Tentang Perasaan yang Tidak Bisa Dijelaskan
Ini gak tau ya… aku sendiri bingung harus mulai cerita dari mana. Kadang aku mikir mungkin ini cuma perasaan aku aja, mungkin aku terlalu overthinking, terlalu sensitif, atau terlalu banyak mikir sampai akhirnya semua hal terasa negatif di kepala aku. Tapi di sisi lain, aku juga gak bisa bohong kalau akhir-akhir ini aku benar-benar merasa ada sesuatu yang berbeda dari lingkungan sekitar aku. Entah itu cara orang melihat aku, cara mereka berbicara, cara mereka merespons keberadaan aku, atau bahkan cuma suasana yang aku rasakan ketika berada di dekat mereka. Semuanya terasa aneh. Dan jujur, aku capek mencoba memahami apakah ini nyata atau hanya ada di kepala aku sendiri.
Kadang aku bertanya-tanya ke diri sendiri, “Apa aku lagi dirundung aura negatif?” Aku tahu mungkin terdengar berlebihan atau aneh kalau diucapkan keras-keras. Bahkan mungkin ada orang yang bakal menganggap aku terlalu dramatis. Tapi itu benar-benar yang aku rasakan. Aku merasa seperti ada energi yang gak enak mengelilingi aku. Aku gak tahu itu datang dari mana. Aku gak tahu itu nyata atau cuma hasil dari pikiran aku yang terlalu lelah. Yang aku tahu, aku merasakannya.
Perasaan ini aneh. Karena secara logika, aku sadar belum tentu ada orang yang benar-benar marah sama aku. Belum tentu ada orang yang benci aku. Bahkan kalau dipikir secara teknikal, secara bukti nyata, gak ada juga hal besar yang menunjukkan kalau orang-orang itu punya masalah sama aku. Tapi kenapa hati aku tetap merasa gak nyaman? Kenapa aku tetap merasa seperti sedang dicari-cari salahnya? Kenapa aku merasa seperti ada aura dingin, aura kesal, atau aura negatif yang diarahkan ke aku?
Kadang aku mencoba mengabaikannya. Aku bilang ke diri sendiri, “Udahlah, mungkin cuma perasaan.” Tapi semakin aku mencoba mengabaikan, semakin aku sadar kalau rasa itu tetap ada. Bahkan kadang muncul lebih kuat. Dan yang bikin aku makin bingung adalah ketika sebenarnya masalah itu bukan tentang aku. Misalnya ada konflik antara orang lain, ada kesalahan yang dibuat si A, tapi entah kenapa suasana jadi terasa berat ke aku juga. Seolah-olah kemarahan itu berputar dan akhirnya mengenai aku, padahal aku gak melakukan apa-apa.
Paham gak sih rasanya?
Kayak ketika seseorang sebenarnya kecewa sama orang lain, tapi karena mereka gak bisa melampiaskan langsung ke orang itu, akhirnya orang di sekitar yang kena dampaknya. Dan kadang aku merasa aku jadi salah satu orang yang menerima dampak itu. Bukan dimarahi secara langsung. Bukan dibentak. Tapi lebih ke perubahan suasana. Tatapan yang berbeda. Nada bicara yang terasa dingin. Respon yang terasa tidak seperti biasanya. Hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain biasa aja, tapi buat aku terasa besar.
Dan aku benci ketika aku mulai mempertanyakan diri sendiri.
“Aku salah apa?”
“Ada ucapan aku yang menyinggung?”
“Apa aku terlalu banyak ngomong?”
“Apa keberadaan aku mengganggu?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muter di kepala aku sampai aku sendiri lelah. Kadang aku sadar mungkin ini gak sehat. Karena terlalu banyak mikir bikin aku jadi mencurigai banyak hal. Aku jadi membaca terlalu dalam setiap ekspresi orang. Aku jadi mencoba memahami makna di balik setiap nada bicara. Aku jadi takut kalau semua perubahan kecil itu sebenarnya tanda kalau orang-orang mulai gak suka sama aku.
Padahal bisa aja mereka lagi capek.
Bisa aja mereka lagi punya masalah pribadi.
Bisa aja mereka lagi bad mood karena hal lain.
Tapi entah kenapa otak aku selalu membawa semuanya kembali ke diri aku sendiri.
Dan itu melelahkan.
Aku gak tahu kapan tepatnya aku mulai jadi orang yang se-peka ini terhadap suasana. Dulu aku gak begini. Dulu aku bisa santai. Bisa ketawa tanpa mikirin apakah ada orang yang sebenarnya terganggu sama aku atau enggak. Tapi sekarang rasanya beda. Sedikit perubahan aja bisa langsung bikin hati aku gak tenang.
