Mimpi yang Diminta Mundur Selangkah Lagi

 

Dan sekali lagi aku diminta mundur selangkah lagi.


Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi rasanya begitu berat ketika benar-benar dijalani. Karena tidak semua orang memahami bagaimana rasanya berdiri di depan sebuah harapan, lalu perlahan melihat harapan itu menjauh hanya karena keadaan belum berpihak. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang sudah hampir terbuka, tetapi tangan sendiri belum cukup kuat untuk mendorongnya.


Sejujurnya aku takut.


Aku takut semua mimpi yang selama ini aku simpan rapat-rapat hanya akan menjadi angan-angan. Takut bahwa pada akhirnya aku hanya menjadi seseorang yang pandai membayangkan masa depan, tetapi tidak pernah benar-benar sampai ke sana. Aku takut waktu berjalan terlalu cepat sementara langkahku masih tertahan di tempat yang sama.


Karena bagiku, mimpi bukan sekadar khayalan.

Mimpi itu punya tujuan.

Mimpi itu punya arah.

Mimpi itu punya harapan.

Dan mimpi seharusnya bisa digapai.


Mungkin bukan hari ini.

Mungkin juga bukan besok.

Tetapi setidaknya ada jalan yang terlihat menuju ke sana.


Sayangnya, aku merasa seperti seseorang yang tahu ke mana harus pergi, tetapi tidak memiliki kendaraan untuk sampai ke tujuan.


Aku tahu apa yang ingin aku lakukan.

Aku tahu hidup seperti apa yang ingin aku capai.

Aku tahu bahwa aku tidak ingin terus hidup dalam keadaan yang hanya cukup untuk bertahan.

Tetapi mengetahui tujuan saja ternyata tidak cukup.


Karena hidup tidak hanya bertanya tentang seberapa besar mimpi seseorang, tetapi juga bertanya tentang seberapa kuat seseorang bertahan ketika keadaan memaksanya berhenti.


Aku berencana mengikuti kelas LPK bulan Juni ini. Sudah lama sekali aku memikirkan keputusan itu. Berkali-kali aku membayangkan bagaimana hidupku mungkin akan berubah jika aku benar-benar mengambil langkah tersebut. Aku membayangkan diriku belajar sesuatu yang baru, membuka jalan baru, memperbaiki masa depan yang selama ini terasa jalan di tempat.


Bagiku, kelas itu bukan hanya sekadar tempat belajar.

Itu adalah harapan.

Itu adalah kesempatan.

Itu adalah kemungkinan untuk keluar dari kehidupan yang selama ini hanya cukup untuk bertahan hidup.

Tetapi nyatanya aku harus bersabar lagi.


Aku harus mundur lagi.

Aku harus menunggu lagi.

Aku harus menabung lagi.


Dan jujur saja, bagian paling melelahkan dari hidup bukanlah ketika kita gagal. Bagian paling melelahkan adalah ketika kita sudah siap secara mental untuk melangkah, tetapi keadaan memaksa kita berhenti sebelum benar-benar memulai.


ku harus memulai semuanya dari nol lagi hanya untuk mengumpulkan uang kelas yang sebenarnya tidak terlalu mahal.


Rp3.500.000.

Bagi sebagian orang mungkin angka itu kecil. Mungkin ada yang bisa mendapatkannya dalam beberapa hari. Mungkin ada yang bahkan tidak perlu berpikir dua kali untuk mengeluarkannya. Tetapi bagiku, angka itu terasa seperti jarak yang sangat jauh.


Bukan karena aku tidak mau berusaha.

Bukan karena aku malas bekerja.

Tetapi karena selama ini gaji yang aku punya selalu habis untuk bertahan hidup.


Untuk makan.

Untuk kebutuhan sehari-hari.

Untuk hal-hal yang bahkan tidak bisa dihindari. Dan lucunya, menjadi orang dewasa sering kali berarti harus terus terlihat baik-baik saja meskipun isi kepala penuh ketakutan.


Orang-orang hanya melihat kita masih bekerja.

Masih bangun pagi.

Masih tersenyum.

Masih menjalani hidup seperti biasa.


Padahal diam-diam kita sedang menghitung:

 “Kalau aku menabung segini setiap bulan, kapan uangnya cukup?”

“Kalau aku berhenti bekerja demi mengejar kesempatan yang lebih baik, apakah aku bisa bertahan hidup?”

“Kalau aku gagal, aku harus mulai dari mana lagi?”


Dan semua pertanyaan itu terus berputar di kepala hampir setiap malam. Aku juga harus memikirkan uang kos.

