Bagian Perjalanan: Cerita di Balik Angka dan Jalan
Di sini aku ingin bercerita sedikit tentang perjalanan kami kemarin—perjalanan yang mungkin terlihat sederhana, tapi menyimpan banyak hal yang tidak terlihat.
Kami berangkat berempat, dengan dua motor. Titik kumpulnya di kosku—tempat kecil yang jadi saksi awal cerita ini dimulai.
Rencana awal: berangkat jam 07.00 pagi dari Bukittinggi. Realitanya? Ya… seperti kebanyakan orang, kita cukup akrab dengan “jam karet”.
Jam 7 aku sebenarnya sudah siap—tinggal pakai jilbab. Icut sudah standby di kontrakan dengan semua perlengkapan: cemilan untuk piknik, tripod, dan semangat. Echa baru datang dari Padang. Dan Indri… masih belum kelihatan.
Akhirnya, setelah semua lengkap (dan sedikit drama persiapan), kami benar-benar berangkat pukul 07.35 WIB—dengan satu fakta penting: belum sarapan.
Kami memilih jalur terdekat: Maninjau. Perjalanan panjang dengan perut kosong jelas bukan ide terbaik, jadi kami memutuskan untuk sarapan di jalan.
Awalnya ingin sarapan di Ngarai Sianok, tapi akhirnya berhenti di Pasar Lawang. Sempat ragu karena bukan hari pasar—takut tidak ada yang jual makanan. Tapi ternyata rezeki tidak ke mana.
Menu yang tersedia hanya lontong sayur.
Sederhana, tapi cukup.
Sambil menunggu, kami “mengganjal” perut dengan gorengan—pisang dan ubi yang sudah tersaji di meja. Sarapan berempat, lengkap dengan kerupuk, hanya Rp28.000.
Murah. Sederhana. Tapi hangat.
Perjalanan berlanjut. Kami melewati Puncak Lawang—dan seperti biasa, kami menepi sejenak.
Danau Maninjau terbentang luas di depan mata. Tenang. Megah. Diam-diam menenangkan.
Kami menepi. Mengambil beberapa foto dan video—random, tapi berarti. Karena kami tahu, suatu hari nanti, hal-hal kecil seperti ini akan terasa sangat berharga.
Sekitar 20–30 menit, lalu lanjut lagi.
Sepanjang jalan, pemandangan didominasi hutan lindung. Rumah warga hanya sesekali terlihat—jarang, berjauhan.
Sampai akhirnya kami memasuki Kelok 44.
Tikungan demi tikungan. Turunan panjang. Beberapa titik bekas longsor memaksa kendaraan bergantian lewat satu jalur.
Di sini, perjalanan mulai terasa di badan. Mual karena tikungan. Perubahan suhu yang tidak menentu. Dan mungkin… efek telat sarapan tadi.
Telinga terasa penuh, seperti tertutup udara. Aneh, tapi nyata.
Dari udara sejuk di atas, kami turun ke panasnya Maninjau. Debu mulai terasa. Matahari mulai “menyapa” lebih dekat.
Kami singgah di SPBU—isi bensin Rp20.000, beli minuman dingin. Total pengeluaran di sini Rp46.000.
Sambil menunggu teman-teman, aku duduk di motor menjaga barang. Seorang bapak menawarkan kue tradisional—dadar gulung, atau yang dikenal juga sebagai “kue bujang selimut”.
Kami beli. Murah, dan rasanya… luar biasa.
Perjalanan berlanjut sekitar satu jam lagi menuju Tiku. Jalan sudah lebih bagus, tapi panas dan debu terasa semakin kuat.
Sepanjang jalan, tidak ada tanda-tanda pantai. Sampai akhirnya—ada papan kecil di pinggir jalan: “Muaro Mati.”
Hanya itu petunjuknya. Kalau tidak pakai maps, mungkin kami sudah lewat begitu saja.
Kami sampai pukul 11.25 WIB.