Kadang aku merasa seperti hidup dalam kewaspadaan terus-menerus. Selalu mencoba membaca situasi. Selalu mencoba memastikan apakah orang di sekitar masih nyaman sama aku atau enggak. Dan jujur, itu capek banget.
Karena aku jadi gak pernah benar-benar tenang.
Aku jadi terlalu fokus sama energi orang lain sampai lupa menjaga diri sendiri.
Dan lucunya, semakin aku mencoba memahami orang lain, semakin aku kehilangan ketenangan aku sendiri.
Aku tahu ada kemungkinan semua ini cuma berasal dari pikiran aku yang terlalu penuh. Aku sadar overthinking bisa membuat sesuatu yang kecil terasa besar. Aku sadar ketika hati sedang sensitif, semuanya bisa terasa menyerang. Bahkan hal-hal yang sebenarnya netral bisa terasa negatif. Dan mungkin memang itu yang sedang terjadi ke aku sekarang.
Tapi tetap aja… perasaannya nyata.
Rasa gak nyaman itu nyata.
Rasa takut dijauhi itu nyata.
Rasa seperti sedang tidak disukai itu nyata.
Walaupun aku gak punya bukti yang benar-benar jelas.
Kadang aku berharap ada seseorang yang benar-benar ngerti apa yang aku rasakan tanpa aku harus menjelaskan panjang lebar. Karena jujur, susah menjelaskan hal seperti ini. Susah menjelaskan kenapa aku bisa merasa suasana berubah padahal gak ada kejadian besar. Susah menjelaskan kenapa aku bisa merasa ada aura negatif tanpa bisa menunjukkan bukti fisiknya.
Dan mungkin itu kenapa aku jadi ragu sendiri sama perasaan aku
Karena aku takut dianggap terlalu sensitif.
Terlalu baper.
Terlalu berprasangka buruk.
Padahal aku sendiri juga gak mau punya pikiran seperti ini.
Aku juga pengen hidup tenang.
Aku juga pengen bisa santai tanpa mikirin tatapan orang.
Aku juga pengen berhenti merasa dicari-cari salahnya.
Tapi pikiran itu datang sendiri.
Kadang tanpa diundang.
Dan semakin malam, biasanya semakin kuat.
Aku mulai mengingat kembali interaksi-interaksi kecil yang terjadi sepanjang hari. Cara seseorang menjawab chat aku. Cara mereka menatap aku. Cara mereka merespons candaan aku. Semua diputar ulang di kepala aku seperti film yang gak selesai-selesai. Dan aku mulai mencari kemungkinan-kemungkinan buruk dari semuanya.
“Apa dia kesal ya?”
“Apa tadi aku salah ngomong?”
“Apa mereka sebenarnya terganggu sama aku?”
Dan akhirnya aku malah menyiksa diri sendiri dengan asumsi-asumsi yang bahkan belum tentu benar.
Aku sadar ini gak baik.
Aku sadar kalau terus seperti ini, aku bisa tenggelam dalam pikiran aku sendiri.
Tapi kadang susah menghentikannya.
Karena ketika hati lagi sensitif, semua terasa lebih tajam.
Bahkan diamnya orang bisa terasa seperti penolakan.
Nada datar bisa terasa seperti kebencian.
Ekspresi biasa bisa terasa seperti kekesalan.
Dan aku gak tahu bagaimana cara membedakan mana intuisi dan mana overthinking.
Karena jujur, kadang perasaan aku benar.
Kadang memang ada sesuatu yang gak beres.
Kadang memang ada orang yang ternyata menyimpan rasa kesal.
Dan mungkin karena beberapa pengalaman itu, sekarang aku jadi lebih waspada terhadap perubahan suasana sekecil apa pun.
Aku jadi takut mengabaikan perasaan aku sendiri.
Tapi di sisi lain, aku juga takut kalau sebenarnya aku cuma sedang terlalu larut dalam pikiran negatif.
Aku berada di tengah-tengah dua kemungkinan itu.
Dan keduanya sama-sama melelahkan.
Aku pernah mencoba bersikap biasa aja. Aku mencoba tetap ramah, tetap santai, tetap ngobrol seperti biasa. Tapi di dalam hati, aku terus bertanya-tanya apakah semua itu tulus atau cuma formalitas. Apakah orang-orang benar-benar nyaman sama aku atau sebenarnya mereka cuma bersikap baik karena gak enak hati.
Lagi-lagi aku terlalu banyak berpikir.