Aku harus memikirkan tempat tinggal.

Aku harus memikirkan uang makan.

Aku harus memikirkan biaya hidup selama mengikuti kelas nanti.


Karena masalahnya bukan hanya biaya kelas. 

Masalah terbesarnya adalah aku mungkin tidak memiliki pekerjaan sementara ketika masuk LPK. Artinya aku akan hidup dari uang tabungan. Dan itu menakutkan.


Sangat menakutkan.


Karena hidup dari tabungan berarti melihat uang yang dikumpulkan perlahan berkurang setiap hari tanpa tahu kapan akan kembali bertambah.


Aku sering bertanya dalam hati:

Apakah enam bulan cukup untukku menabung?

Apakah aku mampu memulai semuanya dari nol lagi?

Apakah perjuangan ini benar-benar akan membawaku menuju hidup yang lebih baik?

Atau justru aku sedang mempertaruhkan semuanya pada harapan yang belum tentu berhasil?


Aku tidak tahu.


Dan mungkin bagian tersulit dari perjalanan orang dewasa adalah ketika kita dipaksa mengambil keputusan besar tanpa pernah benar-benar tahu hasil akhirnya. Sementara waktu terus berjalan. Umurku juga terus bertambah.


Dan semakin hari aku semakin sadar bahwa dunia tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun. Teman-temanku perlahan mulai melangkah lebih jauh.


Ada yang karirnya naik.

Ada yang penghasilannya semakin baik.

Ada yang sudah punya tabungan.

Ada yang sudah menikah.

Ada yang sudah memiliki hidup yang terlihat stabil.


Sementara aku masih berdiri di titik yang sama, masih memikirkan bagaimana caranya mengubah hidupku. Kadang aku merasa tertinggal terlalu jauh.


Bukan karena aku iri pada mereka. Tetapi karena aku juga ingin hidupku bergerak. Aku juga ingin merasa tenang. Aku juga ingin bangun pagi tanpa dihantui rasa takut tentang masa depan. Aku lelah hidup hanya untuk bertahan.


Pekerjaan yang aku punya saat ini hanya cukup untuk makan setiap bulan.


Tidak lebih.

Tidak ada ruang untuk berkembang.

Tidak ada jenjang karir yang jelas.

Tidak ada rasa aman.

Tidak ada kepastian bahwa aku bisa bertahan di pekerjaan ini selamanya.


Dan jujur saja, hal paling menyeramkan dari menjadi dewasa adalah ketika kita sadar bahwa hidup tidak akan berubah jika kita terus berada di tempat yang sama.


Itulah mengapa aku begitu ingin mengambil kesempatan ini.

Bukan karena aku terlalu ambisius.

Bukan karena aku ingin terlihat hebat.

Tetapi karena aku hanya ingin hidup yang lebih baik.


Aku ingin membantu diriku sendiri.

Aku ingin membantu keluargaku.

Aku ingin suatu hari nanti bisa membeli sesuatu tanpa harus menghitung uang berkali-kali.

Aku ingin hidup tanpa selalu merasa takut pada tanggal tua.

Aku ingin punya pekerjaan yang membuatku bertumbuh.

Aku ingin punya masa depan yang jelas.


Apakah itu terlalu banyak?

Kadang aku merasa iya.


Karena semakin besar mimpi seseorang, semakin besar juga rasa takut yang harus ditanggungnya. Dan mimpiku terasa terlalu besar untuk keadaan hidupku sekarang.


Aku punya banyak keinginan.

Aku punya banyak rencana.

Aku ingin belajar.

Aku ingin berkembang.

Aku ingin memperbaiki karir.

Aku ingin memperbaiki keuangan.

Aku ingin menjadi seseorang yang bisa dibanggakan.


Tetapi realita sering kali membuat semuanya terasa jauh.


Ada hari-hari ketika aku sangat bersemangat. Aku merasa yakin bahwa suatu hari nanti semua perjuangan ini akan terbayar. Tetapi ada juga malam-malam ketika aku merasa sangat lelah.


Aku mempertanyakan semuanya.

Aku mempertanyakan diriku sendiri.

Aku mempertanyakan apakah aku benar-benar mampu.


Karena semangat ternyata tidak selalu cukup. Tekad juga tidak selalu cukup. Ada banyak orang di luar sana yang punya mimpi besar, tetapi tidak semua memiliki kesempatan yang sama.