Sampai di sana, kami bersih-bersih seadanya. Tidak bisa cuci muka—kulit masih panas. Jadi hanya tisu basah.
Lalu, tentu saja: retouch. Rapikan jilbab, baju, dan… percaya diri.
Kami piknik di bawah pohon kelapa yang rindang. Sayangnya, muaranya kering. Lumpur dan kerang mati terlihat. Tidak Sesuai ekspektasi. Sedikit kecewa? Iya. Tapi anehnya… tetap cukup. Tidak menghilangkan makna.
Karena kami tetap duduk, makan, tertawa, dan mengambil gambar. Karena kadang, yang membuat tempat itu indah dan berarti bukan kondisinya dan keindahannya—tapi orang-orangnya. Siapa yang ada disana bersama kita.
Kami sempat “nebeng cas” HP dengan beli mie instan dan teh manis. Total Rp25.000 + Rp2.000 biaya cas.
Mienya biasa saja. Bahkan kurang enak.
Tapi tetap kami habiskan. Karena perjalanan mengajarkan satu hal: menghargai apa yang ada.
Kami shalat Zuhur di masjid sekitar. Masjidnya besar, megah, dan menenangkan.
Di sana, di tengah perjalanan, aku kembali diingatkan: bahwa sejauh apa pun kita pergi, kita tetap punya tempat untuk kembali.
Setelah itu, kami menuju pantai utama.
Laut terbentang luas di depan mata. Dan di moment itu… aku tidak hanya melihat air, aku melihat kebesaran. Aku merasakan kecilnya diri.
Dan aku paham—bahwa apa yang orang sebut “healing”, mungkin dalam bahasa iman adalah “Cara Allah mengistirahatkan hati kita lewat ciptaan-NyA”.
Kami makan siang—ayam gulai dan ikan bakar. Total Rp100.000 untuk berempat.
Lalu… menikmati laut. Mengambil foto. Menyimpan momen.
Sampai akhirnya, waktu menunjukkan pukul 15.39 WIB. Ashar tiba.
Dan kami tahu: sudah waktunya pulang.
Perjalanan pulang jauh lebih berat. Kami memilih jalur lain—Bawan, Palembayan, Matur.
Dan di situlah cerita sebenarnya dimulai.
Hutan. Jalan rusak. Bekas longsor. Hujan deras. Tanah licin. Jurang. Bahkan… ular.
Maghrib, kami masih di tengah hutan.
Jujur—takut. Sangat.
Tapi di antara rasa takut itu, ada satu hal yang terus kami pegang: “keyakinan bahwa kami tidak sendiri.”
Dan benar saja—kami sampai.
Pukul 19.29 WIB. Tepat saat adzan Isya berkumandang.
Basah. Dingin. Lelah. dan… selamat.
Dan di situlah aku akhirnya mengerti: Bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang sampai ke pantai. Tapi tentang bagaimana kami melewati setiap rintangan… dan tetap pulang dengan cerita.
Total biaya perjalanan kami: Rp326.000. Per orang sekitar Rp81.000.
Murah? Mungkin.
Tapi coba tanya pada dirimu sendiri—berapa harga untuk satu hari penuh cerita, tawa, takut, syukur, dan pengalaman yang tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama?
Karena pada akhirnya…yang mahal itu bukan perjalanannya. Tapi makna yang kita bawa pulang darinya.
Karena pada akhirnya…yang kita bawa pulang dari hidup ini bukan saldo. Tapi jejak langkah. Bukan angka.Tapi cerita.
Dan aku memilih untuk benar-benar hidup—bukan sekadar bertahan. Karena hidup ini “cuma sekali”. Dan aku tidak mau menghabiskannya hanya untuk menunggu waktu yang “cukup”… yang nyatanya, mungkin tidak akan pernah datang.
“Bukan perjalanan yang membuatku kaya, tapi cara aku memaknainya. Dan selama aku masih bisa merasakan, tertawa, dan bersyukur—aku tahu, aku benar-benar hidup.”







0 Komentar