Aku tahu.
Tapi kalau kalian ada di posisi aku, mungkin kalian juga akan merasa lelah. Karena hidup dengan pikiran yang terus mempertanyakan semuanya itu capek.
Capek banget.
Kadang aku iri sama orang-orang yang bisa cuek.
Yang gak terlalu peduli dengan suasana.
Yang gak terlalu memikirkan omongan atau ekspresi orang lain.
Aku pengen bisa seperti itu.
Tapi aku gak bisa.
Aku terlalu peka.
Terlalu mudah menangkap perubahan kecil.
Dan terkadang kepekaan itu malah menjadi beban.
Aku jadi sulit merasa aman di lingkungan sendiri.
Sulit merasa benar-benar diterima.
Sulit merasa tenang.
Ada hari-hari di mana aku baik-baik aja. Aku bisa ketawa, bercanda, dan menjalani hari tanpa terlalu banyak berpikir. Tapi ada juga hari-hari seperti sekarang, di mana hati aku terasa berat tanpa alasan yang jelas. Aku merasa seperti ada sesuatu yang menekan dada aku. Seperti ada suasana yang gak nyaman mengelilingi aku, walaupun semua terlihat normal dari luar.
Dan saat seperti itu datang, aku mulai menarik diri.
Aku jadi lebih diam.
Lebih banyak mengamati.
Lebih banyak menyimpan semuanya sendiri.
Karena aku takut kalau aku cerita, orang malah menganggap aku aneh.
Padahal sebenarnya aku cuma lagi berusaha memahami apa yang terjadi di dalam diri aku sendiri.
Aku gak tahu apakah ini fase sementara atau memang bagian dari diri aku yang harus aku hadapi. Aku gak tahu apakah aku harus lebih percaya sama perasaan aku atau justru belajar untuk gak terlalu memikirkan semuanya. Aku benar-benar gak tahu.
Yang aku tahu, akhir-akhir ini hati aku lelah.
Lelah merasa gak tenang.
Lelah merasa seperti harus selalu waspada.
Lelah memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk.
Lelah mencoba membaca pikiran orang lain.
Dan mungkin… aku cuma ingin merasa aman lagi.
Aku cuma ingin berada di lingkungan tanpa harus terus bertanya-tanya apakah aku diterima atau tidak.
Aku cuma ingin berhenti merasa seperti sedang membawa aura negatif ke mana-mana.
Karena jujur, kadang aku takut kalau energi negatif itu malah datang dari diri aku sendiri. Takut kalau pikiran buruk aku perlahan mempengaruhi cara aku melihat dunia. Takut kalau sebenarnya orang-orang biasa aja, tapi aku yang terlalu tenggelam dalam keresahan sendiri.
Dan itu bikin aku sedih.
Karena aku gak mau menjadi orang yang selalu curiga.
Aku gak mau menjadi orang yang selalu merasa dibenci.
Aku gak mau hidup dengan ketakutan seperti ini terus.
Aku ingin tenang.
Aku ingin damai sama pikiran aku sendiri.
Aku ingin bisa menjalani hari tanpa merasa setiap suasana buruk pasti ada hubungannya dengan aku.
Tapi untuk sekarang, aku masih belajar.
Belajar membedakan mana kenyataan dan mana ketakutan.
Belajar memahami bahwa tidak semua perubahan sikap orang berarti kebencian.
Belajar menerima bahwa gak semua hal harus aku pikirkan terlalu dalam.
Dan yang paling susah… belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri atas semua hal yang terjadi di sekitar aku.
Karena mungkin memang ada hal-hal yang bukan tanggung jawab aku.
Mungkin memang ada emosi orang lain yang bukan beban aku untuk dipikul.
Mungkin ada masalah yang bukan tentang aku, walaupun aku ikut merasakan dampaknya.
Dan mungkin… aku cuma sedang terlalu lelah secara emosional sampai semuanya terasa lebih berat dari biasanya.
Aku gak tahu kapan perasaan ini akan hilang.
Aku gak tahu kapan aku bisa benar-benar tenang lagi.
Tapi satu hal yang aku tahu, aku cuma manusia biasa yang juga bisa capek, bisa takut, bisa overthinking, dan bisa merasa gak baik-baik aja.
Dan mungkin tulisan ini cuma cara aku untuk mengeluarkan semua isi kepala yang selama ini muter tanpa henti di dalam pikiran aku.
Aku tak pandai bicara, maka kutulis. Setidaknya, tulisan ini mengerti aku tanpa perlu dijelaskan

0 Komentar