Sebagai pemilik wajah sensitif dan tidak pernah benar-benar lepas dari yang namanya jerawat, bruntusan, minyak berlebih, serta tekstur kulit yang kasar, rasanya wajar kalau aku pernah sampai di titik lelah. Lelah mencoba berbagai produk. Lelah melihat orang lain bisa cocok dengan satu skincare hanya dalam hitungan minggu, sementara aku harus melalui fase merah, perih, breakout, bahkan kecewa berkali-kali.
Aku pernah berpikir, mungkin wajahku memang tidak ditakdirkan untuk tenang.
Karena bagiku, merawat wajah bukan lagi sekedar rutinitas. Ia sudah seperti perjuangan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai.
Ada orang yang bangun pagi lalu hanya perlu mencuci wajah dan memakai sunscreen. Sementara aku? Aku harus melihat kondisi kulit setiap hari seperti sedang membaca cuaca. Hari ini muncul jerawat baru di dagu. Besok bruntusan di dahi. Minggu depan kulit mengelupas karena salah memakai produk.
Dan lucunya, semua itu terjadi meskipun aku termasuk orang yang rajin membersihkan wajah.
Jerawat yang aku alami bukan jerawat karena malas cuci muka. Bukan juga karena tidur memakai makeup. Kulitku memang sensitif. Berminyak. Mudah bereaksi. Ditambah lagi faktor hormonal yang sering kali membuat wajahku seperti punya kehidupannya sendiri.
Belum lagi lingkungan tempat aku bekerja.
Aku bekerja di area yang setiap hari dipenuhi debu. Debu jalanan. Debu kendaraan. Debu dari luar toko dan dari dalam toko bercampur jadi satu. Meja kerjaku tepat berada di dekat pintu masuk, jadi hampir semua debu yang keluar masuk seolah punya tujuan akhir yang sama: wajahku.
Kadang aku sampai tertawa sendiri.
Mau pakai sunscreen setebal apa pun, mau pakai cushion sebagus apa pun, tetap saja yang namanya debu akan menempel. Dan kalau sudah menempel di wajah berminyak? Rasanya seperti membuat kulit sesak.
Apalagi di siang hari.
Wajahku biasanya mulai berminyak sejak pagi. Bahkan kadang baru jam sembilan pagi, minyak di wajah sudah terasa banyak sekali sampai aku bercanda sendiri dalam hati, “Ini mah bisa buat goreng telur.”
Aku tahu kalimat itu terdengar lucu, tapi sebagai orang yang mengalaminya langsung, itu melelahkan.
Karena wajah berminyak bukan hanya soal penampilan. Tapi juga rasa tidak nyaman.
Lengket.
Gerah.
Kusam.
Dan sering kali membuat jerawat semakin aktif.
Makanya selama ini aku selalu memakai sabun cuci wajah khusus acne-prone skin. Aku mencoba berbagai produk yang katanya cocok untuk kulit berminyak dan berjerawat. Ada yang mengandung salicylic acid. Ada yang tea tree. Ada yang katanya bisa membersihkan pori sampai ke dalam.
Dan memang, setelah mencuci wajah, rasanya bersih.
Tapi hanya sebentar.
Karena beberapa jam setelah itu, minyak kembali muncul. Pori-pori terasa penuh lagi. Dan di area hidung serta dagu, aku sering melihat titik-titik kecil seperti nanah halus yang tersembunyi di dalam pori.
Kadang aku memencetnya.
Kadang aku biarkan.
Tapi tetap saja muncul lagi.
Aku mulai merasa mungkin masalahnya bukan hanya di permukaan kulit.
Akhirnya aku juga mencoba memperbaiki dari dalam.
Aku minum air putih lebih banyak.
Aku mencoba minum teh rimpang.
Aku bahkan pernah rutin minum air rebusan cengkeh yang rasanya benar-benar tidak enak.
Sampai kadang aku sendiri heran.
Bagaimana bisa sesuatu yang begitu pahit dipercaya bisa membantu wajah menjadi lebih baik?
