Antara Perjalanan dan Makna
“Sudah tahu nggak ada duit, masih nekat jalan-jalan…” “Lebih baik uangnya ditabung. Gaji kecil kok malah dihabiskan buat ‘healing’—yang ujung-ujungnya 'killing' dompet sendiri.”
Kalimat-kalimat seperti itu bukan hal asing. Selalu ada saja suara yang merasa paling tahu bagaimana seharusnya kita menjalani hidup.
Aku tidak marah. Aku juga tidak ingin membantah panjang lebar. Karena aku sadar, mereka melihat dari luar—sementara aku yang menjalaninya dari dalam. Aku hidup dalam kesederhanaan, dengan lingkar yang tidak luas. Jadi ketika ada ajakan untuk pergi, itu bukan sekadar jalan-jalan. Itu adalah kesempatan.
Apalagi jika tempatnya baru. Karena jujur saja, aku tidak pernah tahu… kapan lagi aku bisa kembali ke sana.
Dan di titik itu, aku mulai memahami sesuatu: bahwa perjalanan bukan hanya tentang berpindah tempat, tapi juga tentang berpindah cara pandang.


Tanggal 3 Mei 2026 kemarin, aku dan teman-teman libur di hari yang sama—sesuatu yang langka. Dari situ kami memutuskan pergi ke Pantai Tiku. Kami berempat orang dengan dua motor dan satu tujuan.
Perjalanan dari Bukittinggi sekitar 102 km. Panas, debu, jalan rusak, rawan longsor—semuanya nyata. Bahkan ada bekas banjir bandang yang masih terlihat di sepanjang jalan.
Banyak alasan untuk tidak pergi. Dan semua alasan itu masuk akal. Tapi ada satu hal yang lebih kuat dari semua itu: keinginan untuk melihat dan merasakan sendiri.
Di perjalanan itu, aku tidak hanya melihat jalan. Aku melihat kehidupan.
Rumah-rumah sederhana yang tetap berdiri. Hewan-hewan yang bebas berkeliaran. Langit yang kadang cerah, kadang mendung. Dan tanpa sadar, hatiku seperti diajak untuk diam… lalu berpikir.
Bukankah Allah sendiri pernah berfirman agar kita berjalan di bumi, lalu memperhatikan? Bahwa perjalanan bukan hanya untuk sampai, tapi untuk mengerti.
Aku mungkin tidak pergi dengan tour guide. Tidak ada yang menjelaskan sejarah tempat itu. Tapi aku membawa sesuatu yang lebih penting: mata untuk melihat… dan hati untuk merasakan.
Di sana, di tepi pantai, ketika laut terbentang luas di depan mata—aku tidak hanya melihat air. Aku melihat kebesaran. Aku merasakan kecilnya diri.
Dan di momen itu, aku paham… bahwa apa yang orang sebut “healing”, mungkin dalam bahasa iman adalah cara Allah mengistirahatkan hati kita lewat ciptaan-Nya.
Ya, aku membayar perjalanan ini. Dengan uang, tenaga, waktu, bahkan kenyamanan. Tapi yang aku dapatkan bukan sekadar foto. Bukan sekadar cerita.
Aku mendapatkan rasa syukur yang baru.
Aku mendapatkan cara pandang yang lebih luas.
Aku mendapatkan ketenangan yang tidak bisa dibeli begitu saja.
Mungkin bagi sebagian orang, ini terlihat seperti pemborosan. Tapi tidak semua yang terlihat “habis” itu benar-benar hilang. Ada hal-hal yang justru tumbuh… di dalam diam.
Dan suatu hari nanti, ketika hidup terasa sempit, lelah, dan penuh tekanan—yang akan menyelamatkan kita bukan hanya tabungan.
Tapi juga kenangan, pelajaran, dan kesadaran yang pernah kita kumpulkan sepanjang perjalanan.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan hanya tentang menahan diri… tapi juga tentang memahami arti dari setiap langkah yang kita ambil.
Dan mungkin benar, perjalanan itu memang punya harga.
Tapi yang lebih mahal adalah… “penyesalan karena tidak pernah melangkah”.
Jadi kalau suatu hari kamu lihat aku pergi lagi—menembus panas, debu, atau hujan, dengan dompet yang mungkin tidak tebal—jangan tanya, “Kenapa tetap berangkat?”
Tapi tanyakan pada dirimu sendiri: “kapan terakhir kali kamu benar-benar hidup, bukan sekadar bertahan?”.
Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang dari dunia ini bukan saldo… tapi jejak langkah.
Dan aku memilih untuk punya cerita. Bukan hanya angka. Karena hidup ini cuma sekali— dan aku tidak mau menghabiskannya hanya untuk menunggu waktu yang “cukup”, yang nyatanya… mungkin tidak akan pernah datang.
Tunggu sampai kamu tahu seberapa mahalnya sebuah "Pengalaman" dan Seberapa mahalnya sebuah "Penyesalan" dikehidupan yang cuma sekali ini.
0 Komentar