Dan kadang aku iri pada mereka yang bisa mengejar mimpi tanpa terlalu khawatir tentang biaya hidup. Aku iri pada mereka yang bisa fokus belajar tanpa harus memikirkan uang makan besok. Aku iri pada mereka yang punya tempat aman untuk gagal. Aku iri pada mereka yang bisa mencoba berkali-kali tanpa takut kehabisan segalanya. Sementara aku harus menghitung semuanya dengan hati-hati.


Karena satu keputusan salah bisa membuat hidupku berantakan. Aku tidak punya banyak cadangan. Aku tidak punya banyak pilihan. Itulah mengapa setiap langkah terasa sangat berat. Namun di balik semua ketakutan itu, ada satu hal yang masih membuatku bertahan.


Aku belum menyerah.

Meski aku lelah.

Meski aku takut.

Meski aku sering merasa kehilangan arah.

Tetapi jauh di dalam diriku, masih ada suara kecil yang berkata:

“Coba bertahan sedikit lagi.”


Mungkin karena aku sadar bahwa jika aku menyerah sekarang, hidupku mungkin akan tetap seperti ini selamanya. Dan aku tidak ingin itu.


Aku tidak ingin sepuluh tahun lagi menyesali diriku sendiri karena terlalu takut mengambil langkah. Aku tidak ingin hidup dengan pertanyaan: “Bagaimana kalau waktu itu aku mencoba?”

Karena penyesalan sering kali lebih menyakitkan daripada kegagalan.

Aku sadar jalan yang aku pilih tidak mudah. Memulai dari nol bukan hal yang romantis seperti yang sering ditulis orang-orang di media sosial.


Memulai dari nol itu melelahkan. Artinya kita harus menahan banyak keinginan. Artinya kita harus hidup lebih hemat. Artinya kita harus terus bekerja meski hati lelah. Artinya kita harus pura-pura kuat ketika sebenarnya ingin menyerah.


Dan yang paling menyakitkan, memulai dari nol seringkali membuat kita merasa tertinggal dari semua orang. Tetapi mungkin memang beginilah prosesnya. Mungkin memang ada orang-orang yang harus berjalan lebih lambat.


Bukan karena mereka tidak pantas sampai tujuan. Tetapi karena hidup memberi mereka beban yang lebih banyak untuk dibawa.

Aku mulai sadar bahwa selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri. Aku selalu merasa gagal hanya karena belum sampai ke titik yang aku inginkan. Padahal jika dipikir-pikir lagi, aku sudah bertahan sejauh ini.


Aku masih bekerja.

Aku masih mencoba.

Aku masih punya harapan.

Aku masih punya mimpi.

Dan mungkin itu juga sebuah bentuk keberanian.


Karena tidak semua orang mampu terus bermimpi setelah berkali-kali dipatahkan keadaan. Kadang aku berpikir, mungkin hidup memang sedang mengajariku sesuatu.


Mengajariku tentang kesabaran.

Mengajariku tentang proses.

Mengajariku bahwa tidak semua hal bisa didapat dengan cepat.


Mungkin saat ini aku memang belum punya uang yang cukup.

Mungkin saat ini aku belum punya pekerjaan impian.

Mungkin saat ini aku masih merasa tertinggal.

Tetapi bukan berarti semuanya akan selamanya seperti ini.


Aku ingin percaya bahwa suatu hari nanti semua rasa lelah ini akan menemukan jawabannya. Bahwa suatu hari nanti aku akan melihat ke belakang dan berkata:

“Ternyata aku berhasil melewati semuanya.”


Aku ingin percaya bahwa setiap uang yang ditabung perlahan akan menjadi jalan menuju hidup yang lebih baik. Aku ingin percaya bahwa setiap rasa takut yang aku hadapi hari ini akan berubah menjadi kekuatan. Aku ingin percaya bahwa mimpi ini bukan sekadar angan-angan.


Karena jika aku sendiri berhenti mempercayainya, lalu siapa lagi?

Dan mungkin memang untuk sekarang, yang bisa aku lakukan hanyalah terus berjalan pelan-pelan.


Tidak apa-apa jika langkahku lambat.

Tidak apa-apa jika aku harus berhenti sebentar.

Tidak apa-apa jika aku belum sampai sekarang.

Yang penting aku tidak benar-benar berhenti.

Karena hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai.


Kadang hidup hanya tentang siapa yang masih mau mencoba meski berkali-kali merasa gagal. Aku tahu perjalanan ini masih panjang. Aku tahu akan ada banyak malam penuh keraguan lagi. Aku tahu akan ada banyak hari ketika aku merasa sangat kecil dibanding mimpi-mimpiku sendiri. Tetapi aku juga tahu bahwa tidak ada hidup yang berubah hanya dengan mengeluh. Maka meski takut, aku tetap ingin mencoba. Meski ragu, aku tetap ingin melangkah. Meski keadaan berkali-kali memintaku mundur, aku berharap suatu hari nanti aku bisa berjalan maju lebih jauh dari yang pernah aku bayangkan.


