Hal-Hal yang Tidak Pernah Diberi Nama

 Bukittinggi, 30 Januari 2026



Hal-Hal yang Tidak Pernah Diberi Nama

tentang menunggu, nyaman, dan melepaskan 


Ada hal-hal dalam hidup yang tumbuh tanpa pernah kita beri nama. Ia hadir pelan, nyaris tak terasa, lalu menetap seolah memang sudah seharusnya ada. Tidak pernah meminta diakui, tidak menuntut kepastian. Tidak ada janji, tidak ada arah yang jelas—hanya rasa yang perlahan menjadi akrab. Aku menjalaninya tanpa banyak tanya, meyakini bahwa semuanya baik-baik saja selama tidak ada yang perlu dijelaskan.


Aku tidak pernah benar-benar tahu harus menyebutnya apa. Menyebutnya suka terasa terlalu ringan, menyebutnya cinta terasa terlalu jauh. Maka aku memilih diam, membiarkannya tinggal sebagai sesuatu yang tak pernah diberi label. Barangkali karena aku percaya, selama tidak dinamai, ia tak perlu dipertanggungjawabkan.


Sampai akhirnya aku menyadari satu hal: tidak semua yang tenang berarti aman. Ada lelah yang tumbuh diam-diam, ada harap yang tak pernah benar-benar bergerak. Dan di titik itu, aku mulai mengerti—beberapa hal bukan untuk dipahami lebih lama, melainkan untuk dilepaskan dengan pelan.


Mungkin disitulah letak kebiasaanku. Aku bukan tipe yang pergi dengan ribut atau penjelasan panjang. Aku lebih sering diam, mengamati, lalu menarik diri ketika sesuatu terasa tak lagi seimbang. Banyak orang menyebutnya cut off. Bagiku, itu adalah cara bertahan—cara paling sunyi untuk menjaga diri sendiri.


Aku bisa bertahan lama, terlalu lama bahkan. Memberi waktu, memberi ruang, memberi pengertian tanpa banyak suara. Namun ketika batas itu terlewati, ketika lelah tak lagi bisa dinegosiasikan, aku memilih pergi tanpa drama. Bukan karena tidak peduli, justru karena aku telah terlalu peduli sebelumnya.


Aku belajar bahwa tidak semua orang perlu dijelaskan alasannya. Tidak semua perpisahan membutuhkan penutup yang lengkap. Ada kalanya, menghilang adalah bentuk kejujuran paling jujur yang bisa kulakukan pada diri sendiri.


Keputusan itu datang tanpa tanda-tanda besar. Tidak ada pertengkaran, tidak ada kalimat terakhir yang ingin kusampaikan. Aku hanya duduk, menatap layar ponsel lebih lama dari biasanya, membaca ulang satu nama yang sudah begitu akrab selama bertahun-tahun. Sepuluh tahun tersimpan di sana, dalam satu baris kontak yang tak pernah berubah.


Tanganku sempat ragu. Bukan karena aku tak tahu cara menghapusnya, melainkan karena aku tahu apa arti setelahnya. Menghapus kontak berarti mengakui bahwa tak akan ada lagi alasan untuk menunggu. Tak ada lagi pintu kecil yang sengaja kubiarkan terbuka—sekadar berjaga-jaga jika suatu hari ia datang membawa kejelasan.


Ketika akhirnya tombol itu ditekan, tak ada rasa lega yang besar. Yang ada justru sunyi. Sunyi yang aneh, tapi jujur. Seperti mengakhiri sesuatu yang sebenarnya tak pernah benar-benar dimulai. Aku tidak menangis, tetapi ada bagian dalam diriku yang tahu: ini bukan tentang menghapus seseorang, melainkan berhenti berharap pada kemungkinan yang terlalu lama kubiarkan hidup.


Pertanyaan itu justru datang setelah semuanya hilang. Bukan saat masih ada, melainkan ketika benar-benar tidak ada lagi. Aku mencoba menamai perasaan yang selama ini kubiarkan tanpa label. Apakah ini suka? Atau hanya cinta monyet yang tak pernah tumbuh dewasa? Atau jangan-jangan, ini bukan tentang perasaan padanya, melainkan tentang rasa nyaman yang terlanjur kujadikan kebiasaan.


Aku menyadari, aku tidak pernah benar-benar mengenal cinta seperti yang sering diceritakan orang. Aku tidak punya pengalaman pacaran untuk dijadikan pembanding. Tak pernah merasakan dikejar, dipilih, atau diperjuangkan secara terang-terangan. Yang ada hanyalah perasaan yang tumbuh sendiri, diam-diam, lalu kusimpan terlalu rapi.


Mungkin karena itu aku sulit membedakan antara perasaan dan kebiasaan. Antara rindu dan rutinitas. Antara berharap dan sekadar tak ingin kehilangan sesuatu yang sudah lama menemani. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat sesuatu terasa penting, meski tak pernah diberi kepastian.


Di titik ini, aku tak lagi sibuk mencari jawabannya. Aku mulai menerima bahwa mungkin perasaan itu memang tak pernah perlu didefinisikan. Yang membuatnya berat bukan karena namanya, melainkan karena aku bertahan terlalu lama di ruang yang tak pernah bergerak ke mana-mana.


Aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah kebingungan ini lahir dari satu hal sederhana: aku tidak pernah pacaran. Tidak pernah berada di posisi di mana perasaan dinyatakan dengan jelas, diusahakan, atau diperjuangkan. Sejak remaja hingga kini, aku tumbuh tanpa kisah cinta yang datang dan pergi—tanpa drama putus-sambung, tanpa pengalaman menjadi seseorang yang dipilih dengan yakin.


Aku terbiasa menyukai dalam diam. Menyimpan perasaan sendiri, mengelolanya tanpa melibatkan siapa pun. Mungkin karena itu aku mudah bertahan, mudah menunggu, dan jarang menuntut. Aku tak tahu bagaimana rasanya dikejar, atau merasa aman karena tahu seseorang benar-benar ingin tinggal.


Kadang aku bertanya, apakah aku terlalu mandiri untuk berharap? Atau justru terlalu terbiasa menyesuaikan diri, hingga lupa bahwa aku juga pantas diperjuangkan. Aku tidak iri pada kisah cinta orang lain, tetapi ada bagian kecil dalam diriku yang ingin tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa harus menebak-nebak.


Aku mencoba memahami diriku lewat hal-hal kecil yang membentuk caraku bersikap. Salah satunya lewat zodiak—yang entah kebetulan atau tidak, sering menggambarkanku sebagai pribadi yang mandiri, tampak rasional di luar, tetapi menyimpan perasaan cukup dalam. Aku bisa setia dalam waktu yang lama, memberi ruang dan jarak, menahan harap tanpa banyak suara. Dan ketika akhirnya memilih pergi, keputusannya jarang berubah.


Sebagai anak perempuan pertama, aku tumbuh dengan peran yang tak pernah secara resmi kupilih. Terbiasa kuat, terbiasa mengerti keadaan, terbiasa mengalah sebelum diminta. Aku belajar sejak awal untuk tidak terlalu bergantung, menyelesaikan banyak hal sendiri—termasuk urusan perasaan. Aku jarang meminta, apalagi menuntut, karena sejak lama aku mengira itu bukan bagianku.


Mungkin dari situlah kebiasaanku bertahan terlalu lama berasal. Aku terbiasa memaklumi, memberi waktu, dan menunggu dengan sabar, bahkan ketika tak ada kepastian yang jelas. Hingga akhirnya, ketika semuanya terasa terlalu sunyi untuk dipertahankan, aku memilih cut off sebagai bentuk paling jujur dari menjaga diri sendiri.


Aku mulai memahami bahwa cara ini bukan berarti aku dingin atau tak punya rasa. Justru sebaliknya. Aku hanya belajar mencintai dengan cara yang sunyi, dan melepaskan dengan cara yang tenang.


Di titik ini, aku berhenti mencari pembenaran atas keputusanku sendiri. Aku tak lagi bertanya apakah aku terlalu berlebihan, terlalu sensitif, atau terlalu cepat menyerah. Aku hanya mengakui satu hal sederhana: aku lelah. Dan lelah pun pantas dihormati.


Berdamai dengan cut off berarti menerima bahwa tidak semua hubungan harus diselamatkan—terutama jika satu-satunya yang berjuang hanyalah diri sendiri. Bahwa pergi tidak selalu berarti kalah, dan menghilang tidak selalu berarti tidak peduli. Kadang, itu justru satu-satunya cara agar aku tidak terus kehilangan diriku sendiri.


Aku tidak menutup pintu dengan marah. Aku menutupnya dengan pelan, setelah memastikan tak ada lagi yang perlu kutunggu di baliknya. Jika suatu hari kenangan itu datang, aku tahu aku bisa mengingatnya tanpa ingin kembali. Karena yang kulepaskan bukan seseorang, melainkan harapan yang terlalu lama kubiarkan menggantung.


Dan untuk pertama kalinya, aku merasa cukup. Bukan karena semuanya selesai dengan sempurna, melainkan karena aku akhirnya memilih diriku sendiri—tanpa perlu penjelasan panjang, tanpa perlu nama.


Pada akhirnya, aku belajar menerima bahwa tidak semua hal dalam hidup perlu diberi nama agar terasa nyata. Ada perasaan yang cukup diakui keberadaannya, lalu dilepaskan ketika waktunya tiba. Cut off bukan caraku melupakan, melainkan caraku berhenti menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang.


Aku tidak tahu apakah keputusan ini adalah yang paling benar. Namun aku tahu, bertahan tanpa kejelasan jauh lebih melelahkan daripada melepaskan dengan pelan. Jika ada yang tersisa, biarlah ia tinggal sebagai kenangan—bukan sebagai harapan.


Mungkin inilah bentuk kedewasaanku hari ini: memilih diri sendiri, tanpa marah, tanpa menyalahkan, dan tanpa perlu menamai apa pun yang akhirnya harus selesai.

Aku tidak menamai apa yang telah selesai, karena yang terpenting bukan namanya—melainkan keberanianku untuk berhenti menunggu.

Posting Komentar

0 Komentar