It’s Okay, To Be Not Okay

 Bukittinggi, 25 Januari 2026



“Jangan paksakan apapun, dan biarkan semuanya mengalir mengikuti arus yang ada”. Caption yang selalu aku temui akhir-akhir ini. 

Januari 2026, 25/365 hari sudah dilalui, dan pengamatan skor sementara adalah nol. Sebagai bentuk penghiburan diri, aku menganggap januari adalah trial error bulan pertama, februari kita usahakan lagi, kita perbaiki lagi, dan kita kejar lagi. Banyak harapan yang aku tuangkan di bulan depan, dan pastinya tidak semuanya akan terwujud, aku hanya minta satu, bulan februari, please be kind to me. Februari adalah bulan kelahiranku dan aku ingin bulan ini berjalan dengan damai, seperti kasih ruang untukku beristirahat sejenak dan merenggangkan otot, serta mengatur pernafasan untuk menghadapi bulan selanjutnya, untuk menghadapi gedebak-gedebuk drama kehidupan selanjutnya. Please be kind to me.

Sekarang waktu menunjukkan pukul 15.39 WIB, waktu yang memberanikan diriku untuk menulis kembali. Waktu yang memintaku untuk menceritakan kembali isi hati ini walau hanya sedikit, waktu yang memintaku untuk kembali berteriak kepada dunia. 

Banyak hal yang berputar di dalam kepala ku, saking lelahnya, aku tidak tahu bagaimana cara memilahnya, dan bagian mana yang harus aku ceritakan, dan bagian mana yang harus aku singkirkan, yang aku tahu aku ingin bercerita, mengoceh, dan aku buntu. Mungkin tulisan ini akan sangat sulit untuk dipahami, bahkan tidak jelas ujung pangkal cerita yang akan disampaikan, yang aku tahu jari-jemariku terus mengetik tanpa tahu arah tujuannya kemana, hanya menyampaikan setiap kata yang terlintas di kepala ini. 

Aku tidak tahu, sudah berapa kali dunia ku hancur, yang aku tahu aku masih berdiri disini. Saat ini aku tidak tahu harus bagaimana dan mau kemana, banyak hal yang hilang, banyak hal yang tertunda dan mungkin sudah terkubur saking gagalnya aku, dan banyak hal yang keluar dari rencana yang telah disusun penuh perhitungan, menurutku. Sekarang aku melamun dengan jiwa yang tidak punya ambisi lagi. Aku selalu mengatakan pada diriku, “Aku Bisa, Aku Pasti Bisa”, “Jika hari ini gagal, besok coba lagi”, aku selalu menguatkan diriku seperti itu. Untuk sekarang aku tidak tahu lagi, itu hanya fatamorgana, berteriak keras dengan melantangkan kata semangat hanya obat sementara untuk kegagalan yang nyata. Demi menggapai mimpi yang sederhana aku telah menyelesaikan satu persatu masalah kecil dan besar dalam hidupku. Aku pikir semuanya seperti soal ujian, yang misal soalnya ada 10 dan aku telah menyelesaikan 7 maka sisa 3 lagi yang harus diselesaikan untuk mencapai apa yang aku mau, ternyata tidak sesederhana itu, setiap satu keberhasilan pasti diiringi dengan satu soal ujian kehidupan lagi, sampai di titik aku merasa aku telah kehabisan waktu. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sepesimis ini, cuma itulah fakta yang aku rasakan saat ini. Aku gagal dalam segala aspek kehidupanku. Aku hanya bisa bermimpi dan bangun dengan realita bahwa semua itu sangat sulit untuk menjadi nyata. walaupun 2 dari 100 persen kehidupan, aku masih berharap impossible thing menjadi possible. 

Aku selalu berdoa dan berharap semuanya berjalan lancar, aku selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentinganku, sehingga aku berusaha keras menyelesaikan semua hal dengan satu harapan yakni waktu, ini adalah waktunya untuk diriku. Namun tampaknya belum jua, mungkin sedikit lagi, gak tau lah. Aku sebagai manusia biasa hanya bisa berencana dan berdoa, Allah yang punya kendali. 

Sekarang usiaku 27 tahun 353 hari, lebih kurang 12 hari lagi aku akan merayakan ulang tahunku yang ke 28 tahun, jika Allah izinkan. Pertanyaan umum yang biasa muncul di usia medium well ini adalah, apakah sudah punya pasangan ? ,kerja dimana ? gaji berapa ?, udah punya apa ?, punya emas dan tabungan berapa ? apa saja pencapaian kamu selama ini ? dan lain-lain sebagainya. Aku hanya bisa menjawab dengan tawa dan senyuman kecil. Apakah aku insecure ? seharusnya tidak ya,,,, dengan yakin aku mengatakan tidak. Kenapa ? even aku tidak sesukses teman-teman sebaya aku, tidak sejaya teman-teman kelas aku dulu, dan tidak semulus karir teman-teman aku diluar sana, aku katakan walaupun setitik, aku merasa aku bernilai. Mungkin aku tidak menjadi yang terbaik didalam kehidupan ini, tapi aku merasa cukup baik. Walaupun kondisinya sekarang aku tidak tahu sisi mana yang baik dan yang bisa ku banggakan, tapi sekali lagi aku mengatakan aku bernilai.

Berbicara tentang umur, lebih kurang berbicara tentang waktu. Tentang berapa lagi sisa waktu yang aku punya, dan berapa banyak lagi serpihan kaca yang harus aku lewati hingga aku mencapai titik dimana waktunya berhenti untuk diriku. Berhenti disini bukan “mati” tapi berhenti untuk menjadi milikku, waktu dimana untuk diriku sendiri menikmati hidup yang aku impikan. Waktu dimana hanya ada kebahagian dan tangis haru, bukan kecewa atau sedih yang menguras tenaga.

Usia 28 tahun dengan sejuta mimpi, apakah sudah termasuk terlambat ? dengan nol pencapaian yang aku punya ? apakah aku sudah gagal ? apakah aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi ? harus bagaimana lagi aku ? Titik baik mana yang harus aku perbaiki ? sangat sulit untuk menjawab semua pertanyaan ini. Serasa di belakang punggung ini sudah tertempel tag, seakan aku adalah barang dead moving. Cukup sulit untuk saat ini. Aku dengan bangga mengatakan aku bernilai, padahal dunia melihat kebalikannya. Tidak ada pembuktian, hanya fakta dan realita yang berbicara. Aku belum cukup bernilai untuk siapapun, dimanapun dan untuk apapun. Aku buntu. Tidak aku temukan jalan untuk balik ataupun maju. Tidak ada lagi rangkain mimpi  yang mau dikejar, tidak ada lagi harapan, bahkan dalam sujud pun tidak ada lagi doa yang aku lantunkan. Aku membisu.

Apapun yang terjadi, aku akan baik-baik saja. Dunia telah berakhir bagiku berkali-kali sebelumnya, dan entah bagaimana selalu dimulai lagi. Beberapa hal memang disayangkan. Beberapa hal tidak perlu terjadi. Beberapa hal melelahkan. Tetapi hidup terus berjalan, dan setiap kali itu terjadi, aku diingatkan bahwa aku tak terkalahkan.

Posting Komentar

0 Komentar