Aku hanya ingin hidup yang layak.

Aku hanya ingin bangga pada diriku sendiri.

Aku hanya ingin suatu hari nanti bisa berkata bahwa semua perjuangan ini tidak sia-sia.


Karena sejujurnya, aku lelah hidup dalam ketakutan. Aku lelah merasa tertinggal. Aku lelah memikirkan uang setiap waktu. Aku lelah berpura-pura kuat.


Dan mungkin alasan mengapa aku masih bertahan sampai hari ini adalah karena aku masih percaya bahwa hidupku bisa berubah.


Walaupun pelan.

Walaupun sulit.

Walaupun harus dimulai dari nol berkali-kali.


Aku masih ingin percaya bahwa masa depan yang lebih baik itu ada.


Mungkin bukan sekarang.

Mungkin belum dekat.

Tetapi setidaknya aku masih berjalan menuju ke sana.

Dan untuk saat ini, mungkin itu sudah cukup.


Karena terkadang keberanian terbesar bukanlah tentang berlari cepat mengejar mimpi. Tetapi tentang tetap berjalan meski hati penuh ketakutan. Tentang tetap menabung meski hasilnya terasa kecil. Tentang tetap bekerja meski lelah. Tentang tetap percaya pada masa depan meski keadaan belum memberi alasan yang jelas untuk percaya.


Aku tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan ini. Aku tidak tahu apakah nanti aku benar-benar berhasil masuk LPK. Aku tidak tahu apakah nanti hidupku akan berubah. Aku tidak tahu apakah semua pengorbanan ini akan sebanding dengan hasilnya.


Tetapi satu hal yang aku tahu: Aku tidak ingin berhenti mencoba.

Karena selama seseorang masih memiliki harapan, sebenarnya ia belum benar-benar kalah. Dan mungkin hari ini aku memang sedang diminta mundur selangkah lagi.


Tetapi aku berharap, suatu hari nanti langkah kecil yang terasa berat ini justru menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang selama ini aku impikan.


Aku ingin percaya bahwa tidak semua keterlambatan berarti kegagalan. Kadang hidup hanya sedang mempersiapkan seseorang lebih lama agar ia benar-benar siap ketika kesempatan itu datang.

Dan mungkin hari ini tugasku bukan untuk langsung sampai tujuan. Mungkin tugasku hari ini hanya bertahan. Bertahan dari rasa takut. Bertahan dari rasa kecewa. Bertahan dari rasa ingin menyerah. Karena tidak semua perjuangan langsung menghasilkan kemenangan. Ada perjuangan yang tugasnya hanya menjaga seseorang agar tidak hancur sebelum waktunya berhasil. 


Aku sadar hidupku belum ideal. Masih banyak kekurangan. Masih banyak ketidakpastian. Masih banyak hal yang membuatku cemas. Tetapi di tengah semua itu, aku masih punya mimpi. Dan mungkin selama mimpi itu masih ada, aku masih punya alasan untuk terus melangkah.


Aku hanya berharap suatu hari nanti aku bisa membaca tulisan ini lagi, lalu tersenyum kecil sambil berkata: “Aku pernah sesulit itu ya.”


Dan mungkin saat itu aku akhirnya mengerti bahwa semua ketakutan yang dulu terasa besar ternyata hanyalah bagian dari perjalanan menuju versi diriku yang lebih kuat. Sampai hari itu datang, aku akan mencoba bertahan sedikit lebih lama lagi. Aku akan mencoba percaya sedikit lebih banyak lagi. Dan meski langkahku pelan, aku berharap suatu hari nanti aku benar-benar sampai.


Karena mimpi seharusnya bukan hanya untuk dipikirkan. Mimpi seharusnya diperjuangkan. Walaupun harus jatuh. Walaupun harus menunggu. Walaupun harus memulai dari nol berkali-kali. Dan mungkin, di situlah arti sebenarnya dari harapan.


Bukan tentang hidup yang selalu mudah. Tetapi tentang hati yang masih mau percaya bahwa masa depan bisa berubah. Untuk saat ini, aku memang belum sampai ke mana-mana. Tetapi setidaknya aku belum berhenti berjalan.

Mungkin aku sedang diperlambat oleh keadaan, bukan dihentikan oleh kehidupan.

Posting Komentar

0 Komentar