Tapi ya begitulah kalau seseorang sudah lelah dengan kondisi kulitnya. Apa pun dicoba.
Aku juga sering mendengar berbagai pendapat soal jerawat. Ada yang bilang karena hormon. Ada yang bilang karena kurang tidur. Ada yang bilang karena makanan. Ada juga yang mengatakan bahwa jerawat muncul karena tubuh kita kotor dari dalam.
Aku pernah mendengar penjelasan dari Ustad Zaidul Akbar, dokter dan pendakwah kesehatan Indonesia yang mengatakan bahwa jerawat bisa berkaitan dengan kondisi perut dan pola makan.
Dan saat aku mendengarnya, aku langsung tertawa kecil sambil mengingat pola makanku sendiri.
Ya bagaimana tidak “berantakan”, kalau makanan sehari-hariku sering kali ayam tepung murah meriah, gorengan, dan indomie rebus lengkap dengan telur.
Bukan karena tidak ingin hidup sehat.
Tapi kadang hidup memang seperti itu.
Ada fase di mana kita makan bukan berdasarkan nutrisi terbaik, tapi berdasarkan apa yang paling terjangkau, paling cepat dibuat, dan paling mudah didapat setelah pulang kerja dalam keadaan lelah.
Aku yakin banyak orang yang bisa relate dengan itu.
Karena realitanya, hidup tidak selalu se-estetik video morning routine di media sosial.
Tidak semua orang punya waktu membuat salad setiap hari.
Tidak semua orang sanggup membeli makanan organik.
Dan tidak semua orang bisa langsung hidup sehat hanya karena menonton video motivasi.
Kadang kita hanya sedang bertahan.
Dan dalam proses bertahan itu, tubuh menerima banyak hal.
Kurang tidur.
Stress.
Debu.
Makanan instan.
Polusi.
Lelah.
Lalu suatu hari tubuh mulai berbicara lewat kulit.
Jerawat muncul.
Kulit kusam.
Minyak berlebih.
Bruntusan.
Dan rasa percaya diri perlahan ikut turun.
Aku pernah ada di fase di mana aku malas bercermin terlalu lama.
Karena setiap melihat wajah sendiri, rasanya yang terlihat hanya kekurangan.
Bekas jerawat.
Tekstur kulit.
Pori-pori besar.
Minyak.
Dan jerawat kecil yang entah kenapa tidak pernah benar-benar selesai.
Yang paling melelahkan sebenarnya bukan kondisi kulitnya.
Tapi ekspektasi.
Ekspektasi ingin cepat sembuh.
Ekspektasi ingin punya kulit mulus.
Ekspektasi ingin cocok dengan produk seperti orang-orang di internet.
Padahal kulit manusia berbeda-beda.
Apa yang cocok di orang lain belum tentu cocok di kita.
Dan sayangnya, aku belajar itu dengan cara yang cukup panjang.
Sampai akhirnya beberapa waktu lalu aku memutuskan mencoba sesuatu yang sebenarnya sudah lama lewat di berandaku: cleansing oil.
Jujur saja, awalnya aku takut.
Karena di kepalaku, wajah berminyak ditambah oil terdengar seperti kombinasi yang aneh.
Aku selalu berpikir kulit berminyak harus dijauhkan dari minyak.
Makanya selama ini aku lebih memilih facial wash yang memberi sensasi kesat setelah dipakai. Semakin terasa kering, semakin aku merasa wajahku bersih.
Padahal ternyata belum tentu begitu.
Setelah membaca beberapa pengalaman orang lain dan melihat banyak pembahasan soal double cleansing, akhirnya aku memberanikan diri mencoba.
Produk yang aku pakai adalah dari brand G2G, Madagascar Cleansing Oil.
Dan jujur saja, pengalaman pertama memakainya cukup mengejutkan.
Saat cleansing oil dipijat di wajah, aku merasakan seperti ada butiran kecil atau “kerikil-kerikil halus” yang keluar dari kulit wajahku.
