Bukittinggi, 31 Januari 2026
Anak Pertama Tidak Pernah Benar-Benar Belajar Mengeluh
Aku sering berpikir, mungkin bukan karena aku kuat, melainkan karena sejak awal aku tidak diberi pilihan untuk lemah. Di rumah, aku belajar membaca suasana sebelum mengutarakan perasaan. Lelahku sendiri sering ditunda agar urusan keluarga tetap berjalan tanpa beban tambahan.
Di tempat kerja, kebiasaan itu ikut terbawa. Aku terbiasa mengiyakan, menahan, dan menyelesaikan. Bekerja tanpa banyak bertanya, lelah tanpa banyak suara—karena sejak lama aku percaya, yang paling bisa diandalkan adalah diriku sendiri.
Dalam relasi, aku sering hadir sebagai pendengar. Menguatkan, memahami, dan memberi ruang. Namun saat giliranku merasa rapuh, aku justru canggung. Tidak tahu harus mengeluh ke mana, dan pada siapa.
Sebagai anak pertama, aku tumbuh dengan satu peran yang pelan-pelan menempel di badan: mengerti lebih dulu, mengalah lebih cepat, dan diam lebih lama. Bukan karena tidak ingin bersuara, tetapi karena terlalu lama diajari bahwa diam adalah bentuk kedewasaan.
Aku belajar membaca situasi sebelum belajar mengenali perasaan sendiri. Aku membiasakan diri peka pada kebutuhan orang lain, sementara kebutuhanku sendiri sering tertunda tanpa sadar. Aku tahu kapan harus hadir, kapan harus mengalah, dan kapan sebaiknya tidak banyak bicara. Bahkan aku menahan tangis sebelum benar-benar memahami apa yang membuatku sedih.
Bercerita terasa berlebihan, seolah emosi hanya sah jika ada alasan yang cukup besar. Maka aku memilih diam, menyimpan luka dengan harapan ia akan sembuh sendiri. Tanggung jawab datang lebih cepat dari yang seharusnya. Aku belajar menyelesaikan, merapikan, dan memastikan segalanya tetap berjalan. Menjadi dewasa di luar, sementara di dalam aku masih belajar menerima bahwa lelah juga perlu tempat.
Mengeluh terasa seperti kemewahan. Bukan karena aku tidak sanggup menanggungnya, tetapi karena ada standar tak tertulis yang terus menekan: aku harus kuat, aku harus bisa, aku tidak boleh merepotkan. Setiap kali ingin bersuara, selalu ada kalimat yang lebih dulu tumbuh di kepala—pelan tapi pasti: "masih ada yang lebih butuh kamu"
Mengeluh tidak pernah benar-benar terasa wajar. Ada rasa bersalah yang muncul lebih dulu, seolah lelah harus selalu disertai alasan yang sah. Aku terbiasa menimbang sebelum berbicara: apakah keluhanku penting, atau hanya akan terdengar berlebihan. Maka banyak hal akhirnya disimpan, bukan karena sudah selesai, melainkan karena tidak jadi diucapkan.
Sebagai anak pertama, rasa bersalah itu tumbuh diam-diam. Bukan dari larangan, melainkan dari kebiasaan untuk selalu mengerti—mengerti keadaan, mengerti orang lain, dan mengerti bahwa tidak semua perasaan perlu dimenangkan. Aku belajar menerima lelah tanpa suara. Belajar tersenyum meski ingin berhenti. Hingga lama-kelamaan, aku sendiri lupa bahwa mengeluh bukan bentuk kegagalan, melainkan tanda bahwa aku masih manusia.
Kebiasaan itu tidak berhenti di masa kecil. Ia tumbuh bersamaku, ikut dewasa tanpa pernah benar-benar dipertanyakan. Aku menjadi seseorang yang sigap membaca keadaan, cepat memahami, dan jarang meminta. Di hadapan orang lain aku terlihat tenang, sementara di dalam aku terbiasa menanggung sendiri.
Aku mudah hadir untuk orang lain, tetapi kerap kikuk saat harus menjelaskan apa yang kurasakan. Aku tahu cara mendengarkan, namun sering bingung ketika diminta berbicara tentang luka sendiri.
Dalam banyak hal, aku bisa bertahan—bekerja, menyelesaikan, dan melanjutkan hidup seperti biasa. Namun aku sering lupa bahwa bertahan bukan satu-satunya bentuk kekuatan. Mungkin inilah dampaknya menjadi anak pertama terlalu lama: aku pandai menahan, tetapi masih belajar bagaimana caranya meminta ditemani.
Kini aku mulai belajar ulang, pelan-pelan. Bukan untuk menjadi lebih rapuh, melainkan untuk berhenti terus-menerus menahan. Aku menyadari bahwa lelah tidak selalu harus dibandingkan, dan perasaan tidak perlu menunggu keadaan menjadi parah agar layak untuk diakui.
Mengeluh ternyata bukan tentang menyerah. Ia hanyalah cara memberi ruang pada diri sendiri agar tidak terus hidup dalam mode bertahan. Sebagai anak pertama, aku mungkin tidak terbiasa meminta. Namun hari ini aku tahu, mengakui lelah bukan berarti gagal. Ia hanya tanda bahwa aku masih belajar menjadi manusia, bukan sekadar kuat.
Aku masih anak pertama. Masih sering menahan, masih terbiasa mengalah. Beberapa kebiasaan tidak hilang begitu saja, dan mungkin memang tidak perlu sepenuhnya pergi. Namun hari ini aku belajar memberi jeda—untuk tidak selalu kuat, untuk tidak selalu mengerti lebih dulu.
Jika suatu hari aku mengeluh, itu bukan karena aku lemah, melainkan karena aku akhirnya jujur. Dan kejujuran itu, pelan-pelan, sedang kupelajari sebagai bentuk berdamai.

0 Komentar