar merelakan hal-hal yang tidak bisa kita pertahankan.
Dan mungkin… kamu adalah salah satunya.
Dan kini kita benar-benar asing, setelah pernah menjadi tempat pulang paling nyaman.

0 Komentar