Awalnya aku bingung.
Aku bahkan sempat takut.
“Ini normal nggak sih?”
Karena rasanya seperti ada kotoran kecil yang terangkat dari pori-pori.
Lalu setelah dibilas, wajahku langsung merah.
Ada sedikit sensasi gatal.
Dan sedikit terasa panas.
Di titik itu aku mulai panik.
Aku berpikir mungkin produknya tidak cocok.
Atau mungkin kulitku kembali bereaksi seperti biasanya.
Tapi aku mencoba menunggu.
Tiga menit.
Lima menit.
Dan perlahan rasa merahnya mulai mereda.
Yang mengejutkan justru setelah itu.
Kulit wajahku terasa ringan.
Bukan tipe “kesat kering ketarik” seperti setelah memakai facial wash acne yang keras.
Tapi ringan.
Bersih.
Segar.
Dan anehnya… nyaman.
Aku menyentuh wajahku beberapa kali karena merasa berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa wajahku tidak terlalu “sesak.”
Hari berikutnya aku mencoba lagi.
Dan di hari kedua, aku mulai menyadari sesuatu.
Minyak di wajahku masih ada.
Karena ya memang jenis kulitku berminyak.
Tapi jumlahnya mulai berkurang.
Biasanya jam sembilan pagi wajahku sudah sangat mengkilap. Tapi kali ini tidak separah biasanya.
Aku sampai berkaca beberapa kali karena heran.
“Loh… kok lebih kalem?”
Bukan berarti langsung berubah jadi kulit glass skin seperti di iklan skincare.
Bukan.
Jerawatku belum hilang total.
Tekstur kulitku juga masih ada.
Tapi setidaknya kulitku mulai terasa lebih nyaman ditempati.
Dan buat orang yang bertahun-tahun hidup dengan wajah sensitif, rasa nyaman itu mahal.
Aku jadi mulai memahami satu hal.
Mungkin selama ini kulitku bukan hanya butuh dibersihkan.
Tapi juga butuh diperlakukan dengan lebih lembut.
Karena ternyata semakin keras aku melawan minyak di wajah, semakin agresif kulitku memproduksi minyak baru.
Semakin sering aku memakai sabun yang terlalu stripping, semakin wajahku terasa marah.
Dan mungkin… selama ini kulitku hanya sedang kelelahan.
Aku juga sadar bahwa perjalanan mencari skincare cocok bukan perjalanan singkat.
Ada orang yang menemukan produk cocok hanya dalam seminggu.
Ada juga yang membutuhkan bertahun-tahun.
Dan aku mungkin termasuk yang kedua.
Tapi tidak apa-apa.
Karena sekarang aku mulai berhenti mengejar kulit sempurna.
Aku hanya ingin kulitku sehat.
Nyaman.
Tidak terlalu sakit.
Dan tidak membuatku membenci diriku sendiri setiap kali bercermin.
Media sosial kadang membuat kita lupa bahwa kulit manusia punya tekstur.
Punya pori.
Punya fase breakout.
Kita terlalu sering melihat wajah mulus dengan filter dan pencahayaan sempurna sampai akhirnya merasa wajah sendiri buruk.
Padahal belum tentu.
Aku pernah merasa minder melihat orang lain dengan wajah bersih tanpa jerawat. Aku pernah iri melihat orang yang bisa tidur tanpa skincare malam tapi kulitnya tetap bagus.
Sementara aku harus memikirkan banyak hal.
Cocok atau tidak.
Breakout atau tidak.
Perih atau tidak.
Aman atau tidak.
Capek.
Tapi dari semua perjalanan ini, aku mulai belajar bahwa merawat diri bukan tentang menjadi sempurna.
Kadang itu hanya tentang terus mencoba.
Meskipun pernah gagal.
Meskipun pernah kecewa.
Meskipun pernah menangis diam-diam karena merasa tidak percaya diri.
Dan aku tahu, di luar sana pasti ada banyak orang yang merasakan hal serupa.
