Aku Tidak Berhenti Bermimpi, Aku Hanya Terjebak di Hidup yang ‘Cukup’
Setiap pagi aku bangun di jam yang sama. Bukan karena aku penuh semangat… tapi karena hidup tidak memberi banyak pilihan selain lanjut.
Aku tetap mandi. Tetap berangkat kerja. Tetap menjalani hari seperti orang-orang yang terlihat “baik-baik saja.”
Dan dari luar, memang begitu.
Aku punya pekerjaan.
Aku punya penghasilan.
Aku tidak menganggur.
Aku… “cukup.”
Tapi justru di situlah masalahnya. “Cukup” ternyata bisa jadi jebakan. Karena saat hidup tidak buruk, kita jadi tidak punya alasan kuat untuk pergi. Tapi di saat yang sama, kita juga tidak benar-benar bahagia untuk tetap tinggal.
Aku bekerja. Mengurus data. Mengatur barang. Mengulang hal yang sama setiap hari. Dan anehnya…bukan capek fisik yang paling terasa. Tapi capek karena hidup terasa… begitu-begitu saja.
Tidak buruk. Tapi juga tidak berkembang. Tidak hancur. Tapi juga tidak hidup. Kadang aku duduk diam dan berpikir, “Kalau aku terus seperti ini, apa yang berubah dalam 5 tahun ke depan?”
Dan jawaban yang muncul…membuatku takut. Tidak ada yang berubah.
Aku masih di tempat yang sama. Dengan rutinitas yang sama. Dengan versi diriku yang sama. Dan jujur saja… aku tidak ingin itu.
Aku ingin lebih.
Aku ingin keluar.
Aku ingin mencoba sesuatu yang bahkan membuatku takut.
Jepang.
Bukan sekadar tempat yang indah. Bukan hanya soal foto atau cerita. Tapi tentang hidup yang berbeda. Tentang membuktikan kalau aku tidak harus selamanya seperti ini. Tapi setiap kali mimpi itu muncul, realita langsung ikut bicara.
“Kamu belum siap.”
“Bahasamu belum cukup.”
“Uangmu belum ada.”
“Umurmu sudah tidak muda.”
Dan yang paling menyakitkan… “Mungkin ini bukan untukmu.” Kalimat itu… pelan, tapi tajam. Karena kadang aku sendiri yang mengatakannya dalam hati.
Aku mulai meragukan diriku sendiri. Membandingkan diriku dengan orang lain yang sudah lebih dulu sampai.
Mereka sudah di sana. Sudah bekerja. Sudah hidup di mimpi yang bahkan belum bisa aku sentuh.
Sementara aku?
Masih di sini.
Masih berusaha dari nol.
Masih berjuang melawan rasa ragu setiap hari. Dan bagian terburuknya bukan itu. Bagian terburuknya adalah… aku mulai terbiasa.
Terbiasa dengan hidup yang biasa saja. Terbiasa menunda mimpi. Terbiasa bilang, “nanti saja.” Dan tanpa sadar… “nanti” berubah jadi “tidak pernah.”
Itu yang paling aku takutkan.
Bukan gagal.
Tapi tidak pernah benar-benar mencoba. Karena gagal masih punya cerita. Tapi tidak mencoba… hanya menyisakan penyesalan. Aku tahu jalannya tidak mudah.
Belajar bahasa di tengah lelah kerja. Mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Melawan rasa malas, rasa takut, dan rasa tidak percaya diri. Tidak ada yang instan. Tidak ada yang langsung berhasil. Dan jujur saja… kadang aku ingin menyerah.
Kadang aku ingin memilih hidup yang aman saja.
Kerja.
Gajian.
Ulangi.
Tanpa mimpi yang terlalu tinggi. Tanpa harapan yang terlalu jauh. Kelihatannya lebih tenang. Tapi aku tahu satu hal…
Aku tidak akan benar-benar bahagia kalau aku memilih itu. Karena ada bagian dari diriku yang tidak bisa diam. Bagian yang terus bertanya,
“Bagaimana kalau kamu coba?”
“Bagaimana kalau kamu ternyata bisa?”
“Bagaimana kalau hidupmu memang menunggu di sana?”
Pertanyaan-pertanyaan itu…tidak pernah hilang.
Mereka datang lagi.
Dan lagi.
Dan mungkin… itu bukan kebetulan.
Mungkin itu tanda. Bahwa aku memang tidak ditakdirkan untuk berhenti di sini. Bahwa rasa tidak puas ini bukan kelemahan. Tapi arah. Jadi sekarang, aku masih di tempat yang sama.
Masih kerja. Masih menjalani rutinitas yang itu-itu saja. Tapi ada satu hal yang berbeda:
Aku tidak lagi mematikan mimpiku.
Aku tidak lagi pura-pura tidak peduli.
Aku tidak lagi bilang, “ya sudahlah, mungkin bukan jalanku.”
Karena kalau aku terus berkata begitu, yang sebenarnya aku lakukan adalah… menyerah pelan-pelan.
Dan aku tidak mau itu.
Jadi meskipun pelan, meskipun kecil, meskipun sering ragu…aku tetap jalan.
Belajar walau sedikit.
Menabung walau tidak banyak.
Mencoba walau takut.
Karena mungkin, yang membedakan orang yang sampai dan yang tidak… bukan pintar atau tidaknya.
Tapi siapa yang berhenti, dan siapa yang tetap jalan walau tertatih.
Aku tidak tahu kapan aku akan sampai. Tapi aku tahu satu hal: Aku tidak ingin 5 tahun dari sekarang melihat ke belakang dan menyadari…
aku hanya sibuk bertahan, tapi tidak pernah benar-benar hidup. Dan kalau suatu hari nanti aku benar-benar sampai di Jepang, aku ingin tahu… itu bukan karena aku beruntung. Tapi karena aku tidak menyerah di saat aku punya banyak alasan untuk berhenti.
“Aku tidak takut gagal. Aku takut terbiasa dengan hidup yang tidak pernah benar-benar aku inginkan.”
“Kadang bukan hidup yang terlalu berat, tapi kita yang terlalu lama bertahan di tempat yang salah. “

0 Komentar