Orang-orang yang mungkin terlihat biasa saja di luar, tapi diam-diam berjuang dengan rasa tidak nyaman terhadap dirinya sendiri.
Karena masalah kulit memang terdengar sepele bagi sebagian orang.
Tapi bagi yang mengalaminya setiap hari, itu bisa mempengaruhi mood, rasa percaya diri, bahkan cara kita berinteraksi dengan dunia.
Aku pernah ada di fase malas difoto.
Malas menatap kamera depan terlalu lama.
Dan malas keluar rumah tanpa masker.
Bukan karena ingin menutupi diri. Tapi karena lelah merasa tidak cukup baik. Namun sekarang aku mulai mencoba berdamai.
Aku mulai menerima bahwa kulitku mungkin tidak akan selalu mulus.
Dan itu tidak apa-apa.
Aku tetap bisa merawat diri.
Tetap bisa belajar mencintai diri sendiri.
Dan tetap bisa merasa layak meskipun wajahku belum sempurna.
Karena pada akhirnya, manusia bukan dibuat untuk terlihat seperti filter.
Kita hidup.
Kita bekerja.
Kita terkena debu.
Kita stres.
Kita kurang tidur.
Kita makan seadanya.
Dan tubuh kita bereaksi terhadap semua itu.
Tidak semua hal harus disalahkan pada diri sendiri.
Aku juga mulai berhenti terlalu keras terhadap tubuhku.
Kalau suatu hari aku makan indomie lagi, bukan berarti aku gagal hidup sehat.
Kalau suatu hari jerawat muncul lagi, bukan berarti semua usahaku sia-sia.
Karena proses merawat diri tidak selalu lurus.
Kadang maju.
Kadang mundur.
Kadang breakout.
Kadang membaik.
Dan mungkin itu normal.
Sekarang aku masih dalam proses.
Aku masih mencoba memahami kulitku sendiri.
Masih belajar produk apa yang cocok.
Masih belajar pola hidup yang lebih baik.
Tapi setidaknya sekarang aku punya sedikit harapan.
Harapan bahwa mungkin wajahku bisa lebih tenang.
Harapan bahwa mungkin kulitku hanya butuh waktu.
Dan harapan bahwa mungkin aku tidak harus membenci diriku sendiri selama proses itu berlangsung.
Untuk saat ini, cleansing oil yang aku coba terasa cukup membantu.
Aku belum berani bilang ini produk terbaik.
Karena perjalanan skincare selalu penuh kemungkinan.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa kulitku berkata:
“Terima kasih sudah mencoba memahami aku, bukan hanya memaksaku berubah.”
Dan mungkin, itu awal yang cukup baik.
Karena kadang yang kita butuhkan bukan perubahan instan.
Tapi rasa nyaman kecil yang perlahan membuat kita percaya lagi pada diri sendiri.
Jika kamu membaca tulisan ini sambil berjuang dengan jerawat, kulit sensitif, atau rasa tidak percaya diri terhadap wajahmu sendiri, aku hanya ingin bilang satu hal:
Kamu tidak sendirian.
Dan kamu tidak harus memiliki kulit sempurna untuk tetap merasa berharga.
Karena di balik semua jerawat, minyak, tekstur, dan bekas luka itu… tetap ada seseorang yang sedang berusaha bertahan dan merawat dirinya semampunya.
Dan menurutku, itu sudah sangat hebat.
“Jerawat bukan tanda kamu kotor. Bekas luka bukan tanda kamu gagal merawat diri. Kadang itu hanya tubuh yang sedang lelah, dan kamu tetap pantas merasa cantik, tampan, dan dicintai.”
“Untuk semua pejuang acne: kita mungkin tidak tahu rasanya punya kulit sempurna, tapi kita tahu rasanya bertahan sambil tetap mencoba mencintai diri sendiri setiap hari. Dan percayalah, kamu jauh lebih berharga daripada jerawat di wajahmu.”

0 Komentar